
TENGGARONG, (KutaiRaya.com) Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kukar, Maman Setiawan, menegaskan bahwa tahun ini fokus utama pembangunan daerah adalah pengembangan sumber daya manusia (human development). Menurutnya, kunci keberhasilan suatu daerah terletak pada kualitas manusianya.
"Kalau kita ingin sukses, yang harus diperhatikan terlebih dahulu adalah manusianya. Karena itu, pembangunan manusia menjadi prioritas utama kami," ujar Maman Setiawan saat ditemui media KutaiRaya.com diruang kerjanya Kamis (6/3/25)
BRIDA Kukar telah melakukan kajian pada tahun 2024 terkait kesesuaian minat dan bakat siswa, dengan mengambil sampel dari pelajar SMP dan SMA. Kajian ini bertujuan untuk menekan angka putus sekolah, terutama bagi mereka yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.
Maman mengungkapkan, pihaknya sempat mempertanyakan penyebab masih tingginya angka putus sekolah di Kukar, padahal fasilitas pendidikan telah memadai dengan alokasi anggaran mencapai 20% dari APBD, atau lebih dari Rp1 triliun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak anak kehilangan motivasi karena jalur pendidikan yang mereka jalani tidak sesuai dengan minat dan bakatnya.
"Anak-anak merasa dipaksa masuk ke bidang yang tidak mereka sukai. Akibatnya, mereka hanya menjalani sekolah secara formal, tetapi tidak memiliki semangat untuk belajar," jelasnya.
Pemerintah memiliki tugas besar dalam memahami minat dan bakat anak sejak dini agar mereka bisa mendapatkan pendidikan yang sesuai. Hasil kajian BRIDA menunjukkan bahwa ada siswa yang berminat di bidang medis, olahraga, maupun teknik, namun fasilitas yang menunjang bidang tersebut belum tersedia di semua daerah.
Maman juga menyampaikan hasil kajian yang menunjukkan bahwa rata-rata skor IQ anak-anak di Kukar hanya 80, lebih rendah dari nilai normal yang seharusnya sekitar 90. Namun, ia menegaskan bahwa skor IQ rendah bukan berarti anak-anak tersebut bodoh, melainkan mereka lebih lambat dalam menyerap informasi dan merespons masalah.
"Masalah ini harus segera dibenahi agar tidak berdampak pada kualitas pendidikan dan sumber daya manusia di masa depan," tambahnya.
Terkait pelaksanaan kajian terhadap siswa SMA, BRIDA sempat mendapat kritik karena pendidikan tingkat atas merupakan kewenangan provinsi. Namun, Maman menegaskan bahwa BRIDA sebagai lembaga riset memiliki wewenang untuk melakukan penelitian hingga tingkat yang lebih tinggi.
"Kami bukan Dinas Pendidikan, melainkan lembaga riset yang bertugas mengkaji berbagai aspek pembangunan. Harapan kami, kajian ini bisa dilakukan setiap tahun, bahkan dimulai sejak jenjang pendidikan yang lebih rendah," tuturnya.
Selain itu, BRIDA juga menilai pentingnya melibatkan psikolog dalam menggali bakat dan potensi anak-anak. Sayangnya, rencana ini belum dapat direalisasikan akibat adanya pemangkasan anggaran.
"Ke depannya, inovasi dalam pendidikan harus terus dikembangkan agar anak-anak bisa menemukan potensinya sejak dini dan mendapatkan fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan mereka," pungkasnya. (adv/dri)