• Jum'at, 17 April 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Kota Samarinda Di Jalan Pelita, Kelurahan Sungai Pinang Dalam, Kecamatan Sungai Pinang, Kota Samarinda.(Foto: Abi/KutaiRaya)


SAMARINDA, (KutaiRaya.com) : Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda terus memperkuat pelayanan kesehatan melalui penerapan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), di seluruh Fasilitas Kesehatan (Faskes). Hingga 2026, seluruh puskesmas di Samarinda telah berstatus BLUD, termasuk rumah sakit dan Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda).

Penerapan sistem BLUD di seluruh Faskes di Kota Samarinda, sebagai upaya meningkatkan kualitas pelayanan sekaligus memperkuat pengelolaan keuangan yang lebih fleksibel. Dengan sistem ini, layanan kesehatan diharapkan lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat, tanpa mengabaikan prinsip tata kelola yang akuntabel.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda, Ismed Kusasih, menyebutkan bahwa total BLUD di sektor kesehatan kini mencapai 28 unit.

“BLUD kita sekarang sudah 28. Itu terdiri dari seluruh Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat), satu Rumah Sakit (RS), dan satu Laboratorium Kesehatan Daerah,” ujarnya, Rabu (15/4/2026).

Ia menjelaskan, penerapan BLUD dilakukan secara bertahap sejak 2020, dan kini seluruh fasilitas layanan kesehatan di tingkat primer telah mengadopsi sistem tersebut.

“Terakhir di 2026 ini ada tujuh puskesmas yang melengkapi, sehingga semua sudah BLUD,” katanya.

Menurut Ismed, sistem BLUD memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan keuangan, namun tetap berada dalam koridor aturan yang ketat.

“Fleksibilitas itu bukan berarti bebas. Semua tetap mengikuti aturan tata kelola, mulai dari penetapan Kepala Daerah, hingga struktur pejabat BLUD,” jelasnya.

Ia menegaskan, tujuan utama BLUD bukan untuk mencari keuntungan, melainkan meningkatkan kualitas layanan kesehatan kepada masyarakat.

“Prinsip BLUD itu bukan profit oriented, tapi pelayanan. Kalau kemudian pendapatannya meningkat, itu bonus,” tegasnya.

Ismed mengungkapkan, sektor BLUD kesehatan juga memberikan kontribusi signifikan terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Samarinda.

“Sekitar 20 persen PAD Kota Samarinda itu berasal dari BLUD. Ini cukup besar,” ujarnya.

Salah satu capaian menonjol datang dari Laboratorium Kesehatan Daerah Kota Samarinda yang berhasil mencatat kinerja tinggi, baik dari sisi pelayanan maupun keuangan.

“Lapkesda targetnya Rp4 miliar, tapi realisasi hampir Rp6 miliar. Dari sisi kinerja juga ditetapkan sebagai yang terbaik se-Indonesia,” ungkapnya.

Ia menilai, capaian tersebut menunjukkan bahwa sistem BLUD, mampu meningkatkan kualitas pelayanan sekaligus menjaga kinerja keuangan.

“Kalau pelayanan bagus, pendapatan juga ikut naik. Itu yang kita dorong,” katanya.

Selain Lapkesda, sejumlah puskesmas dan rumah sakit di Samarinda juga menunjukkan peningkatan kinerja setelah menerapkan sistem BLUD.

“Dari 78 pelayanan publik, lima terbaik itu diraih oleh fasilitas kesehatan, baik puskesmas maupun rumah sakit yang sudah BLUD,” jelasnya.

Ismed menegaskan, keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa reformasi pengelolaan layanan kesehatan di Samarinda, berjalan ke arah yang lebih baik.

“BLUD ini menjadi kekuatan untuk meningkatkan pelayanan publik di bidang kesehatan,” pungkasnya. (*Abi)



Pasang Iklan
Top