
Nyamuk Demam Berdarah Dengue (DBD) yang menyebabkan manusia terkena penyakit DBD. Padanya dapat menyebabkan kematian, Jumat (10/10/2025).(Dok. Google))
SAMARINDA, (KutaiRaya.com) : Sudah mencapai 554 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD), Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Samarinda, Ismid Kukasih sebut masih terkondisikan.
554 kasus tersebut merupakan data yang diperoleh dari Dinkes Kota Samarinda. Tercatat, data tersebut merupakan data hingga awal bulan Oktober 2025.
Sebelumnya, pada bulan Juli lalu, dinyatakan telah meninggal satu orang pengidap DBD di Samarinda. Kadinkes Kota Samarinda Ismid Kukasih mengungkapkan, meski terjadi peningkatan, hal ini masih mampu terkendali dan masih dalam batas jaga yang aman.
"Meskipun meningkat, ini masih terkendali. Kalau untuk mengarah pada KLB (kejadian luar biasa) itu tidak ada," ucap Ismid Kukasih.
Saat dikonfirmasi terkait dengan proses penanganan DBD, dirinya menyebutkan bahwa proses penanganan di beberapa lokasi kesehatan di Kota Samarinda, tergolong dalam penanganan cepat.
"Pada saat kasus muncul, kita langsung melakukan penanganan dengan cepat ya, makanya tadi saya bilang untuk terjadinya KLB itu tidak ada," sambungnya.
Kadinkes Kota Samarinda tersebut juga mengungkapkan, saat ini peralatan pemeriksaan DBD seperti Rapid Test, NS1 (Protein Non-struktural 1) telah tersedia di 26 Puskesmas. Sehingga akan memudahkan paramedis untuk melakukan pengecekkan bahkan identifikasi deteksi dini gejala DBD.
"Sudah ada di semua Puskesmas, jadi kalau ada masyarakat datang dengan keluhan DBD, kita cek, jika positif DBD langsung bisa dirujuk ke rumah sakit," bebernya.
Namun disisi lain, Ismid juga menegaskan, bahwa peran penting kesadaran dari masyarakat juga menjadi kunci utama dari pemberantasan DBD.
"Tapi yang jelas, kesadaran masyarakat terhadap tempat-tempat yang menampung air itu harus dijaga. Jangan sampai kita abai terhadap hal itu. Meskipun ketersediaan alat kesehatan untuk DBD ini ada, tapi kalau tempat-tempat yang menjadi perkembangbiakan nyamuk masih tidak di berantas, ya DBD akan susah ditekan," tegasnya.
Menurutnya, masyarakat perlu menyadari pentingnya melakukan 3M. Yaitu, menguras dan menyikat bak air, menutup rapat penampungan air serta mendaur ulang barang bekas yang bisa menimbulkan potensi sarang nyamuk.
Tidak hanya kesadaran, faktor cuaca juga turut ambil peran yang menjadi faktor resiko penyebaran DBD. Untuk itu, dirinya turut mengimbau agar masyarakat juga menjaga ketahanan diri atau imunitas diri, yang dibarengi dengan menjaga kebersihan lingkungan.
Diwaktu yang berbeda, salah satu warga Perumahan Bukit Pinang Raya (BPR), kelurahan Bukit Pinang, Kecamatan Samarinda Ulu, Kota Samarinda Mubarak, membenarkan bahwa cuaca yang tidak menentu juga turut mempengaruhi faktor meningkatnya nyamuk di kawasan perumahan.
"Cuaca itu juga berpengaruh, karena kalau curah hujan tinggi otomatis akan banyak genangan-genangan air yang timbul. Masalahnya, belum sempat kering, sudah hujan lagi," ungkap Mubarak, warga Blok B2-B3 Perum BPR, saat usai membersihkan sekitar rumahnya.
Meskipun tergolong wilayah perbukitan, dirinya tetap mengantisipasi meningkatnya nyamuk-nyamuk yang membawa DBD. Dirinya rutin membersihkan sekitar rumah dengan membakar sampah ataupun menguras genangan-genangan yang ada disekitar rumahnya.
Tidak hanya itu, botol-botol, kaleng ataupun sampah-sampah yang dapat menampung air, juga dibersihkan. Sehingga, akan menekan angka perkembangbiakan nyamuk DBD.
"Kalau tidak gini mas, kita juga nanti yang kena penyakit," singkatnya.
Dirinya pun berharap, agar Pemkot Samarinda bisa mengadakan antisipasi DBD dengan kegiatan Fooging di wilayah-wilayah yang rentan akan berkembangnya nyamuk.
"Ya kalau bisa tiap dua minggu sekali di fogging, atau kalau ada program dari Pemkot terkait itu, justru sangat membantu. Karena akan sangat menekan angka perkembangan nyamuk," harapnya. (*Abi)