
KUKAR (KutaiRaya.com) - Kabupaten Kutai Kartanegara memiliki beberapa Kecamatan yang wilayahnya berbatasan langsung dengan Selat Makassar, salah satunya Kecamatan Muara Badak.
Di perairan Muara Badak yang strategis bagi lalu lintas kapal dan menjadi sumber daya perikanan penting. Namun lalu lintas kapal besar telah membawa dampak negatif berupa sampah laut, salah satunya adalah limbah tali bekas kapal. Melihat kondisi ini PT Pertamina Hulu Sanga-sanga (PHSS) menyadari bahwa tali tersebut dapat diolah kembali menjadi tali rumpon, yang biasa digunakan oleh nelayan, maupun juga dapat diolah menjadi produk turunan lainnya, seperti tempat sampah dan aksesoris lainnya yang memiliki nilai tambah perekonomian masyarakat dan mendukung upaya pengurangan limbah.
Sejak tahun 2020, PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS) mulai bersinergi dengan kelompok rentan yang mayoritas perempuan di Desa Badak Baru dalam program pengembangan masyarakat, menginisiasi kegiatan pemberdayaan pemanfaatan kembali tali bekas kapal bersama Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Balanipa.
Media ini berkesempatan menemui langsung Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Balanipa atau Local Hero Sahabuddin didampingi sejumlah staf dari PT PHSS, dilokasi aktifitas kegiatannya di Desa Badak Baru, Senin (28/10/2024).
Dalam kesempatan itu Sahabuddin menceritakan, sebenarnya awal dari kegiatan ini rencana saya ingin bisnis jual beli bahan baku saja sebelum didaur ulang atau dikelola, tapi dalam perjalannya ada penyampaian dari keluarga kenapa tidak sekalian dikelola. Jadi sejak 2019 mulai bekerja fokus kepada daur ulang, kemudian saya memanggil teman-teman untuk membantu yang awalnya hanya 12 orang sekarang 16 orang.
"Dan alhamdulillah sejak saat itu bisnis ini berjalan yang sebelumnya satu hari bisa mengerjakan 4 sampai 5 roll, setelah itu saya berpikir ada perusahaan di Muara Badak yang bisa jadi Mitra yakni PT Pertama Hulu Sanga-sanga dengan persyaratan kegiatan kami harus membuat kelompok usaha bersama (KUBE), lalu saya libatkan pemerintah Desa Badak Baru untuk dibuatkan KUBE, dan alhamdulillah pihak PT PHSS memberikan peluang, jadi pembinaan kepada kami mulai dilakukan sejak tahun 2020 sampai sekarang, " ujar Sahabuddin.
Ia mengatakan, untuk daur ulang bahan baku ini awalnya saya belajar di kampung saya di Sulawesi Barat untuk belajar mengolah bahan ini menjadi tali rompon tapi masih manual, setelah ada dasar saya berpikir lagi bagaimana caranya supaya teman-teman yang bergabung bisa memproduksi lebih banyak lagi.
"Untuk cara memasarkan hasil olahan ini awalnya saya masih bingung tapi tak disangka ada aja orang datang membeli olahan kami, paling banyak dari Bontang. Dan teman-teman yang bergabung di KUBE semuanya mengucapkan terimakasih, karena dengan adanya kegiatan ini mereka sangat terbantu, salah satunya ada anak dari anggota kami yang berhasil sampai lulus sarjana dengan adanya penghasilan dari usaha ini. Untuk anggota setiap bulannya bisa menghasilkan uang rata-rata Rp 3 juta lebih dari usaha ini, " terangnya.
Ia mengaku, saat ini untuk penyediaan bahan baku cukup sulit, sampai saya mencari di daerah Sangkulirang, Sangatta, Bontang sampai di Kuala Samboja, bahan baku tali ini biasanya kami ambil dari bekas kapal tongkang.
Ia juga menjelaskan, dinamai KUBE Balanipa ini merupakan nama kampungnya di Sulawesi Barat, dan saya berharap kepada perusahaan PT PHSS semoga kedepannya bisa melepaskan KUBE ini setelah bisa menjadi mandiri. Dan selama ini kami bersyukur sudah banyak bantuan dari PT PHSS, seperti dibuatkan tempat pekerjaan pengolahan yang layak ditambah bantuan solar cell termasuk bantuan alat-alat pendukung lainnya.
"Selama menjadi Mitra kami juga sudah mempersembahkan Piagam penghargaan. Dan hadirnya KUBE ini harapan saya dapat membantu perekonomian anggota yang telah membantu, yakni masyarakat sekitar, " imbuhnya.
Dan tentunya hasil yang diraih atas sinergi ini cukup menggembirakan, dengan program ini PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS) berhasil menerima penghargaan di ajang Eco Tech Pioneer and Sustainability Award (EPSA) 2024 yang digelar Departemen Teknik Lingkungan Universitas Diponegoro melalui beragam inovasi di bidang teknologi ramah lingkungan.
Ajang EPSA merupakan apresiasi kepada perusahaan-perusahaan yang memiliki komitmen besar dalam menciptakan inovasi teknologi untuk menjaga dan melindungi lingkungan. Dan PT. PHSS berhasil membawa pulang empat penghargaan Gold dan meraih penghargaan tertinggi, Best Award, dari acara penganugerahan yang berlangsung di Hotel Tentrem, Semarang, (31/08/2024), salah satunya program CSR unggulan PT PHSS di bidang lingkungan dan ekonomi di wilayah Muara Badak, Kalimantan Timur bersama KUBE Balanipa dengan inovasi berupa pengolahan sampah tali bekas kapal menjadi tali berkualitas untuk rumpon.
Dari Release yang dikeluarkan PT PHSS, Sr Manager Production & Project Zona 9 Ade Diar Suhendar menyampaikan, pengembangan Program Balanipa juga memiliki unsur transfer pengetahuan (transfer of knowledge) dari para pekerja migas di Zona 9 Subholding Upstream Pertamina kepada anggota mitra binaan.
"Transfer pengetahuan yang dilakukan terdiri dari beberapa aspek seperti technology capabilities, infrastructure capabilities, dan market-interface capabilities,” jelas Ade.
Sementara itu, Head of Communication & CID Zona 9 Elis Fauziyah menambahkan, bahwa Program Balanipa sejauh ini telah mengolah 81 ton limbah tali dan memberikan kontribusi penurunan emisi sebesar 419,58 ton CO2 eq per tahun. Program ini, lanjut Elis, sudah memproduksi 450 rol tali dengan omzet Rp168 juta per bulan. KUBE Balanipa saat ini memiliki 16 anggota.
"Berkat upaya yang konsisten dan manfaat yang dihasilkan, Program Balanipa ini berhasil menyabet sejumlah penghargaan di tingkat regional dan nasional, di antaranya penghargaan Indonesia Sustainable Development Goals Award (ISDA) 2021 dengan capaian SDGs 12.5, penghargaan Gold Kukar CSR Award 2023 untuk subkategori Biosphere, serta penghargaan Gold ISRA Awards 2024 untuk kategori Economic Empowerment,” ungkapnya.
Menurut Elis, Program Balanipa juga berkontribusi terhadap upaya pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu Tujuan 5 tentang Kesetaraan Gender (Gender Equality), Tujuan 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi (Decent Work and Economic Growth).
"Serta tujuan 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab (Responsible Consumption and Production), " tutupnya. (One)