
Atlet BMX Kukar latihan rutin di Lahan Stadion Aji Imbut.(Foto:BMX Kukar)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com) : Minimnya minat masyarakat dan terbatasnya dukungan dari pemerintah daerah, cabang olahraga BMX di Kutai Kartanegara (Kukar) masih bertahan.
Dengan segala keterbatasan, para pelatih dan atlet tetap berusaha menjaga eksistensi BMX Kukar agar tidak hilang begitu saja.
Pelatih BMX Kukar, Ari Marley mengaku, perkembangan BMX di Kukar berjalan cukup lambat. Hal itu disebabkan kurangnya minat masyarakat terhadap olahraga BMX.
"Kalau di Kukar ini, mohon maaf saja, perkembangannya memang lambat. Minat masyarakat ke BMX masih kurang. Kebanyakan sekarang ke road bike," ujar Ari pada Kutairaya.com, Kamis (25/12/2025).
Ia menjelaskan, event BMX di Kukar juga sudah sangat jarang digelar bahkan tidak ada. Beberapa tahun lalu sempat ada beberapa kejuaraan, namun pesertanya diisi oleh pemain lama. Sementara generasi baru yang ikut masih sangat sedikit.
"Kalau ada event, yang ikut itu-itu saja, pemain lama. Anak-anak baru paling cuma beberapa orang, jadi kurang ramai. Apalagi sekarang event lebih banyak di luar daerah," katanya.
Kondisi anggaran juga menjadi kendala besar. Ia mengatakan, hampir seluruh kegiatan BMX Kukar dijalankan dengan dana pribadi dan sponsor.
"Jujur saja, kalau kami ikut event di luar, itu kebanyakan pakai dana sendiri dan sponsor. BMX ini seperti dipandang sebelah mata, kurang diperhatikan," imbuhnya.
Saat ini, BMX Kukar berada di bawah naungan KORMI. Namun ia menyebutkan, dukungan dari KORMI juga sudah lama tidak berjalan optimal.
"Sudah hampir dua tahun ini bisa dibilang mati total untuk event BMX di sini," sebutnya.
Meski begitu, beberapa atlet muda masih semangat. Beberapa anak asuhnya bahkan berhasil meraih prestasi. Dua atlet BMX Kukar baru-baru ini meraih dua medali emas dan satu perak di ajang BK Porprov melalui ISSI Kukar.
Untuk jumlah anggota, komunitas BMX Kukar secara keseluruhan berjumlah sekitar 30 orang. Namun yang aktif berlatih BMX cross hanya sekitar 8 atlet. Latihan rutin dilakukan di area Stadion Aji Imbut, Seberang.
"Kami ini fokus di BMX cross. Latihan hampir setiap sore, tapi kalau hujan ya susah karena lintasannya tanah," tuturnya.
Ia juga menyoroti kurangnya perhatian pemerintah daerah terhadap BMX. Ia mengenang beberapa tahun lalu masih ada dukungan berupa event yang bisa menarik minat generasi baru.
"Dulu masih enak, ada event untuk mancing anak-anak biar tertarik. Sekarang sudah tidak ada," tambahnya.
Saat ini, BMX Kukar hanya memiliki satu pelatih bersertifikat. Kondisi ini tentu menjadi tantangan tersendiri dalam pembinaan atlet.
Ia berharap, untuk pemerintah daerah bisa kembali memberikan perhatian, khususnya dalam penyediaan fasilitas. Saat ini, lintasan BMX yang digunakan hanya mini track dengan panjang sekitar 250-300 meter, dibangun secara swadaya oleh komunitas.
"Track kami ini kecil. Kalau anak-anak main ke Jawa, track di sana 400 sampai 500 meter, jumpingnya juga bagus. Mudah-mudahan pemerintah bisa bantu bikin track yang layak. Biar anak-anak semangat latihan dan kalau main ke luar daerah nggak kaget karena beda arena," tukasnya. (*zar)