
Wali Kota Samarinda Andi Harun turun langsung meninjau lokasi dan membawa serta jajaran Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR)ke Kelurahan Sidodamai.
SAMARINDA (KutaiRaya.com) Masalah banjir yang selama bertahun-tahun membayangi warga Jalan Damai, Kelurahan Sidodamai, Kecamatan Samarinda Ilir, akhirnya mulai ditangani secara serius.
Pemerintah Kota Samarinda bersama warga setempat bergerak untuk menanggulangi genangan air yang kerap merendam rumah dan melumpuhkan aktivitas warga, terutama saat hujan deras melanda.
Ketua RT 27 sekaligus Ketua Kelompok Masyarakat (Pokmas) 3 Kelurahan Sidodamai, Daeng Haryadi, menyebutkan bahwa banjir di wilayah ini sudah menjadi keluhan utama yang tak kunjung terselesaikan.
"Karena kami ini di kurang lebih 7 RT di dalam-dalam ini, kita keluhannya satu aja, banjir. Kalau hujan deras, deruan itu sudah lumpuh total sini. Jangankan keluar, ke depan motor berkendara tidak bisa," ungkap Daeng, Rabu (11/06/2025).
Genangan air disebut bisa mencapai setengah meter di depan rumah warga, bahkan sering kali masuk hingga ke dalam rumah. Tak jarang, aktivitas warga terganggu, termasuk anak-anak yang terpaksa tidak bersekolah karena jalanan tergenang air.
"Kasian pada waktu banjir itu, kasian anak-anak yang bersekolah. Kadang anak-anak bisa libur. Tidak sekolah karena banjir ini," lanjutnya.
Namun, harapan mulai tumbuh ketika Wali Kota Samarinda Andi Harun turun langsung meninjau lokasi dan membawa serta jajaran Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR).
Rencana konkret pun mulai dirancang, termasuk pembongkaran jalur drainase dari RT 31 hingga RT 25 untuk memperlancar aliran air.
"Rencananya dari RT 31 sampai 25 itu kita sebelah kali ini dibongkar. Sudah kita bilang ke warga, dan hampir semua warga pinggir jalan memberikan tanda tangan. Harapannya banjir di Sidodamai, khususnya Jalan Damai, yang setelah bertahun-tahun banjir, ke depannya bisa berkurang,"ungkapnya.
Wali Kota Samarinda Andi Harun menegaskan bahwa masalah banjir di Jalan Damai cukup serius dan membutuhkan perencanaan matang. Pihaknya bahkan menggunakan drone untuk memetakan jalur aliran air dan mengidentifikasi titik-titik penyumbatan.
"Ya, ini cukup serius. Kita juga sekarang sedang mendron, untuk memastikan perencanaan yang kita buat dalam rangka penanganan banjir di sini. Itu supaya kita bisa akurat dan membuat alternatif apakah mengikuti sungai sepenuhnya yang dalam keadaan berbelok-belok atau melakukan pemintasan mengikuti jalur jalan yang ada," jelas Andi Harun.
Dalam tinjauan lapangan, ditemukan satu rumah yang menjadi titik penyumbatan serius atau bottlenecking, yang menghambat aliran air ke sungai. Pemerintah berencana melakukan pembebasan lahan terhadap rumah tersebut agar aliran air bisa berjalan lancar.
"Kemungkinan rumah yang ada di belakang kita ini akan segera kita bebaskan. Kita lagi periksa, dan mudah-mudahan tahun ini selesai semua perencanaan matangnya," ungkapnya.
Beberapa kegiatan fisik bahkan sudah mulai berjalan tahun ini, termasuk pembangunan drainase dari arah Jalan Otista ke Jalan Damai. Menurut Andi Harun, sebagian jaringan drainase sudah terkoneksi, namun masih ada bagian di Jalan Damai yang menjadi sumber genangan, terutama di tengah jalan.
"Drainase dari arah sini ke arah jalan itu sebenarnya sudah terkoneksi dengan drainase yang ada di Otista. Tinggal dari sini ke arah Jalan Damai ke dalam, yang menimbulkan banjir di pertengahan jalan dan menyebar ke mana-mana," tambahnya.
Pemerintah Kota Samarinda berharap dengan perencanaan lintas sektor dan pendekatan menyeluruh, persoalan banjir di Jalan Damai dapat diurai secara bertahap. Penanganan ini tidak hanya mengandalkan satu-dua proyek fisik, tetapi diarahkan untuk memberikan solusi jangka panjang.
"Supaya nanti perencanaannya bisa terkoneksi antara semua sektor, semua sisi yang kita pergerakan. Dan bisa mengurai secara komprehensif, tidak hanya satu dua kegiatan, tapi setelah kegiatannya kemudian tidak akan menyelesaikan masalah panjang," tutup Andi Harun. (skn)