
Tangga Arung Square.(Foto: Achmad Rizki/Kutairaya)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Pedagang Tangga Arung Square (TAS) mengeluhkan penjualan produk sepi pembeli.
Hal ini diduga disebabkan belum ada pengelola TAS, pasca keributan yabg terjadi pada April 2026 lalu antara pengelola TAS, pengelola parkir dan 3 Aliansi Ormas Daerah serta belum stabilnya perekonomian daerah.
Salah seorang pedagang, Siti mengatakan, sekitar sebulan lamanya pasar ini tak ada gebrakan yang bisa mendatangkan pengunjung.
Hal ini mempengaruhi tingkat daya beli masyarakat.
"Seharusnya pasar yang mewah ini, bisa dikelola dengan baik, terlebih terus mendatangkan pengunjung," kata Siti kepada Kutairaya, Kamis (7/5/2026).
Menurutnya, pasar ini lebih baik dikelola langsung oleh pemerintah daerah, sehingga tak menimbulkan rasa iri terhadap pengelolaan aset tersebut.
Peran pemerintah daerah juga harus dapat memaksimalkan tingkat kunjungan wisatawan ke TAS, sehingga memberikan manfaat kepada masyarakat.
"Kami berharap pemerintah daerah segera membuat gebrakan untuk meramaikan pasar, tapi tidak membebani para pedagang," ucapnya.
Menanggapi hal ini, Plt Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kutai Kartanegara (Kukar), Sayid Fathullah menjelaskan, pengelolaan TAS saat ini dilakukan oleh pemerintah daerah.
Sebelumnya pengelolaan tersebut menimbulkan keributan di tengah masyarakat.
"Sementara kita ambil alih pengelolaan TAS," kata Sayid.
Pihaknya juga terus berupaya untuk meningkatkan tingkat kunjungan ke TAS, sehingga bisa memberikan manfaat bagi pedagang setempat.
"Kita akan berkolaborasi dengan OPD (Organisasi Perangkat Daerah) di Kukar, untuk sering melakukan kegiatan di TAS dan berbelanja," ucapnya. (Ary)