• Rabu, 04 Februari 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Kepala Disdag Samarinda, Nurahmani.(Foto: Abi/KutaiRaya)


SAMARINDA, (KutaiRaya.com) : Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Samarinda memastikan, ketersediaan bahan pokok penting (bapokting) menjelang Bulan Suci Ramadhan dalam kondisi aman, meski sebagian besar kebutuhan pangan kota ini masih bergantung pada pasokan dari luar daerah.

Ketergantungan Samarinda terhadap pasokan pangan dari luar daerah menjadi tantangan tersendiri, terutama menjelang Ramadhan ketika permintaan masyarakat cenderung meningkat. Kondisi tersebut berpotensi memicu fluktuasi harga dan gangguan distribusi, sehingga pengawasan stok dan kelancaran pasokan menjadi faktor krusial untuk menjaga stabilitas harga bahan pokok di pasaran.

Kepala Disdag Samarinda, Nurahmani mengakui, Samarinda bukan daerah produsen, sehingga hampir seluruh komoditas strategis didatangkan dari wilayah lain. Salah satu yang menjadi perhatian utama setiap Ramadhan adalah cabai.

“Samarinda ini bukan daerah penghasil. Hampir semuanya kita datangkan dari luar, terutama cabai yang biasanya dari Sulawesi dan beberapa daerah lainnya,” ujarnya.

Menurutnya, kenaikan harga menjelang Ramadhan kerap dipicu oleh dua faktor utama, yakni meningkatnya permintaan masyarakat dan terbatasnya pasokan dari daerah produsen akibat faktor musim.

“Kalau puasa, permintaan pasti naik. Di sisi lain, di daerah produsen juga kadang sedang tidak panen maksimal. Itu yang biasanya membuat harga ikut terdorong,” jelasnya.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Disdag Samarinda terus menjalin komunikasi intensif dengan para distributor. Selain memastikan distribusi tetap lancar, Pemerintah juga menyiapkan langkah intervensi melalui operasi pasar.

“Kami selalu berkoordinasi dengan distributor. Selain itu, kami juga menyiapkan operasi pasar. Harganya kita bantu, bisa dengan subsidi atau dijual mendekati harga pokok,” katanya.

Ia menegaskan, fokus utama Pemerintah bukan menekan harga secara ekstrem, melainkan memastikan ketersediaan barang di pasaran tetap terjaga.

“Kalau harga naik itu wajar karena hukum permintaan dan penawaran. Tapi yang penting jangan sampai kosong. Stok harus ada,” tegasnya.

Selain distributor, Disdag juga berkoordinasi dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Dinas Pertanian untuk memaksimalkan peran petani lokal agar pasokan tidak sepenuhnya bergantung dari luar daerah.

“Kami minta supaya produksi lokal yang ada tetap masuk ke pasar Samarinda, dan tidak seluruhnya dialihkan ke luar,” ujarnya.

Terkait pelaksanaan operasi pasar, Nurahmani menyebut, kegiatan tersebut akan digelar di pasar-pasar tradisional, serta menjangkau tingkat kecamatan. Biasanya, operasi pasar dilakukan dua kali di masing-masing kecamatan menjelang Lebaran.

“Biasanya kami lakukan di 10 kecamatan, dua kali menjelang Lebaran. Waktunya sekitar pertengahan Ramadhan, atau satu hingga dua minggu sebelum Lebaran,” jelasnya.

Ia tidak menutup kemungkinan frekuensi operasi pasar ditambah, apabila kondisi harga dan pasokan di lapangan dinilai membutuhkan intervensi lebih lanjut.

“Kalau situasi memungkinkan, bisa saja dua kali atau lebih. Tahun lalu bahkan sempat direncanakan sampai tiga kali, dengan komoditas yang berbeda-beda,” tutupnya. (*Abi)



Pasang Iklan
Top