• Selasa, 05 Mei 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur

Disdikbud Kutai Kartanegara



Plt. Sekretaris Disdikbud Kukar, Pujianto.(Foto:Indri)


TENGGARONG,(KutaiRaya.com): Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) saat ini dikenal sebagai daerah dengan kepemilikan perangkat Chromebook terbanyak di Indonesia. Namun, di balik pencapaian itu, tantangan baru muncul yakni bagaimana perangkat yang tersedia dapat benar-benar dimanfaatkan secara maksimal di ruang kelas.

Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Disdikbud Kukar, Pujianto, menegaskan bahwa transformasi digital pendidikan tidak bisa hanya diukur dari banyaknya perangkat. Menurutnya, kompetensi guru menjadi kunci agar teknologi tersebut tidak hanya menjadi pajangan, melainkan alat efektif untuk meningkatkan mutu belajar.

"Infrastruktur yang canggih harus diimbangi dengan kompetensi guru. Kalau perangkat sudah ada, SDM juga harus siap memanfaatkannya," ujarnya, Selasa (28/8/2025).

Ia mengakui, masih ada sekolah di Kukar yang belum optimal menggunakan perangkat digital karena keterbatasan kemampuan guru dalam mengoperasikan aplikasi maupun strategi pembelajaran berbasis teknologi. Hal ini menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diatasi agar Kukar tidak tertinggal dalam pemanfaatan teknologi pendidikan.

Sebagai langkah awal, Disdikbud Kukar menggelar program AI in The Classroom yang membekali guru dengan keterampilan mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan ke dalam pembelajaran. Program ini dirancang agar guru tidak hanya mengenal perangkat, tetapi juga memahami cara memanfaatkannya untuk membuat pembelajaran lebih interaktif.

Pujianto menambahkan, pelatihan tersebut tidak hanya menyasar guru SMP dan SD, melainkan juga diperluas hingga PAUD dan pendidikan kesetaraan. Setiap bidang di Disdikbud diarahkan memiliki kegiatan spesifik yang berhubungan dengan penguatan kapasitas teknologi bagi pendidik di level masing-masing.

Selain pelatihan, Disdikbud juga berupaya membangun budaya berbagi pengetahuan antar guru melalui komunitas belajar. Harapannya, pengalaman guru yang sudah terbiasa menggunakan teknologi dapat menular kepada rekan-rekannya, sehingga percepatan adaptasi bisa terjadi di semua sekolah.

"Kalau hanya satu kelompok guru yang menguasai, hasilnya akan lambat. Kita dorong agar ada saling berbagi ilmu, sehingga penguasaan teknologi bisa menyebar luas," jelasnya.

Pemerintah daerah, kata Pujianto, berkomitmen memperbarui kurikulum pelatihan sesuai dengan perkembangan teknologi terkini. Dengan begitu, guru tidak hanya belajar cara menggunakan perangkat, tetapi juga menguasai strategi mengajarkan literasi digital kepada siswa.

"Transformasi digital harus menyentuh dua sisi, guru dan siswa. Kalau guru sudah siap, maka anak-anak akan terbentuk sebagai generasi yang tidak hanya akrab dengan teknologi, tetapi juga kreatif dan adaptif menghadapi perubahan zaman," pungkasnya. (adv)



Pasang Iklan
Top