• Senin, 27 April 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Prosesi Sedekah Bumi di Desa Sumber Sari.(Foto: Dok. Polsek Loa Kulu)


TENGGARONG, (KutaiRaya.com) : Ritual adat sering kali dipandang sekadar tradisi turun-temurun. Namun di Desa Sumber Sari, Kecamatan Loa Kulu, Sedekah Bumi dan Bersih Desa justru menjadi ruang hidup yang menyatukan masyarakat, bukan hanya secara spiritual, tetapi juga sosial, bahkan keamanan.

Ratusan warga yang berkumpul di Balai Dusun 1, Jalan Amat Kasim, Minggu (26/4/2026).

Kapolsek Loa Kulu, AKP Hari Supranoto menerangkan, ratusan warga berkumpul untuk lakukan ritual adat, namun pihaknya juga menyoroti mengenai keamanan kegiatan.

"Kami hadir di acara ritual adat atau acara Sedekah Bumi ini bukan hanya untuk menjaga keamanan kegiatan, namun nilai kebersamaan antar warga terus kami gencarkan, " ujarnya pada KutaiRaya.com, Senin (27/4/2026).

"Hal ini dibuktikan dengan kegiatan bersih-bersih secara gotong royong, dilihat warga bahu-membahu membersihkan lingkungan, lalu berkumpul menikmati hasil bumi dalam suasana sederhana, " lanjutnya.

Namun inti dari acara ini bukan sekedar tradisi. Saat ratusan warga menundukkan kepala dalam doa bersama, suasana berubah menjadi hening dan sakral. Ikrar turun-temurun pun dikumandangkan, menjadi pengikat batin antarwarga.

"Tradisi seperti ini adalah benteng pertahanan sosial kita. Kalau warganya rukun dan bersatu, keamanan desa akan terjaga dengan sendirinya," katanya.

Dari sudut pandang keamanan, pendekatan seperti ini dinilai lebih efektif. Polisi tidak lagi berdiri sebagai pihak luar, melainkan bagian dari masyarakat itu sendiri.

Melalui kehadiran Polri menunjukkan bahwa menjaga kamtibmas tidak selalu harus dengan tindakan represif. Kadang, cukup dengan duduk bersama, mendengar, dan menghormati tradisi yang sudah hidup lama di tengah masyarakat.

Hingga akhir acara, kegiatan berjalan aman, tertib, dan penuh makna. (*Zar)



Pasang Iklan
Top