
Suansana Faskes Tabang.(Foto: Dok Puskesmas Tabang)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus memaksimalkan program Dokter Masuk Desa melalui teknologi digital.
Hal ini harus dilakukan, mengingat geografis Kukar ini sangat luas dan masih keterbatasan tenaga kesehatan atau dokter.
Ketua IDI Kukar, dr. Arif Risdianto mengatakan, Kukar ini memiliki 20 kecamatan dan program ini dinilai sangat efektif dalam melayani masyarakat, terlebih menjangkau daerah terisolasi yang jauh dari fasilitas kesehatan (faskes).
"IDI siap menjadi mitra strategis Pemkab dalam kolaborasi peningkatan kualitas kesehatan," kata Arif kepada Kutairaya, Sabtu (25/4/2026).
Menurutnya, tantangan di 2026 ini, yakni pemenuhan tenaga medis, khususnya pada zona hulu di antaranya, Kecamatan Tabang, Kembang Janggut dan lainnya.
"Wilayah Tabang, Ritan, dan Kembang Janggut adalah 3 wilayah yang perlu diperhatikan khusus. Kami terus berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan untuk memastikan target pengisian dokter di kecamatan tersebut tercapai pada 2026," tuturnya.
Untuk memastikan dokter betah mengabdi di pelosok, saat ini IDI Kukar tengah mengawal penyusunan Raperda Sistem Kesehatan Daerah (SKD).
Dalam regulasi tersebut, IDI mengusulkan 2 poin krusial, yaitu peningkatan kesejahteraan dalam hal pemberian insentif khusus bagi dokter yang bertugas di daerah pedalaman atau terpencil.
Kemudian, beasiswa putra daerah untuk menjamin pendidikan menjadi dokter, agar mereka memiliki ikatan emosional untuk kembali membangun desa asalnya.
Sementara itu Plt Kepala Dinas Kesehatan Kukar (Dinkes) Kukar, Kusnandar mengemukakan, pelayanan kesehatan menjadi salah satu prioritas program pemerintah daerah.
Hal ini telah dibuktikan dengan pengobatan gratis bagi seluruh masyarakat.
"Kita terus memaksimalkan pelayanan kesehatan. Masyarakat saat ini tak perlu repot dalam berobat di Faskes, cukup dengan menggunakan KTP," ucap Kusnandar. (Ary)