• Sabtu, 30 Mei 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Penemuan Rocket Parachute Flare, Kamis (28/5/2026).(Dok. Tangkapan Layar Vidio facebook/Awang Akhmadi)


TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Sebuah Rocket Parachute Flare dilaporkan jatuh di atap rumah warga di Desa Liang Ulu, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), pada Kamis (28/5/2026) sekitar pukul 20.00 WITA.

Petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Bangun bersama warga sekitar bergerak cepat memadamkan api yang diduga berasal dari benda tersebut, sehingga kobaran api tidak sempat membesar dan merambat ke bagian rumah lainnya.

Hingga saat ini, asal-usul Rocket Parachute Flare tersebut masih belum diketahui secara pasti.

Sebagai informasi, Rocket Parachute Flare atau suar parasut roket merupakan alat sinyal darurat yang biasanya digunakan di laut atau dalam kondisi penyelamatan untuk memberikan tanda keberadaan seseorang.

Alat ini meluncur ke udara dan menghasilkan cahaya api terang yang turun perlahan menggunakan parasut.

Namun, apabila jatuh di area permukiman atau benda mudah terbakar, flare dapat memicu kebakaran.

Kepala Desa Liang Ulu, Mulyadi mengatakan, peristiwa ini terjadi secara tiba-tiba saat waktu salat Isya.

“Warga tiba-tiba melihat cahaya merah jatuh ke rumah warga. Ada dua buah flare. Yang satu parasutnya terbuka, sedangkan yang satu lagi meledak tepat di atas rumah,” ujarnya.

Menurutnya, beruntung rumah warga menggunakan atap seng sehingga api tidak sempat membakar bangunan.

“Alhamdulillah rumah warga itu rumah seng, jadi tidak sempat terbakar,” katanya.

Mulyadi mengatakan, dugaan sementara flare tersebut berasal dari barang kedaluwarsa milik oknum pekerja kapal yang kemungkinan sengaja ditarik hingga meledak.

Namun hingga kini, belum ada pihak yang mengakui kepemilikan benda tersebut.

“Perkiraan warga memang ada yang bekerja di kapal. Barang itu mungkin sudah kedaluwarsa lalu ditarik hingga meletus. Tapi semuanya tidak ada yang mengaku,” tuturnya.

Menurutnya, kecil kemungkinan flare tersebut digunakan oleh kapal yang melintas di sungai, sebab jalur sungai di wilayah itu cukup dekat dengan permukiman dan awak kapal dinilai memahami prosedur keselamatan.

“Kalau kapal kecil kemungkinan menggunakan itu, karena alur sungai dekat dan mereka pasti punya SOP (Standar Operasional Prosedur),” tambahnya.

Peristiwa ini telah dilaporkan ke aparat setempat.

Petugas juga disebut telah melakukan pengecekan terhadap sejumlah kapal dan kode yang terdapat pada plongsong flare untuk mengetahui asal benda tersebut.

“Sudah dilaporkan. Aparat juga sudah mengecek kapal-kapal dan kode pada plongsong flare itu,” ucapnya. (Dri)



Pasang Iklan
Top