
Ilustrasi Sekolah Rakyat.(klikSoloNews/dok)
SAMARINDA,(KutaiRaya.com): Pelaksanaan rintisan program Sekolah Rakyat di Kota Samarinda yang semula dijadwalkan 14 Juli 2025, resmi ditunda hingga akhir bulan. Kegiatan belajar mengajar pun kini ditargetkan berlangsung awal Agustus mendatang.
Penundaan ini disebabkan oleh belum rampungnya persiapan fasilitas dasar di dua lokasi utama pelaksanaan, yaitu Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) dan Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Kaltim.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Samarinda, Asli Nuryadin, membenarkan bahwa renovasi ringan masih dilakukan di kedua lokasi yang direncanakan akan menampung masing-masing 100 siswa, terdiri dari 50 jenjang SMP dan 50 jenjang SMA.
"Mundur dari 14 Juli ke akhir Juli. Sambil melakukan perbaikan-perbaikan kecil biar lebih bagus," ujar Asli, Jumat (18/07/2025).
Meski proses belajar belum bisa dimulai, tes kesehatan dan kesemaptaan tetap digelar sesuai jadwal pada 14 Juli lalu di GOR Segiri, Samarinda. Sebanyak 100 calon siswa hadir didampingi orang tua mereka untuk menjalani pemeriksaan fisik, mulai dari status gizi, kebugaran jasmani, hingga kondisi mata dan gigi.
"Anak-anak itu dites lengkap, kalau ada yang sakit diobatin," tambahnya.
Wali Kota Samarinda, Andi Harun, menilai penundaan seperti ini merupakan persoalan teknis yang tidak perlu dibesar-besarkan.
"Kalau soal ditunda sehari, dua hari, seminggu, dua minggu, itu sangat teknis," ujar Andi Harun.
Menanggapi kritik soal kesiapan fasilitas, ia menyebut Pemkot Samarinda siap membantu melengkapi kekurangan jika diizinkan oleh penyelenggara pusat.
"Fasilitas yang dimiliki oleh pemerintah kota bisa saja kita geser dulu ke sana sambil menyiapkan secara sempurna. Namanya juga proses pertama, pasti ada saja kekurangan. Tapi itu tidak akan mengurangi sedikit pun makna, apalagi semangat kita untuk menyukseskan program Bapak Presiden," lanjutnya.
Di tengah segala keterbatasan, semangat dan harapan orang tua tetap tinggi. Hajrah, seorang ibu penjual kue dari Tanah Merah, mengaku terharu saat mengetahui anaknya, Gusti Ahmad Raihan, diterima sebagai calon siswa jenjang SMA di Sekolah Rakyat.
"Awalnya saya tanya ke anak saya, ternyata dia mau. Kata pendamping PKH, semua disiapkan, seragam, makan tiga kali sehari, sampai celana dalam katanya ditanggung. Saya sampai kaget. Alhamdulillah, anak saya juga senang," ujar Hajrah.
Muhammad Randi Arsil (15), calon siswa lain dari Sempaja Utara, juga menyambut gembira kesempatan ini. Sebelumnya ia sempat bekerja sebagai pelayan di vila untuk membantu ibunya yang menjadi asisten rumah tangga, sementara ayahnya telah meninggal dunia.
"Ini kesempatan buat saya mandiri. Semua fasilitas katanya disiapkan, tinggal di asrama, makan dan baju juga ditanggung," ucap Randi.
Dengan penundaan ini, Kota Samarinda masuk dalam kelompok rintisan tahap 1B bersama 37 daerah lain yang mengalami hal serupa. Sementara itu, sebanyak 63 daerah telah lebih dulu memulai Sekolah Rakyat secara serentak sejak 14 Juli lalu. (skn)