
Salah satu pedagang telur asin di Samarinda
SAMARINDA (KutaiRaya.com) Pandemi COVID-19 bukan hanya menghantam sektor kesehatan dan ekonomi berskala besar, tetapi juga meninggalkan jejak panjang bagi para pelaku usaha kecil.
Salah satunya dialami Mubri (59), pelaku UMKM asal Samarinda yang selama hampir dua dekade setia memproduksi dan menjual telur asin serta gogos ketan, makanan pendamping khas yang biasa disantap bersamaan.
Saat ditemui di lokasi Gerakan Pangan Murah yang digelar di Museum Samarinda, Mubri menuturkan kisahnya dengan nada tenang namun sarat makna. Ia merupakan binaan Dinas Peternakan Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), dan mengaku telah memulai usahanya sejak 2006 silam.
"Kalau saya produk sendiri semuanya. Ini kan telur asin sama gogos, terbuat dari ketan. Karena memang kalau orang makan telur asin, pakai ini," ungkap Mubri, sambil merapikan dagangannya, Sabtu (14/06/2025).
Ia menjelaskan bahwa sejak lama aktif mengikuti berbagai program pemerintah, termasuk Gerakan Pangan Murah (GPM). Dalam kegiatan seperti ini, harga jual produknya disesuaikan agar lebih terjangkau oleh masyarakat.
"Perbedaan harganya, kalau di luar itu harganya 5000, nah kalau di pasar murah ini 4000," jelasnya.
Namun, menurut Mubri, geliat ekonomi yang dulu sempat ia rasakan kini jauh menurun. Salah satu penyebabnya adalah pandemi COVID-19 yang memukul keras daya beli masyarakat dan menurunkan minat belanja produk tradisional seperti miliknya.
"Sebelum COVID itu rame. Selama setelah COVID itu jauh perubahannya," keluhnya.
Saat ini, ia masih berjualan rutin di pasar dan mendistribusikan produk-produknya ke beberapa warung makan. Namun, volume permintaan mengalami penurunan drastis.
"Saya tiap hari jualan di pasar dan didistribusikan ke warung-warung. Dulu dua sampai tiga kali seminggu, tapi sekarang hanya satu kali aja," tambahnya.
Sebagai binaan Dinas Peternakan, Mubri sempat beberapa kali dibawa mengikuti pameran skala nasional. Ia pernah memamerkan telur asin dan gogos buatannya ke berbagai kota seperti Jakarta, Surabaya, bahkan hingga ke kawasan wisata Borobudur.
"Saya binaan Dinas Peternakan Provinsi, jadi saya sering bawa keluar seperti Jakarta, Surabaya, Borobudur. Sering ikut pameran. Tapi setelah COVID sudah tidak ada dananya," tuturnya.
Meski dihadapkan pada berbagai keterbatasan, Mubri tetap bertahan dengan semangat dan kerja kerasnya.
Ia berharap pemerintah kembali membuka ruang partisipasi bagi pelaku UMKM seperti dirinya agar bisa tampil di pameran dan kegiatan luar daerah, demi menjaga eksistensi produk lokal yang selama ini telah menjadi bagian dari kekayaan kuliner daerah. (skn)