
Kabid Bina Marga, Dinas PU Kukar Linda Juniarti.(Foto: Andri Wahyudi/Kutairaya)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kutai Kartanegara (Kukar) hingga kini masih memfokuskan pembangunan Jembatan Sebulu pada pengerjaan jalan pendekat.
Sementara itu, pembangunan bentang tengah jembatan belum dapat dimulai karena masih menunggu pemenuhan persyaratan teknis, terutama hasil pengeboran tanah di lokasi pilar sungai.
Kepala Bidang Bina Marga Dinas PU Kukar, Linda Juniarti menjelaskan, berdasarkan perencanaan tahun 2023, anggaran pembangunan fisik jembatan bentang tengah diperkirakan mencapai Rp 460 miliar hingga Rp 480 miliar.
Anggaran tersebut belum termasuk biaya pengawasan, tenaga ahli, dan administrasi proyek.
“Untuk bentang tengah sendiri, sampai saat ini belum kita sentuh sama sekali. Yang sedang kita kerjakan adalah jalan pendekatnya,” ujar Linda, Selasa (30/1/2026).
Ia menyebutkan, total kebutuhan anggaran proyek Jembatan Sebulu, termasuk jalan pendekat, mencapai hampir Rp 900 miliar.
Jalan pendekat tersebut meliputi beberapa segmen dengan panjang bervariasi, mulai dari ratusan meter hingga sekitar 1,5 kilometer.
Menurut Linda, salah satu kendala utama dimulainya pembangunan bentang tengah adalah belum terpenuhinya persyaratan Komisi Keselamatan Jembatan dan Terowongan Jalan (KKJTJ) di bawah Balai Jembatan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
Salah satu syarat utama adalah hasil pengeboran tanah (boring) pada titik koordinat pilar jembatan di sungai.
“KKJTJ mensyaratkan hasil pengeboran tanah hingga kedalaman sekitar 60 meter di lokasi pemancangan pilar. Ini membutuhkan peralatan khusus dan tidak semua penyedia jasa memiliki alat tersebut,” tuturnya.
Dinas PU Kukar telah berkoordinasi dengan Balai Jembatan sejak Desember 2025.
Hasilnya, kegiatan pengeboran tanah dianggarkan pada tahun 2026.
Data hasil pengeboran nantinya akan dibahas kembali bersama KKJTJ sebagai dasar persetujuan desain layak fungsi.
Terkait progres pekerjaan, Linda menyampaikan pada tahun 2024 realisasi anggaran mencapai sekitar Rp 160 miliar, sedangkan pada tahun 2025 sebesar Rp 143 miliar.
Total realisasi tahap awal pembangunan mencapai sekitar Rp 200 miliar.
“Masih ada sekitar 300 meter jalan pendekat di sisi sebelum kawasan Modern yang belum dibangun karena lahan belum bebas. Selain itu, terdapat empat bentang yang belum terpasang girder,” ucapnya.
Untuk tahun anggaran 2026, pembangunan jembatan hanya dialokasikan satu bentang dengan nilai sekitar Rp 8,6 miliar.
Anggaran tersebut digunakan untuk pemasangan girder, pengecoran lantai, trotoar, serta railing yang sebelumnya belum tertutup beton, serta pengeboran tanah di sisi sungai.
“Kami mengupayakan setiap tahun tetap ada progres, meskipun anggaran terbatas,” katanya.
Sementara itu, Camat Sebulu, Edy Fachruddin, berharap pembangunan Jembatan Sebulu dapat segera diselesaikan agar masyarakat dapat menikmati akses jalan yang lebih cepat dan efisien menuju Kota Tenggarong.
“Jembatan ini sangat dibutuhkan masyarakat, terutama untuk mempercepat mobilitas dan mendukung aktivitas ekonomi warga Sebulu,” ujarnya. (Dri)