
Potret transaksi ekonomi berbasis digital, Jumat (26/09/2025).(Foto:Abi/KutaiRaya)
SAMARINDA, (KutaiRaya.com) : Laju ekonomi Kalimantan Timur (Kaltim) pada triwulan kedua tahun 2025 menunjukkan sinyal pergeseran signifikan. Meskipun tumbuh menjadi 4,69% pada kuartal ke-II tahun 2025, peningkatan ini didorong oleh sektor-sektor baru, sementara pilar ekonomi ekstraktif justru cenderung melambat, meskipun dominasi tetap berada di sektor ekonomi ekstraktif.
Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kaltim mengonfirmasi adanya kenaikan dari 4,08% di kuartal sebelumnya. Namun, pertumbuhan ini masih berada di bawah angka rata-rata nasional 5,12% dan regional Kalimantan 4,95%.
“Kami bersyukur ekonomi Kaltim naik, tapi kami juga akan terus berupaya mengoptimalkan peran kami untuk mendorong peningkatan,” ujar Kepala Kantor Perwakilan BI Kaltim, Budi Widihartanti kepada redaksi KutaiRaya.com, Jumat (26/9/2025).
Meskipun demikian, Kaltim tetap menjadi kekuatan ekonomi utama di Kalimantan, menyumbang 46,58% dari total perekonomian di pulau ini.
Kinerja ekonomi positif Kaltim utamanya ditopang oleh sektor industri pengolahan dan pertanian.
Subsektor perkebunan kelapa sawit menunjukkan performa kuat, sementara hortikultura dan kehutanan juga berkontribusi berkat musim panen dan permintaan produk olahan kayu.
Namun, tidak semua sektor bernasib sama. Pertambangan, yang selama ini menjadi tulang punggung dengan pangsa 34,11%, justru mengalami penurunan. Hal ini dipicu oleh lemahnya permintaan global terhadap batu bara dan transisi energi global.
Sektor konstruksi juga melambat, salah satunya karena terbatasnya progres pembangunan fisik Ibu Kota Negara (IKN).
Menyadari tantangan ini, Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud secara aktif mempromosikan diversifikasi ekonomi.
Dalam acara Gala Dinner Business Cooperation 2025 di Jakarta, Kamis (25/9/2025) kemarin, Rudy menawarkan berbagai peluang investasi di luar sektor pertambangan, seperti pertanian, perikanan, dan pariwisata.
Di hadapan para duta besar dan investor internasional, Rudy menegaskan bahwa Kaltim berkomitmen penuh untuk melepaskan ketergantungan pada sumber daya alam.
Ia menyebut, posisi strategis dan stabilitas daerah menjadikan Kaltim siap menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia.
“Kami mengundang para investor untuk melihat langsung peluang yang ada,” tandas Rudy. (*Abi)