• Jum'at, 04 September 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Ilustrasi penolakan kekerasan terhadap anak.(Foto: iStock/gan chaonan)


SAMARINDA, (Kutairaya.com): Tragedi yang menimpa dua balita di Samarinda baru-baru ini mengundang keprihatinan publik, termasuk kalangan psikolog yang mencoba memahami penyebab di balik peristiwa tersebut.

Psikolog dari UPT-DPPA Samarinda, Ayunda, menjelaskan bahwa dalam dunia psikologi, kasus seperti ini dikenal sebagai filicide, yakni pembunuhan anak oleh orang tua kandung, dalam hal ini ayahnya sendiri.

"Fenomena filicide ini, kalau dari kacamata psikologi, bisa jadi karena ada beberapa faktor ya. Bisa dari kejiwaan, bisa juga dari faktor lingkungan, stresor lingkungan, atau faktor internal kepribadian, ketidakmampuan dia dalam mengendalikan emosi yang berujung pada perilaku agresi," terang Ayunda, Rabu (30/07/2025).

Menurutnya, penyebabnya bukan berasal dari satu faktor saja, melainkan gabungan berbagai tekanan hidup dan ketidakmampuan mengelola emosi dengan sehat.

"Informasi yang saya baca juga dia tidak bekerja, yang bekerja adalah istrinya. Jadi bisa jadi di situ ada ketimpangan peran antara seorang laki-laki yang dalam norma sosial kita kebanyakan menjadi kepala rumah tangga, ini tidak bisa menjalankan fungsi dan perannya," ujarnya.

Ketika ketegangan itu tak kunjung reda, lanjut Ayunda, ketidakberdayaan bisa berubah menjadi frustrasi akut. Apalagi usia pelaku yang masih 24 tahun menunjukkan kemungkinan ketidakmatangan emosi yang cukup rentan terhadap situasi stres berkepanjangan.

"Perubahan-perubahan perilaku itu kan harusnya bisa dideteksi secara dini kalau kita peka dan peduli. Jadi semestinya masyarakat sekitar juga udah harus lebih aware, jangan tunggu sampai terjadi pembunuhan," tegasnya.

Selain faktor psikologis, Ayunda juga menyoroti pentingnya mendalami apakah pelaku berada di bawah pengaruh zat tertentu atau mengalami gangguan kejiwaan yang belum terdiagnosis.

"Keinginan untuk membunuh itu biasanya juga dipicu oleh faktor lain yang perlu diperiksa, yaitu kondisi kejiwaan. Dimana ketika seseorang mengalami suatu gangguan, itu bisa mempengaruhi bagaimana seseorang berpikir, berpersepsi, dan mengelola emosi," tambahnya.

Sementara itu, dari penuturan adik kandung pelaku, Nabila, kakaknya dikenal sebagai pribadi pendiam dan mulai berubah dalam sebulan terakhir.

"Dulu anaknya kayak friendly gitu, tapi lama-kelamaan jadi begitu. Murung di rumah. Sebelumnya kerja, suka ini ya sama tetangga, sama keluarga. Tapi bulan-bulan ini udah nggak kerja," kata Nabila.

Ia menyebut kakaknya juga mengalami sakit lambung yang membuatnya lemah secara fisik. Meski begitu, ia tak pernah menyangka Wahyudi akan tega menghabisi dua anak kandungnya sendiri.

"Abang saya itu baik. Masih nyuapin anaknya, masih mandiin. Tapi mungkin ada yang dipendamnya. Kita enggak tahu juga," ucapnya.

Nabila juga menuturkan bahwa hubungan suami-istri di rumah itu sebelumnya sempat renggang namun sudah membaik.

"Cerai itu enggak, cuma kayak renggang aja mereka. Tapi pada saat kejadian itu mereka masih satu rumah,"katanya.

Lebih lanjut, Ayunda menekankan pentingnya kepedulian masyarakat untuk mencegah kasus serupa terulang di masa depan.

"Sebenarnya garda terdepan itu masyarakat. Kalau mendengar di samping rumah ada yang nangis, ada yang cek-cok, ayo segera ambil langkah. Peduli itu bukan berarti ikut campur tanpa solusi," tegasnya.

Ia juga mendorong masyarakat memanfaatkan layanan konseling yang disediakan pemerintah secara gratis.

"Ke Puspaga, ke UPT-DPPA itu gratis kok. Kalau punya masalah, datanglah minta bantuan. Bicara sama orang yang kita percaya. Jangan memendam sendiri," pesannya.

Psikolog tersebut mengingatkan, seberat apapun masalah rumah tangga, anak tidak boleh jadi pelampiasan.

"Masalah kita sebagai orang tua itu adalah masalah kita. Jangan dilampiaskan pada anak yang tidak berdosa," tutupnya. (skn)



Pasang Iklan
Top