• Jum'at, 20 Maret 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur

Diskominfo Kutai Kartanegara





TENGGARONG, (KutaiRaya.com)
Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara melalui Dinas Koperasi dan UKM (DiskopUKM) terus mendorong geliat ekonomi kreatif masyarakat melalui program-program unggulan seperti Dedikasi Kukar Idaman dan Kukar Kaya Festival. Salah satu dampak nyatanya terlihat di kawasan Simpang Odah Etam yang kini menjadi pusat kegiatan UMKM pada malam hari.

Kepala Bidang Pengembangan UKM DiskopUKM Kukar, Fathul Alamin, mengungkapkan bahwa dari hasil pendataan terbaru, omzet rata-rata pelaku UMKM di Simpang Odah Etam mencapai minimal Rp50 juta per malam dalam satu putaran ekonomi. Omzet per tenant berkisar antara Rp500 ribu hingga Rp3 juta per malam. Jika dirata-ratakan, total omzet keseluruhan bisa mencapai Rp100–150 juta per malam.

“Kalikan saja dengan 4 malam dalam sebulan, potensi ekonominya sangat signifikan,” ujarnya.

Menurut Fathul, angka tersebut menunjukkan bahwa program yang dijalankan pemerintah bukan sekadar seremoni.

"Pemerintah tidak asal menghamburkan anggaran. Justru kami ingin menciptakan dampak ekonomi langsung ke masyarakat," tambahnya.

Ia mencontohkan Dinas Pariwisata yang hanya menggunakan anggaran minimal untuk memfasilitasi acara, tetapi mampu menghasilkan perputaran uang yang jauh lebih besar.

Dalam pengelolaan UMKM, DiskopUKM menggandeng komunitas Kukar Kuliner sebagai mitra strategis. Salah satu tokoh penting dalam pengelolaan ini adalah Ibu Tiara dari Kukar Kuliner yang juga bertanggung jawab atas publikasi digital melalui media sosial, khususnya Instagram.

Tenant yang terlibat berasal dari berbagai latar belakang: pedagang kaki lima, pelaku pasar malam, Car Free Day, hingga pedagang jalanan. Mereka disyaratkan memiliki akun Instagram, produk buatan sendiri, aktif secara digital, dan memiliki materi promosi yang memadai.

Tingginya animo masyarakat terlihat dari jumlah pendaftar yang menembus lebih dari 600 pelaku UMKM. Karena keterbatasan tempat, hanya 60–150 tenant yang bisa ditampung, sehingga dilakukan kurasi. Bagi yang belum terpilih, pemerintah tetap memberikan pendampingan dan edukasi.

Sebanyak 10 tenant baru bahkan sudah dipersiapkan sejak Ramadan lalu. Mereka dibimbing mulai dari pemasaran digital hingga penggunaan atribut budaya lokal dalam berjualan, seperti mengenakan kain tradisional.

Selain transaksi tunai, pelaku UMKM didorong menggunakan sistem pembayaran digital melalui QRIS. Standar kualitas juga diperhatikan, seperti penggunaan gula asli, es batu kristal, dan kelayakan produk makanan.

“Kami punya sistem quality control. Setiap malam minggu ada pengawasan, dan evaluasi bulanan dilakukan untuk menilai performa produk. Jika tidak laku, kami sarankan berinovasi,” terang Fathul.

Hasilnya sangat positif. Banyak tenant yang berhasil menjual seluruh produknya dan kini mulai berkembang membuka ruko, outlet, serta memperkuat branding usaha mereka. Kawasan Simpang Odah Etam pun berubah menjadi pusat pemberdayaan ekonomi kreatif yang nyata dan tertata. (Dri/Adv)



Pasang Iklan
Top