• Jum'at, 01 Mei 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



‎Kepala Bidang Pemadaman dan Penyelamatan Disdamkar Kota Samarinda, Ahmad Supriyanto. Kamis (20/11/2025).(Foto: Abi/KutaiRaya)


‎SAMARINDA, (KutaiRaya.com) : Menghadapi sisa tahun 2025, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkar) Kota Samarinda berfokus pada penguatan rencana kontinjensi (keadaan darurat atau potensi bencana yang mungkin terjadi, tetapi belum tentu pasti akan terjadi), seperti bencana kebakaran yang terjadi. Hal itu menjadi strategi utama dalam menghadapi potensial kebencanaan menjelang akhir tahun.

‎Hal tersebut diungkapkan oleh Kabid Pemadaman dan Penyelamatan Disdamkar Samarinda Ahmad Supriyanto kepada KutaiRaya.com, kamis (20/11/2025).

Ia menekankan, ketidakterdugaan segala bentuk bencana seperti kebakaran, banjir maupun longsor yang ada di Kota Samarinda menjadi alasan utama pentingnya skema kontinjensi yang terukur dan siap dijalankan kapan saja.

‎Supriyanto menegaskan, pada dasarnya prinsip kontinjensi di Damkar tidak hanya berbicara tentang kesiapan personel, tetapi juga perencanaan terpadu yang memungkinkan respons cepat dalam kondisi kritis.

‎"Bencana tidak bisa diprediksi. Karena itu pola kerja kita berbasis kontinjensi. Petugas harus selalu siap 24 jam, dalam cuaca apa pun," ujarnya.

‎Ia menekankan, bahwa kontinjensi juga mencakup kemampuan tim dalam evakuasi, penyelamatan, hingga penanganan dampak lanjutan.

‎Sebagai bagian dari strategi tersebut, ia menyebut, Samarinda kini telah memenuhi standar posko sektoral sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 16 Tahun 2020 (Permendagri 16/2020) yang menyebut terdapat ketentuan tentang pembentukan pos sektor pemadam kebakaran, dimana pada Pasal 9 ayat (2) menyebut bahwa wilayah manajemen kebakaran mengikuti wilayah administrasi kecamatan.

‎Berdasarkan itu, ia menjelaskan, dari 10 kecamatan, terdapat 11 posko pemadam yang berfungsi sebagai titik reaksi cepat ketika skenario darurat terjadi. Meski rencana penambahan unit pemadam sempat diajukan, namun karena adanya penyesuaian anggaran dari pemerintah pusat membuat Damkar mengoptimalkan sumber daya yang sudah ada sebelumnya.

‎"Fasilitas kita sudah memadai untuk penanganan tingkat kota. Yang penting adalah optimalisasi dalam struktur kontinjensinya saja," kata Supriyanto.

‎Penerapan kontinjensi ini menjadi semakin penting setelah rangkaian kebakaran secara berulang yang melanda Samarinda sejak Agustus hingga Oktober 2025. Berdasarkan informasi yang diperoleh, pada bulan Agustus kebakaran terjadi hampir setiap pekan mulai dari insiden di Sambutan pada 4 Agustus, kebakaran besar di Harapan Baru pada 9 Agustus yang menghanguskan 10 rumah dan satu gudang arsip, hingga kebakaran tiga kios di Pasar Segiri pada 10 Agustus.

‎Pada 20 Agustus, dua kebakaran dalam satu hari kembali menguji respons Damkar, termasuk insiden di Jalan Delima yang sempat menimbulkan kericuhan dengan relawan. Puncaknya terjadi pada 26 Agustus ketika kebakaran di kawasan Juanda 11 melibatkan delapan unit pemadam serta menyebabkan seorang relawan terluka.

‎Memasuki Oktober, kebakaran besar kembali terjadi di Gang Selamat, Kelurahan Pelabuhan, pada 2 Oktober. Sebanyak 20 bangunan dan enam sepeda motor hangus terbakar, sementara tiga warga pingsan akibat asap. Mayoritas kebakaran tersebut dipicu korsleting listrik risiko yang sering muncul di permukiman padat dengan instalasi yang tidak memenuhi standar. Bahkan pada 29 Oktober Hotel Bumi Senyiur Samarinda juga mengalami kebakaran sekitar pukul 07.15 WITA.

‎Dalam kerangka kontinjensi, Damkar tidak hanya fokus pada reaksi cepat, tetapi juga pencegahan. Edukasi masyarakat menjadi elemen penting. Seperti Program Damkar Sowan Sekolah dan Dasa Wisma dan kerja sama dengan Universitas Mulawarman untuk sosialisasi mitigasi kebakaran, termasuk pelatihan penggunaan APAR, langkah perlindungan diri, serta penanganan awal keadaan darurat. Upaya tersebit dinilai sebagai langlah prioritas untuk menekan risiko awal sebelum skenario kontinjensi besar harus dijalankan.

‎Supriyanto menegaskan, bahwa seluruh mekanisme kontinjensi yang disusun Damkar bertujuan memastikan bahwa bantuan selalu hadir tanpa jeda ketika bencana terjadi.

‎"Untuk kebakaran, banjir, maupun pembersihan pasca-banjir, kami selalu siap membackup 24 jam," pungkasnya. (*Abi)



Pasang Iklan
Top