• Sabtu, 07 Maret 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Wawali Samarinda, Saefuddin Zuhri berfoto bersama didampingi Wakil Ketua Komis IV DPRD Kota Samarinda, Dr. Sri Puji Astuti dalam agenda Diseminasi dan Publikasi Data Stunted serta Pemaparan Hasil Pengkajian Kasus Kematian Ibu dan Anak Tahun 2025. Selasa (18/11/2025).(Foto: Abi/KutaiRaya)


SAMARINDA, (KutaiRaya.com) : Pemerintah Kota Samarinda melaksanakan Diseminasi dan Publikasi Data Stunting serta Pemaparan Hasil Pengkajian Kasus Kematian Ibu dan Anak Tahun 2025, dihelat di Ballroom Hotel Midtown Kota Samarinda, Selasa (18/11/2025).

Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh berbagai fasilitas pelayanan kesehatan, mulai dari RSUD Abdul Wahab Sjahranie, RS Dirgahayu, RSUD Inche Abdoel Moeis, RS Hermina Samarinda, RS SMC, RS Haji Darjad, RS Siaga Al-Munawwarah, RSUD AMS II, RS Tentara Tingkat IV, RS Bhakti Nugraha, puskesmas perawatan maupun nonperawatan, serta institusi pendidikan ITKES, STIKES, UMKT, dan UNMUL, jajaran Kecamatan dan Kelurahan.

Dalam praktiknya, Forum tersebut memaparkan setiap data utama mengenai kondisi gizi balita dan kesehatan ibu anak Kota Samarinda. Disitu disebutkan, bahwa siklus zero mortality dan zero new stunting berpotensi sebagai program yang menangani kesehatan pada ibu hamil seperti kurang energi kronis, anemia, HIV, hipertensi dan hepatitis masih menjadi faktor pemicu kematian ibu di Indonesia.

Berdasarkan data aplikasi Sigizikesga tahun 2024–2025, terdapat Kecamatan yang mengalami kenaikan prevalensi wasting, underweight, dan stunting. Wasting meningkat di Kecamatan Samarinda Ulu dan Samarinda Kota, underweight naik di Samarinda Ulu, Samarinda Utara, dan Samarinda Kota. Sementara stunting meningkat di Kecamatan Samarinda Seberang dan Samarinda Kota.

Namun secara keseluruhan, Kota Samarinda mengalami tren penurunan status gizi balita. Underweight turun dari 14,2% menjadi 12,6%, stunting turun dari 15,7% menjadi 14,8%, dan wasting menurun dari 7,2% menjadi 6,1%.

Forum tersebut juga menyoroti peningkatan signifikan stunting pada kelompok usia 12-23 bulan dibandingkan usia 0-11 bulan, menunjukkan pentingnya pemenuhan gizi, pemberian ASI dan MP-ASI yang tepat, serta menjaga higienitas sanitasi.

Pada Agustus 2025, jumlah balita stunted tercatat 2.924 anak. Data SKI tahun 2024 juga menunjukkan penurunan 4,1%, sehingga upaya masih perlu ditingkatkan untuk mencapai target nasional yakni 18,8% pada tahun 2025.

Kondisi tersebut mendorong perlunya strategi penanganan yang lebih terarah, termasuk peningkatan lingkup dan kualitas Antenatal Care (ANC) di semua fasilitas kesehatan pemerintah maupun swasta, memperkuat jejaring layanan ibu-anak, meningkatkan kapasitas SDM kesehatan, serta memastikan intervensi dimulai sejak masa kehamilan.

Pencegahan stunting bayi usia 0-11 bulan yang masih berada pada angka 16,8% juga menjadi perhatian khusus, begitu pula lonjakan prevalensi pada balita usia 12-23 bulan yang menegaskan perlunya pemantauan gizi dan perbaikan sanitasi. Forum juga menekankan pentingnya tata laksana gizi ibu hamil dan balita serta peningkatan kondisi sosial ekonomi masyarakat sebagai pendukung keberhasilan pencegahan stunting.

Wakil Walikota Samarinda Saefuddin Zuhri, yang hadir dalam agenda tersebut memberikan tanggapan berdasarkan data yang dibahas dalam agenda. Ia menilai, kesehatan merupakan fondasi utama yang harus dijaga bersama demi terciptanya kualitas hidup masyarakat.

"Kalau masyarakatnya sehat jasmani dan rohani, saya yakin angka stunting itu pasti turun. Karena kalau masyarakat kurang sehat, pasti ada stuntingnya," ucapnya.

Ia juga menekankan, pentingnya perhatian sejak awal kehidupan. Menurutnya, upaya menurunkan angka stunting serta mencegah kematian ibu dan bayi harus dimulai sejak masa kehamilan bahkan sebelumnya.

"Dasarnya itu mulai dari awal pernikahan sampai anak berumur dua tahun atau lima tahun. Itu harus penuh perhatian," ujarnya.

Saefuddin juga menyoroti pentingnya keakuratan data sebagai dasar kebijakan, dengan menyampaikan bahwa tanpa data yang benar-benar valid, setiap langkah yang diambil pemerintah berpotensi tidak tepat sasaran.

Ia menegaskan, ketelitian dalam pengumpulan dan pelaporan data harus menjadi perhatian semua fasilitas kesehatan, karena hal tersebut menentukan efektivitas program yang akan dijalankan.

"Data-data ini untuk acuan kita ke depan. Jangan sampai data itu hanya copy paste dari tahun sebelumnya. Saya yakin data yang disusun ini adalah data yang bisa diyakini dan dipercayai," ungkapnya Saefuddin.

Orang nomor dua Samarinda itu juga, mengingatkan pentingnya sinkronisasi antara berbagai OPD, termasuk kecamatan dan kelurahan, agar tidak terjadi perbedaan versi data.

"Kebersamaan inilah yang kita harapkan untuk bisa mengurangi stunting dan menurunkan kematian ibu dan anak. Kalau semua dilaksanakan bersama, insyaallah angka stunting di Kota Samarinda akan turun drastis," jelasnya.

Saefuddin menutup dengan harapan agar seluruh pihak, mulai dari Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Disdukcapil, hingga lembaga pendidikan dan DPRD dapat bergerak selaras. Ia menegaskan, dengan kolaborasi yang kuat, Kota Samarinda dapat mencapai kemajuan signifikan dalam penurunan stunting dan peningkatan kesehatan ibu dan anak.

"Harapan kita kemajuan ini bukan hanya di laksanakan oleh satu OPD saja tapi semua pihak," pungkasnya. (*Abi)



Pasang Iklan
Top