• Senin, 24 Agustus 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Rapat pembahasan ketersediaan pangan di Kabupaten Mahakam Ulu, Senin (10/8/2026).(Foto: Yudi/KutaiRaya.com)


SAMARINDA, (KutaiRaya.com) : Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur bergerak cepat mengantisipasi potensi kelangkaan bahan pangan di Kecamatan Long Pahangai dan Long Apari, Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu). Surutnya debit Sungai Mahakam akibat musim kemarau mulai menyulitkan distribusi kebutuhan pokok menuju kawasan hulu dan perbatasan Kaltim tersebut.

Sejumlah kebutuhan masyarakat seperti beras, gula, minyak goreng hingga LPG 3kg menjadi perhatian pemerintah. Kondisi tersebut dinilai perlu ditangani sejak dini agar hambatan distribusi tidak berkembang menjadi persoalan ketersediaan maupun lonjakan harga kebutuhan pokok.

Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud meminta seluruh perangkat daerah dan instansi terkait segera menentukan skema distribusi paling efektif agar memastikan kebutuhan masyarakat Long Pahangai dan Long Apari tetap terpenuhi.

“Terpenting bagaimana sembako bisa sampai ke sana. Jangan sampai ada masyarakat Kalimantan Timur mengalami kesulitan mendapatkan bahan pangan. Ini harus jadi perhatian serius kita,” ujar Rudy saat memimpin Morning Briefing secara daring dari Jakarta, Senin (10/8/26).

Menurutnya, sejumlah alternatif perlu dihitung berdasarkan kondisi lapangan, mulai dari penggunaan kapal dan speed boat berkapasitas besar hingga optimalisasi jalur darat. Sementara penggunaan helikopter tidak menjadi pilihan utama karena kapasitas angkut terbatas dengan biaya operasional yang relatif tinggi.

Selama ini, ketika debit Sungai Mahakam mengalami penurunan, bahan kebutuhan pokok terlebih dahulu dikirim menuju Ujoh Bilang. Selanjutnya, sembako diangkut secara bertahap menggunakan kapal berukuran lebih kecil menuju Long Pahangai dan Long Apari.

Namun, semakin surutnya sungai membuat pola distribusi tersebut menghadapi tantangan lebih besar.

Wakil Gubernur Kalimantan Timur Seno Aji mengatakan jalur darat dapat menjadi salah satu alternatif agar menjaga kelancaran distribusi kebutuhan masyarakat. Berdasarkan kondisi di lapangan, ruas Ujoh Bilang menuju Long Pahangai sepanjang sekitar 60 kilometer masih memungkinkan dilalui truk pengangkut sembako.

“Jalur dari Ujoh Bilang menuju Long Pahangai pada prinsipnya masih dapat dilewati kendaraan pengangkut sembako. Memang ada beberapa titik yang membutuhkan penanganan, terutama di sekitar Long Mesangaat. Karena itu, kita ingin akses tersebut segera diperkuat agar distribusi tidak hanya bergantung pada kondisi Sungai Mahakam,” katanya.

Sementara untuk jalur Long Pahangai menuju Long Apari yang memiliki jarak sekitar 100 kilometer, menurut Seno, masih terdapat sejumlah bagian jalan yang perlu dirapikan menggunakan material pasir dan batu (sirtu).

Pemprov Kaltim pun akan mengoptimalkan keberadaan alat berat Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Perumahan Rakyat (PUPR-Pera) yang berada di sekitar Mahakam Ulu untuk membantu penanganan titik-titik jalan yang sulit dilalui.

“Kita harus memastikan masyarakat di wilayah hulu mendapatkan kebutuhan pokok sebagaimana daerah lainnya. Kalau akses darat bisa kita optimalkan, maka ini menjadi solusi penting ketika debit sungai turun. Titik-titik yang sulit dilalui akan kita koordinasikan untuk segera ditangani,” lanjutnya.

Pemprov Kaltim juga memperkuat koordinasi bersama Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu, Bulog, Pertamina, Disperindagkop UKM, Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura serta perangkat daerah terkait lainnya.

Intervensi melalui kegiatan pasar murah turut disiapkan untuk menjaga ketersediaan sekaligus daya beli masyarakat. Dukungan subsidi ongkos angkut juga dialokasikan, yakni sekitar Rp50 juta melalui Disperindagkop UKM dan sekitar Rp57 juta melalui Dinas Pangan.

Rudy mengingatkan penanganan harus dilakukan sebelum kondisi semakin sulit, terlebih musim kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga Oktober 2026.

“Jangan sampai kita keteteran kalau sudah kejadian,” tegasnya.

Selain kebutuhan pangan, ia meminta Pertamina memastikan distribusi LPG 3kg tetap menjangkau Mahakam Ulu hingga tingkat pangkalan.

Pemprov Kaltim juga mulai memikirkan solusi jangka panjang agar persoalan distribusi tidak terus berulang ketika Sungai Mahakam mengalami penyusutan debit akibat kemarau maupun fenomena cuaca ekstrem.

Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah pembangunan gudang penyimpanan kebutuhan pokok di lokasi strategis di Mahakam Ulu. Keberadaan gudang tersebut diharapkan memungkinkan pemerintah menyiapkan stok pangan lebih awal sebelum jalur distribusi terganggu.

“Kalau perlu kita bangun gudang sembako untuk mengantisipasi kondisi seperti ini. Jangan menunggu sampai terjadi baru kita bergerak,” ungkapnya.

Gubernur juga meminta Dinas PUPR-Pera Kaltim mengecek secara langsung kondisi akses darat menuju Long Pahangai dan Long Apari. Apabila memungkinkan dilalui kendaraan angkutan barang, jalur darat akan dipersiapkan sebagai alternatif utama agar mengurangi ketergantungan distribusi melalui Sungai Mahakam selama musim kemarau. (*Yud)



Pasang Iklan
Top