• Rabu, 11 Maret 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Para Guru di Kukar Saat Mengikuti Pelatihan.(Andri wahyudi/kutairaya)


TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta), Dr. H. Suid Saidi menyoroti persoalan minimnya guru Bimbingan Konseling (BK) profesional di tingkat Sekolah Dasar (SD).

Ia mengatakan, hingga saat ini belum ada guru BK yang memiliki latar belakang atau spesialisasi khusus BK di jenjang SD, padahal kebutuhan tersebut sangat mendesak.

Menurut Suid, SD merupakan tahap paling mendasar dalam membentuk karakter murid.

Karena itu, posisi guru BK seharusnya menjadi bagian penting dalam proses pendidikan.

"Namanya dasar itu, bila tidak kuat, maka bangunan di atasnya juga akan rapuh. Begitu pula dalam pendidikan," ucapnya, Senin (17/11/2025).

Ia menjelaskan, meskipun bimbingan umum dapat dilakukan oleh hampir semua guru, namun proses konseling memerlukan kompetensi khusus yang tidak dimiliki oleh guru kelas atau guru mata pelajaran.

"Konnseling itu berbeda. Jika guru tidak memiliki keterampilan konseling, maka hasilnya tidak akan efektif. Apalagi guru SD biasanya merangkap beberapa mata pelajaran, sehingga sulit fokus menangani siswa yang memiliki masalah," katanya.

Suid juga menyoroti meningkatnya kompleksitas persoalan hidup di era sekarang, termasuk yang dihadapi anak-anak.

Menurutnya, banyak masalah muncul karena masyarakat terbiasa memikirkan kekhawatiran berlebihan terhadap sesuatu yang belum terjadi.

Kebiasaan tersebut dapat berdampak pada mental dan karakter anak.

"Misalnya mahasiswa yang belum lulus sudah takut tidak mendapatkan pekerjaan. Itu cemas sebelum waktunya. Kebiasaan seperti ini juga terjadi pada anak, dan bila tidak dibimbing dengan benar, persoalan akan menumpuk," katanya.

Karena itu, ia menilai peran guru BK menjadi sangat penting untuk membantu siswa mengenali diri, memahami orang lain, dan mencari solusi atas masalah yang mereka hadapi.

Hal ini tidak bisa dilakukan secara maksimal tanpa peran tenaga profesional.

Ia berharap pemerintah segera melakukan pemetaan sumber daya manusia untuk guru BK di SD dan SMP, serta membuka peluang bagi guru yang belum memiliki spesialisasi BK untuk melanjutkan pendidikan atau mengikuti sertifikasi.

"Jika SDM guru BK diperkuat, maka penguatan karakter anak akan lebih optimal. Sekarang ini, karakter yang lemah dapat menjadi celah yang berbahaya, terutama di era digital," tuturnya.

Suid mengemukakan, pendidikan dasar adalah fondasi utama.

Sehingga penguatan peran guru BK di SD harus menjadi prioritas dalam kebijakan dan pengembangan kurikulum pendidikan ke depan. (dri)



Pasang Iklan
Top