• Jum'at, 18 September 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Anggota dari Sanggar Tari Bangen Tawai.(Foto: Dok. Pokdarwis)


TENGGARONG, (KutaiRaya.com) : Desa Sungai Bawang, Kecamatan Muara Badak, Kukar, dikenal sebagai salah satu desa yang kaya akan budaya, tradisi dan kesenian Dayak Kenyah.

Budaya tersebut ada sejak zaman dulu dan diwariskan turun-temurun hingga kini. Salah satu wujud pelestarian budaya itu telah berdirinya Sanggar Tari Bangen Tawai.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Sungai Bawang, Kahang Laway menjelaskan, seni tari dan ritual adat di Sungai Bawang sudah ada sejak lama.

"Kalau berbicara tradisi budaya dan seni tari di Sungai Bawang, itu sudah turun-temurun dari nenek moyang kita. Sanggar tari ini sebenarnya dibentuk sebagai wadah resmi, sekaligus memenuhi kebutuhan administrasi dan pengembangan budaya yang didukung oleh pemerintah daerah," ujar Kahang pada Kutairaya.com saat dihubungi, Rabu (21/1/2026).

Komunitas ini hadir untuk mengembangkan, dan memperkenalkan seni budaya lawas kepada anak muda. Tradisi dan ritual adat yang dulunya dilakukan secara sakral, kini dikemas dalam bentuk seni tari tanpa menghilangkan maknanya.

Contohnya beberapa ritual adat yang menjadi seni tari, seperti ritual Lemiwa, dan ritual Sako Anak.

"Dari tarian itu nanti anak cucu kita bisa tau, oh ternyata tarian ini berasal dari ritual adat zaman dulu. Jadi seni tari menjadi media pengenalan sejarah dan budaya," jelasnya.

Untuk nama Bangen Tawai sendiri berasal dari bahasa Dayak Kenyah yang berarti sukacita ,kebersamaan. Nama ini dipilih sebagai semangat kebersamaan dan dukungan bagi para pelaku seni budaya di Desa Sungai Bawang.

Saat ini, Sanggar Tari Bangen Tawai memiliki anggota aktif sekitar 80 hingga 120 orang, yang terdiri dari anak-anak, remaja, pemuda, hingga orang tua.

Mereka menampilkan berbagai tarian Dayak Kenyah, dengan jumlah tarian yang dimiliki sekitar 4 hingga 8 tarian utama, seperti tari Datun Julut, tari perang, dan tarian tradisional lainnya.

"Kami sangat berharap adanya dukungan lebih dari pemerintah daerah, terutama dalam penyediaan atribut, pakaian adat, alat musik, dan perlengkapan seni lainnya. Karena dengan jumlah anggota yang cukup banyak, kebutuhan kami juga besar," pungkasnya. (*zar)



Pasang Iklan
Top