• Sabtu, 07 Maret 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Kepala Distanak Kukar Muhammad Taufik.(Foto: Andri Wahyudi/Kutairaya)


TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Realisasi luas tanam jagung di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) masih jauh di bawah target yang ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).

Dari target 30 ribu hektare dalam 5 tahun, capaian hingga kini baru berkisar di angka 30 persen.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar, Muhammad Taufik mengatakan, target tersebut sejak awal dinilai kurang realistis jika dibandingkan dengan data historis luas tanam jagung di Kukar.

“Kalau melihat sejarahnya, luas tanam jagung di Kukar itu tidak pernah lebih dari 3.000 hektare. Paling tinggi sekitar 3 ribuan hektare. Jadi saya juga tidak tahu kenapa targetnya bisa sampai 30 ribu hektare dalam 5 tahun,” ujar Taufik, Rabu (21/1/2026).

Ia menjelaskan, rata-rata realisasi tanam jagung per tahun hanya berkisar 1.500 hingga 3.000 hektare.

Dengan capaian tersebut, target 6.000 hektare per tahun dinilai sulit terealisasi, sehingga secara kumulatif dalam 5 tahun hanya mencapai sekitar 30 persen dari target RPJMD.

Menurut Taufik, kendala utama pengembangan jagung di Kukar adalah karakteristik petani yang bersifat polikultur.

Mayoritas petani tidak hanya menanam jagung, tetapi juga padi, hortikultura, serta beternak, sehingga fokus pada jagung masih terbatas.

Selain itu, tipologi lahan di Kukar juga menjadi tantangan tersendiri.

Kondisi geografis yang berbukit dan tidak merata berbeda dengan daerah sentra jagung, seperti NTB, Sulawesi, atau Bali yang memiliki hamparan lahan kering luas dan relatif datar.

“Dari sisi program dan pendanaan sebenarnya tidak ada masalah. Dari pusat, bibit siap di- backup. Bahkan beberapa tahun terakhir kami lengkapi dengan pupuk dan herbisida untuk menarik minat petani,” tuturnya.

Kendati demikian, minat petani menanam jagung dinilai masih fluktuatif.

Di beberapa wilayah, seperti Marangkayu, Makarti, dan Saka Makmur, luas tanam jagung justru mengalami penurunan.

Upaya investasi swasta yang pernah difasilitasi pemerintah daerahpun belum membuahkan hasil signifikan.

Salah satu perusahaan yang sempat memperoleh izin pengelolaan sekitar 5.000 hektare lahan di wilayah Kota Bangun Darat hanya mampu merealisasikan demplot seluas sekitar 3–5 hektare.

Kendala utama yang dihadapi adalah kesulitan pembebasan lahan karena sebagian besar lahan telah dikuasai masyarakat secara perorangan dan bersertifikat.

Dari sisi pasar, Taufik menilai jagung Kukar kurang kompetitif dibandingkan daerah penghasil jagung lainnya.

Harga jagung di Kukar berkisar Rp 5.000 per kilogram, sementara di daerah lain biaya produksi lebih rendah sehingga harga jual lebih bersaing.

“Kalau hanya dibeli Rp 5.000, petani Kukar kasihan. Pasarnya pun masih terbatas di pasar tradisional, hanya sedikit yang masuk ke pabrikan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Saka Makmur, Lakir Prawoto mengemukakan, penurunan luas lahan jagung hampir terjadi di seluruh kecamatan di Kukar, termasuk di Kecamatan Tenggarong.

Menurut Lakir, minimnya regenerasi petani menjadi faktor utama.

Banyak petani berusia di atas 60 tahun sudah tidak aktif lagi, sementara generasi muda enggan melanjutkan usaha pertanian.

Selain itu, alih fungsi lahan ke sektor tambang dan penggunaan nonpertanian juga mempercepat penurunan luas tanam jagung.

“Penurunan lahan jagung di Kukar sangat terasa. Penyebab utamanya karena tidak ada regenerasi petani. Banyak yang sudah lanjut usia tidak lagi aktif, anak-anaknya tidak mau melanjutkan, dan ada juga lahan yang beralih fungsi, bahkan terdampak tambang,” ucapnya. (Dri)



Pasang Iklan
Top