
Habib Abdul Qodir bin Yahya Al Habsy saat memberikan ceramah, Senin (7/9/2026).(Foto: Yudi/KutaiRaya.com)
SAMARINDA, (KutaiRaya.com) : Kemarau panjang yang melanda Kalimantan Timur dalam beberapa bulan terakhir mendorong Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kaltim bersama relawan Info Taruna Samarinda (ITS) menggelar shalat Istisqa di Samarinda, Senin (7/9/2026).
Shalat meminta hujan tersebut dilaksanakan secara spontan di tepi jalan dan diikuti sekitar 50 jurnalis dari berbagai media. Kegiatan itu digelar di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap kebakaran lahan dan kabut asap yang mulai memengaruhi kondisi udara di Samarinda.
Ketua PWI Kaltim, Abdurrahman Amin, mengatakan pelaksanaan shalat Istisqa dilatarbelakangi keprihatinan terhadap kondisi kemarau yang telah berlangsung lebih dari dua bulan.
Menurutnya, minimnya curah hujan disertai cuaca panas turut meningkatkan risiko kebakaran lahan di sejumlah wilayah hingga menimbulkan kabut asap.
“Shalat Istisqa ini kami laksanakan secara spontan melihat kondisi cuaca yang sangat panas. Lebih dari dua bulan hujan tidak turun, sementara kebakaran lahan terjadi di berbagai tempat dan asap mulai menyelimuti Samarinda,” katanya.
Melalui ikhtiar tersebut, ia berharap hujan segera turun sehingga dapat membantu mengatasi kekeringan sekaligus mengurangi dampak kebakaran lahan.
“Selain berbagai upaya yang dilakukan, kami juga berikhtiar melalui doa. Mudah-mudahan Allah mengabulkan dan segera menurunkan hujan,” ujarnya.
Shalat Istisqa tersebut turut dihadiri Wakil Wali Kota Samarinda Saefuddin Zuhri, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Samarinda Aji Syarif Hidayatullah, serta sejumlah anggota Tim Wali Kota untuk Akselerasi Pembangunan (TWAP).
Sebelum pelaksanaan shalat, Saefuddin Zuhri mengajak masyarakat menjadikan kondisi kemarau dan kabut asap sebagai momentum untuk melakukan introspeksi sekaligus memohon agar hujan segera turun.
“Mari bersama-sama mengetuk pintu langit dan memohon ampunan kepada Allah. Kita berharap hujan segera diturunkan membawa keberkahan sekaligus membantu menghilangkan kabut asap di Samarinda,” ujar Saefuddin.
Ia juga mengapresiasi inisiatif PWI Kaltim dan ITS yang menggelar shalat Istisqa sebagai bagian dari ikhtiar menghadapi kondisi kemarau.
Meski dilaksanakan di tepi jalan, rangkaian ibadah berlangsung khusyuk. Shalat Istisqa dipimpin ulama asal Solo, Jawa Tengah, Habib Abdul Qodir bin Yahya Al Habsy.
Pada rakaat pertama, setelah takbiratul ihram, imam memimpin tujuh takbir tambahan sebelum membaca Surah Al-Fatihah dan Al-A
Pada khutbah seusai shalat, Habib Abdul Qodir mengingatkan jemaah mengenai pentingnya memperbanyak istighfar dan bertobat kepada Allah SWT.
Ia kemudian mengisahkan peristiwa pada masa Rasulullah ketika seorang sahabat mengadukan kekeringan, tanaman yang mati hingga kesulitan memperoleh rezeki. Menurutnya, salah satu tuntunan yang diberikan adalah memperbanyak istighfar dan memohon ampun kepada Allah.
Habib Abdul Qodir juga menyampaikan tiga pesan kepada jemaah dalam menghadapi kondisi tersebut. Pertama, memperbanyak istighfar. Kedua, memperbaiki dan menyambung kembali hubungan silaturahmi, terutama dengan keluarga dan orang tua. Ketiga, menunaikan hak orang lain serta tidak melalaikan kewajiban.
Ia secara khusus mengingatkan pentingnya menunaikan zakat serta menjaga pelaksanaan ibadah.
“Perhatikan kembali zakat kita dan jangan sampai ada hak yang ditahan. Begitu pula dengan ibadah, jangan sampai ada kewajiban yang kita lalaikan. Mari memperbaiki semuanya dan memohon agar Allah menurunkan rahmat-Nya,” pungkasnya. (*Yud)