
Ilustrasi Alsintan.(Foto: Dok. Medsos Pinterest)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Petani Desa Sebuntal, Kecamatan Marang Kayu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), mengeluhkan kesulitan mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar.
Pasalnya, BBM itu digunakan untuk mengoperasikan alat mesin pertanian (alsintan), yang akan digunakan untuk mengolah lahan pertanian.
Salah seorang Petani Sebuntal, Misman mengatakan, peristiwa ini sering dialami para petani ketika ingin mengolah lahan pertaniannya menggunakan alsintan.
BBM Solar besubsidi sangat sulit didapat, karena harus ikut mengantre dengan truk besar.
"Kebutuhan BBM solar untuk sekali mengolah lahan pertanian sekitar 15-20 liter per hari. Kalau kapasitas mobil besar bisa sekitar 30-40 liter," kata Misman kepada Kutairaya, Selasa (21/4/2026).
Menurutnya, jika para petani harus membeli BBM nonsubsidi, pastinya harga BBM tersebut sangat mahal.
Dan petani tak mampu membeli karena dalam mengolah lahan pertanian tak cukup sehari.
"Biaya operasional petani ini sudah tinggi, jika petani menggunakan BBM non bersubsidi, maka semakin bengkak biaya operasionalnya," ucapnya.
Terkait hal ini, ia telah menyampaikan kepada penyuluh pertanian, untuk dapat memberikan solusi atas kendala ini.
"Kami sudah menyampaikan kepada penyuluh pertanian, tapi belum ada solusi yang diberikan," ujarnya.
Dia berharap pemerintah daerah bisa segera menangani persoalan ini, karena untuk memudahkan kerja petani menggunakan alsintan, tentu harus menggunakan BBM.
"Kami berharap pemerintah daerah bisa memberikan solusi atas persoalan ini," ucapnya penuh harap.
Sementara itu Camat Marang Kayu, Ambo Dalle menuturkan, sebagian besar petani di sini mengeluhkan sulit mendapatkan BBM, untuk mengoperasikan alsintan.
"BBM bersubsidi sangat dibutuhkan petani, untuk mengoperasikan alsintan. Sehingga ini harus ada solusi," kata Ambo Dalle.
Menaggapi hal itu, Sekretaris Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar, Muhammad Rifani menjelaskan, para petani bisa mengajukan permohonan terkait hal tersebut ke Distanak Kukar.
Hal serupa juga dialami oleh petani Loa Kulu dan Tenggarong.
Mereka telah mengajukan permohonan ke Distanak dan memberikan rekomendasi SPBU untuk penyaluran BBM.
"Petani Marang Kayu bisa mengajukan permohonan terkait akses permudah mendapatkan BBM," ujarnya.
Ia mengemukakan, nantinya Distanak akan memverifikasi terhadap petani yang mengajukan permohonan dan memberikan barcode untuk memudahkan perolehan BBM. (Ary)