• Jum'at, 01 Mei 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



‎Potret UMKM oleh-oleh cinderamata di Citra Niaga Kota Samarinda.(Foto: Abi/KutaiRaya)


‎SAMARINDA, (KutaiRaya.com) : Revitalisasi kawasan Citra Niaga Samarinda memberikan angin segar bagi pelaku usaha mikro yang berjualan di pusat oleh-oleh dan wisata legendaris Kalimantan Timur.

Dua tahun pasca renovasi, pusat oleh-oleh Kota Tepian yang sempat redup itu kini mulai ramai kembali, meski pedagang menilai peningkatan omzet masih bergantung pada event besar dan perhatian pemerintah terhadap fasilitas umum belum sepenuhnya maksimal.

‎Citra Niaga memiliki sejarah yang cukup panjang. Kawasan tersebut dibangun pada tahun 1985 dan menerima Aga Khan Award for Architecture pada tahun 1989. Kawasan ini dulunya dikenal sebagai ikon perdagangan rakyat Samarinda. Kini, dengan wajah baru dan penataan yang lebih modern, Citra Niaga diharapkan dapat kembali menjadi pusat aktivitas ekonomi dan kebanggaan warga Kota Tepian.

‎Berdasarkan data Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Samarinda, proyek revitalisasi Citra Niaga menelan biaya sekitar Rp40 miliar yang dimulai pada tahun 2023. Hingga akhir 2024, progres pembangunan tahap kedua telah mencapai lebih dari 70 persen. Pemerintah Kota menargetkan kawasan ini menjadi ruang ekonomi kreatif yang menggabungkan unsur budaya, perdagangan, dan wisata.

‎Maulana seorang pedagang souvenir khas Kalimantan yang telah berjualan sejak sebelum renovasi mengatakan, kondisi ekonomi di kawasan itu mulai membaik. Meskipun, tidak semua pengunjung menghampiri tokonya dan hanya berkunjung untuk nongkrong.

‎"Kalau sekarang lumayan naik sih, karena makin ramai semenjak banyak kafe. Walaupun banyak yang cuma lihat-lihat, tetap ada peningkatan pendapatan," ujarnya.

‎Menurut Maulana, kenaikan omzet penjualan souvenir sangat bergantung pada momentum acara yang digelar di kawasan khusus event di Citra Niaga.

‎"Kalau yang masif itu ya nunggu event. Kadang sebulan sekali, kadang dua kali. Kalau enggak ada event, ya sepi," katanya.

‎Ia mencontohkan, beberapa acara yang cukup mendongkrak penjualan minggu belakangan yakni seperti Hari Kesatuan Gerak PKK (HKG), pameran arsitek Nasional, dan event Internasional East Borneo Intetnational Festival (EBIF).

‎Meski begitu, ia juga menyebut adanya tantangan baru pasca renovasi. Munculnya deretan kafe memang menambah daya tarik kawasan, tetapi terkadang mengganggu aktivitas toko.

‎"Kadang pengunjung kafe nongkrong di depan toko, jadi yang mau masuk toko agak susah. Sampah mereka juga sering numpuk. Tapi ya di sisi lain, kehadiran kafe bikin kawasan ini lebih hidup," jelasnya.

‎Maulana juga berharap, pemerintah memperhatikan fasilitas penerangan yang dinilai masih kurang di beberapa titik.

‎"Bagian Niaga Selatan itu agak gelap. Kalau bisa penerangannya ditambah biar lebih nyaman buat pengunjung malam hari," tambahnya.

‎Sementara itu, Sahabana pedagang souvenir generasi kedua di Citra Niaga menilai, perubahan setelah renovasi sangat signifikan terutama dalam hal peningkatan jumlah pengunjung.

‎"Sekarang banyak yang datang, bukan cuma belanja tapi juga menikmati suasana. Orang mulai kenal lagi Citra Niaga sebagai pusat oleh-oleh Kalimantan Timur," ungkapnya bersama awak media.

‎Ia mengakui, bahwa upaya Walikota Samarinda Andi Harun dalam mempertahankan konsep lama Citra Niaga namun mempercantik tampilannya menjadi keputusan yang tepat. Menurutnya, kawasan ikonik Kota Tepian seperti Citra Niaga tidak boleh dihilangkan nuansa sejarahnya.

‎"Pak Wali berhasil menjaga bentuk aslinya tapi menambah apa yang kurang. Sekarang Citra Niaga bukan cuma tempat belanja, tapi ruang terbuka tempat orang berkumpul," ucapnya.

‎Sahabana menjelaskan, kehadiran fasilitas baru seperti area publik, kafe, dan ruang terbuka membuat kawasan ini lebih inklusif bagi masyarakat dari berbagai usia. Ia juga mengapresiasi rencana pemerintah untuk menghubungkan Citra Niaga dengan Teras Samarinda dan kawasan wisata sungai.

‎"Kalau konsep itu jalan, pengunjung dari pelabuhan bisa langsung ke Citra Niaga. Itu luar biasa buat UMKM dan pariwisata kota," katanya.

‎Meski jumlah pengunjung meningkat, Sahabana mengakui putaran ekonomi pedagang masih dalam tahap pemulihan pasca pandemi.

‎"Untuk omzet memang belum stabil. Tapi setidaknya, Citra Niaga sudah dikenal lagi dan mulai dikunjungi banyak wisatawan dari luar daerah," tandasnya.

‎"Citra Niaga ini simbol ekonomi hijau Samarinda. Kalau pemerintah terus memperhatikan fasilitas dan memberi ruang bagi UMKM, saya yakin Citra Niaga akan kembali jadi jantungnya perekonomian kota," tambahnya menutup perbincangan. (*Abi)



Pasang Iklan
Top