
Kepala Perwakilan BI Balikpapan, Robi Ariadi, Jumat (29/5/2026).(Foto: Sulastri/KutaiRaya.com)
BALIKPAPAN, (KutaiRaya.com): Harga rumah baru di Kota Balikpapan terus mengalami kenaikan pada triwulan I 2026. Namun di saat yang sama, penjualan rumah justru merosot tajam hingga lebih dari 55 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Berdasarkan hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Balikpapan, Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada triwulan I 2026 tercatat sebesar 107,67 atau tumbuh 1,44 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka tersebut meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang hanya tumbuh 0,43 persen.
Kepala Perwakilan BI Balikpapan, Robi Ariadi, mengatakan kenaikan harga rumah terjadi pada seluruh tipe hunian, baik rumah kecil, menengah, maupun besar.
“Kenaikan harga terutama dipengaruhi penyesuaian harga jual oleh pengembang akibat meningkatnya harga bahan bangunan dan upah tenaga kerja,” ujar Robi Ariadi, pada hari Jumat (29/5/2026).
Rumah tipe besar tercatat mengalami kenaikan harga tertinggi mencapai 2,93 persen (yoy), disusul rumah tipe kecil sebesar 1,85 persen dan tipe menengah sebesar 0,38 persen.
Meski harga terus meningkat, volume penjualan rumah baru justru mengalami penurunan signifikan. Pada triwulan I 2026, jumlah rumah baru yang terjual hanya mencapai 72 unit, turun 55,56 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 162 unit.
Penurunan terdalam terjadi pada rumah tipe kecil yang penjualannya anjlok dari 109 unit menjadi 36 unit atau turun hampir 67 persen. Sementara rumah tipe besar turun 40,62 persen dan rumah tipe menengah turun 19,05 persen.
Menurut Robi, melemahnya penjualan rumah dipengaruhi beberapa faktor, di antaranya masyarakat yang lebih memprioritaskan kebutuhan Ramadan dan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri pada awal tahun 2026.
Selain itu, kenaikan harga rumah juga membuat sebagian konsumen memilih menunda keputusan membeli hunian baru.
“Alokasi belanja masyarakat masih lebih fokus pada kebutuhan hidup dan konsumsi, sehingga pembelian rumah belum menjadi prioritas,” jelasnya.
Meski demikian, para pengembang di Balikpapan masih optimistis terhadap prospek pasar properti ke depan. Sejumlah developer mulai menyiapkan strategi baru dengan fokus membangun rumah tipe kecil dan menengah yang dinilai lebih terjangkau bagi masyarakat.
Selain itu, pengembang juga memperkuat strategi promosi serta inovasi desain rumah untuk meningkatkan minat pembeli.
Dari sisi pembiayaan, mayoritas konsumen masih mengandalkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Pada triwulan I 2026, sebanyak 71 persen pembelian rumah baru menggunakan fasilitas KPR, meski angka tersebut menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 87,7 persen.
Sementara itu, hasil Survei Perkembangan Properti Komersial (PPKom) BI Balikpapan menunjukkan harga properti komersial di Balikpapan mengalami penurunan tipis sebesar 0,10 persen (yoy), meski lebih baik dibandingkan penurunan triwulan sebelumnya.
Kinerja sektor hotel tercatat mulai membaik seiring meningkatnya mobilitas pekerja dan aktivitas bisnis di Balikpapan, terutama karena operasionalisasi Kilang Pertamina Balikpapan, pembangunan tahap II Ibu Kota Nusantara (IKN), serta meningkatnya kegiatan MICE dan kedinasan.
BI Balikpapan menilai prospek sektor properti di Balikpapan masih cukup menjanjikan ke depan, didukung berbagai proyek industri hilirisasi dan pembangunan strategis yang terus berjalan di wilayah Kalimantan Timur.
Untuk mendukung pemulihan sektor properti, Bank Indonesia juga terus memperkuat kebijakan makroprudensial, termasuk melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) guna mendorong pembiayaan sektor perumahan dan pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan. (Las)