Oleh: Ahmad Zainuddin/Ketua DPD PKS Kutia Kartanegara
SETIAP kali Hari Ibu diperingati, ruang publik dipenuhi ucapan terima kasih dan potret kebahagiaan. Namun, ada satu pertanyaan yang layak diajukan: apakah penghormatan kepada ibu cukup dirayakan setahun sekali? Dalam perspektif Islam, jawabannya jelas: tidak.
Islam sejak awal telah meletakkan ibu pada posisi istimewa, bahkan jauh sebelum istilah "Hari Ibu" dikenal. Al-Qur’an tidak berbicara tentang ibu sebagai simbol seremonial, melainkan sebagai poros pengorbanan manusia. Allah menyebut secara khusus kelelahan ibu dalam mengandung dan menyusui:
وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ
(QS. Luqman: 14)
Ayat ini menunjukkan bahwa kemuliaan ibu bukan lahir dari budaya, melainkan dari realitas biologis dan emosional yang tidak tergantikan. Maka wajar jika Islam tidak menempatkan ibu sejajar dengan siapa pun dalam urusan bakti.
Pendapat ini dikuatkan oleh sabda Nabi Muhammad SAW. ketika beliau menempatkan ibu tiga kali lebih utama dibanding ayah dalam jawaban singkat, tegas, dan berulang (HR. Bukhari dan Muslim). Ini bukan hiperbola, melainkan penegasan bahwa kontribusi ibu dalam kehidupan manusia bersifat total fisik, psikologis, dan spiritual.
Namun ironisnya, di tengah maraknya perayaan Hari Ibu, justru masih banyak ibu yang kesepian di usia senja. Ada yang hidup bersama anak, tetapi tidak ditemani. Ada pula yang disebut namanya dalam status media sosial, tetapi dilupakan dalam kehidupan nyata. Inilah paradoks modern: ibu dirayakan, tetapi tidak selalu dirawat.
Islam memandang bakti kepada ibu bukan sebagai ekspresi emosional sesaat, melainkan komitmen jangka panjang. Bahkan, Al-Qur’an menurunkan standar etika yang sangat detail: bukan hanya dilarang membentak, tetapi sekadar berkata “ah” pun tidak dibenarkan (QS. Al-Isra’: 23). Artinya, rasa hormat kepada ibu diuji dalam hal-hal kecil, bukan hanya pada momen besar.
Kisah Uwais Al-Qarni memperlihatkan hal ini secara nyata. Ia bukan sahabat Nabi, tidak dikenal karena keilmuan atau kepemimpinan, tetapi namanya harum di langit karena baktinya kepada seorang ibu renta. Ia menggendong ibunya berjalan jauh demi memenuhi keinginannya berhaji, meski harus mengorbankan mimpinya bertemu Rasulullah SAW. Ironisnya, justru pengorbanan itulah yang membuat Nabi menyebut namanya dengan penuh penghormatan (HR. Muslim).
Dari sini tampak bahwa dalam Islam, kedekatan dengan ibu sering kali lebih menentukan kemuliaan seseorang dibanding kedekatan simbolik dengan tokoh besar. Surga tidak dijanjikan melalui slogan, tetapi melalui kesabaran, pelayanan, dan kerendahan hati di hadapan ibu.
Maka, Hari Ibu seharusnya tidak berhenti pada bunga dan ucapan. Ia perlu menjadi cermin evaluasi: apakah kita masih menyisakan waktu untuk mendengar cerita ibu yang berulang-ulang, menahan emosi ketika ia mulai pikun, dan tetap lembut saat ia tak lagi sekuat dulu?
Islam tidak menolak peringatan Hari Ibu, tetapi melampauinya. Dalam Islam, setiap hari adalah kesempatan berbakti, dan setiap sikap kepada ibu adalah penentu arah akhirat.
Karena sejatinya, ibu tidak menuntut perayaan, ia hanya berharap tidak dilupakan. ((*))