• Sabtu, 07 Maret 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Banjir di sejumlah wilayah Samarinda yang terus tergenang. Rabu (03/12/2025).(Foto: Abi/KutaiRaya)


SAMARINDA, (KutaiRaya.com) : Banjir, longsor hingga kebakaran hutan perlu diwaspadai warga Kalimantan Timur (Kaltim) ditengah kondisi cuaca tak menentu. Pasalnya, tiga tahun belakangan ini Kaltim didominasi bencana tersebut.

Beberapa hari bahkan minggu terakhir, Kaltim di landa hujan deras tak menentu. Banjir menjadi bencana yang terus menghantui Kaltim.

Disisi lain, berdasarkan Kajian Resiko Bencana (KRB) BPBD Kaltim mulai dari 2022 hingga 2026, seluas 2 juta hektar lebih wilayah Kaltim termasuk area rawan bencana.

Hal ini bukan tanpa kajian, BPBD Kaltim sendiri tercatat telah melakukan kajian yang menjadi pedoman utama proses mitigasi bencana.

"Kita telah mengarah pada antisipasi di tahun 2026 mendatang. Dokumen KRB yang telah dikaji ini nantinya akan menjadi pedoman penting yang digunakan untuk melakukan proses pengusunan mitigasi bencana," ungkap Analis Kebujakan Ahli Muda BPBD Kaltim, Sugeng Piyanto.

Diketahui, seluas 2,8 juta hektar menjadi wilayah yang berbasis resiko terjadinya bencana banjir. 1,5 juta hektarnya, masuk dalam kategori berbahaya tinggi terjadi banjir.

Tidak hanya berkaitan soal sektor kegiatan ekstraktif, banjir di Kaltim juga turut dipengaruhi oleh curah hujan tinggi di wilayah Kaltim.

"Salah satunya curah hujan, tapi juga tata ruang yang mungkin perlu dibenahi," ujarnya.

Lebih jelasnya, Sugeng mengungkapkan, bahwa sektor kemampuan drainase menjadi faktor penting dalam solusi penanganan banjir. Meskipun, dirinya memahami, bahwa tata ruang juga turut ambil andil penting dalam proses penanganannya.

Tidak hanya banjir, longsor turut menjadi biang bencana di Kaltim. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa Kaltim memiliki segudang perusahaan ekstraktif yang menjamur di berbagai wilayah. Salah satunya Kutai Timur.

KRB sendiri mencatat, bahwa Kabupaten Kutai Timur sendiri memiliki area rawan longsor seluas 700 ribu lebih hektar lahan yang rawan terjadi longsor.

Hal ini perlu menjadi perhatian serius, jika sewaktu-waktu curah hujan meningkat dibarengi dengan potensi longsor.

"Kedua ini longsor, kalau curah hujan tinggi, potensi longsor itu bisa terjadi. Kita perlu melakukan mitigasi dan rencana kedepan yang betul-betul mampu untuk diantisipasi," katanya.

Menurutnya, edukasi kepada publik Kaltim perlu dilakukan dengan masif, sebagai langkah dini dalam mengantisipasi resiko korban jiwa akibat longsor. Selain itu, kata Sugeng, akan mampu memberikan edukasi terhadap pembangunan rumah atau bangunan masyarakat di daerah lereng.

Beralih ke musim kemarau. Jika kemarau datang, kebakaran hutan menjadi hantu bencana yang perlu diantisipasi. Tercatat daerah dengan luas 300 ribu lebih hektar lahan yang memiliki potensi tinggi dan berbahaya terhadap kebakaran hutan ialah Kab. Kutai Kartanegara.

Dirinya menggarisbawahi pada lahan yang bertekstur gambut. Menurutnya, proses pemadaman api, jika berada di lahan gambut akan memakan waktu banyak dan sangat sulit untuk di padamkan.

"Kalau lahan gambut, itu akan susah. Karena menjalarnya api itu juga melalui bawah tanah," ungkapnya.

Untuk itu, dirinya akan merencanakan agar proses sosialisasi, patroli rutin hingga pemantauan titik panas terus dilakukan. Tujuannya hanya satu, memastikan agar potensi kebakaran hutan atau lahan dapat diantisipasi secepat mungkin.

Untuk itu, dirinya dan seluruh BPBD Kaltim akan terus memantau dan mengembangkan strategi mitigasi bencana, guna mengantisipasi terjadinya bencana sedini mungkin. (*Abi)



Pasang Iklan
Top