• Rabu, 22 April 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Sainah tampak mendampingi murid-muridnya belajar.(Foto: Dok Saniah)


TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Tahun 1996 menjadi titik balik yang takkan pernah dilupakan oleh Sainah (60), warga Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).

Di tengah badai hidup dan kepergian pendamping, ia berdiri tegak menantang dunia yang seolah tidak berpihak.

Dengan usia yang masih muda saat itu, ia memeluk kedua anaknya erat-erat, berjanji dalam hati bahwa masa depan mereka tidak boleh layu sebelum berkembang.

Kala itu, status Pegawai Negeri Sipil (PNS) hanyalah sebuah mimpi yang jauh di ufuk.

Sainah harus bertahan hidup dengan gaji yang sangat pas-pasan.

Angka yang bagi sebagian orang mungkin hanya cukup untuk beberapa hari, namun di tangan Sainah, uang itu harus cukup untuk sebulan, buat makan dan biaya sekolah.

Di pagi buta, ia sudah menyingkirkan rasa lelah demi memastikan kedua buah hatinya tetap merasa cukup dan tak peduli pada peluh atau cemoohan orang.

Yang ia tahu, setiap tetes keringatnya adalah investasi untuk masa depan anak-anaknya.

Dalam perjuangannya, ia juga berhasil mengantar kedua anaknya meraih gelar sarjana.

Ini membuktikan status ekonomi bukanlah penghalang bagi kesuksesan.

Hari ini di usianya ke-60, Sainah bukan sekadar seorang wanita yang berhasil menjadi PNS, melainkan seorang pahlawan tanpa tanda jasa bagi kedua anaknya.

"Perjuangan ini sangat berat, tapi dengan keyakinan tinggi pasti bisa menjalani hidup bersama anak-anak," kata Sainah kepada Kutairaya, Selasa (21/4/2026).

Ia adalah bukti nyata doa dan kerja keras seorang ibu mampu mengubah keterbatasan menjadi keberhasilan yang membanggakan.

Maka itu, kepada seluruh generasi muda terlebih kaum perempuan terus belajar dan berkarier, karena perempuan juga bisa berdiri sendiri. (Ary)



Pasang Iklan
Top