• Minggu, 26 Juli 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Kolase beberapa kebakaran lahan di Kota Samarinda. Jumat (24/07/2026).(Foto: Abi/KutaiRaya.com)


SAMARINDA, (KutaiRaya.com) : Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda meningkatkan kewaspadaan menghadapi puncak musim kemarau yang diperkirakan terjadi pada Juli hingga Agustus 2026. Hingga memasuki pertengahan tahun, tercatat sebanyak 23 kejadian kebakaran lahan dengan luas area terdampak mencapai sekitar 11 ribu meter persegi.

Kepala BPBD Kota Samarinda, Suwarso, mengatakan tren penurunan curah hujan dan meningkatnya suhu udara menjadi indikator masuknya musim kemarau. Kondisi tersebut dinilai berpotensi semakin berat apabila fenomena El Nino terjadi dalam beberapa waktu ke depan.

"Masuk di Juli hingga Agustus diperkirakan menjadi periode puncak kemarau. Kami juga mendapat peringatan terkait potensi El Nino yang bisa meningkatkan ancaman kebakaran," ujar Suwarso, Jumat (24/7/2026).

Berdasarkan hasil pemetaan BPBD, sejumlah kawasan seperti Sambutan, Sungai Kunjang, dan Palaran masuk dalam kategori wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi. Ketiga kecamatan tersebut akan menjadi prioritas pengawasan selama musim kemarau berlangsung.

"Wilayah-wilayah tersebut menjadi fokus pengawasan selama beberapa pekan ke depan," jelasnya.

Dari hasil evaluasi terhadap berbagai kejadian kebakaran, BPBD menemukan sebagian besar insiden dipicu oleh aktivitas manusia. Modus yang paling sering ditemukan antara lain pembukaan lahan menggunakan api, pembakaran sampah yang tidak terkendali hingga merembet ke lahan sekitar, serta dugaan pembakaran yang dilakukan secara sengaja.

Kasus kebakaran sendiri tersebar di sejumlah wilayah Kota Samarinda, di antaranya Kecamatan Sungai Pinang, Sambutan, Palaran, hingga Sungai Kunjang. Salah satu kejadian terbesar terjadi di kawasan Perumahan Artas, Jalan Damanhuri, Kelurahan Mugirejo, Kecamatan Sungai Pinang, yang menghanguskan sekitar 2.000 meter persegi lahan dan sempat mengancam permukiman warga.

Menghadapi potensi meningkatnya kebakaran, BPBD memperkuat sistem respons cepat melalui Kelurahan Tangguh Bencana. Upaya tersebut juga didukung koordinasi intensif bersama Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) serta Manggala Agni agar setiap laporan titik api dapat segera ditindaklanjuti.

"Koordinasi juga terus diperkuat agar setiap laporan titik api bisa segera ditangani," kata Suwarso.

Ia menjelaskan, petugas akan langsung menuju lokasi begitu menerima informasi, baik berdasarkan laporan masyarakat yang disertai titik koordinat maupun hasil pemantauan di lapangan.

Selain meningkatkan kesiapsiagaan, BPBD terus mengedukasi masyarakat agar tidak melakukan pembakaran saat membersihkan lahan maupun membuang sampah. Langkah tersebut dinilai penting mengingat Samarinda pernah mengalami peristiwa fatal akibat kebakaran lahan, ketika seorang warga di kawasan Sambutan meninggal dunia karena terjebak kepulan asap saat melakukan pembakaran.

"Kami terus mengingatkan masyarakat agar tidak membakar sampah maupun membuka lahan dengan cara dibakar. Kalau menemukan titik api, segera laporkan agar bisa ditangani sebelum meluas," pungkasnya. (*Abi)



Pasang Iklan
Top