
Ketua DPRD Kukar Ahmad Yani.(Foto: Andri Wahyudi/Kutairaya)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Ketua DPRD Kutai Kartanegara (Kukar), Ahmad Yani, menegaskan komitmen pihaknya untuk mengawal kelanjutan pembangunan Jembatan Sebulu yang hingga kini masih membutuhkan anggaran besar agar dapat difungsikan secara optimal.
Hal ini disampaikannya usai melakukan pengecekan langsung ke lapangan, Sabtu (4/4/2026), terkait progres pembangunan jembatan yang sebelumnya telah dilaporkan dalam Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Bupati Kukar tahun 2025.
“Intinya, pemerintah daerah sudah menyampaikan progres Jembatan Sebulu dalam LKPJ 2025. Karena pembangunannya menggunakan APBD 2025, maka kami dari DPRD turun langsung untuk memastikan sejauh mana progresnya,” ujarnya.
Ia mengemukakan, agar jembatan tersebut dapat tersambung dan difungsikan, masih dibutuhkan anggaran sekitar Rp 450 miliar.
Sedangkan total anggaran yang telah digelontorkan pada tahap awal pembangunan mencapai lebih dari Rp 200 miliar.
“Ini bukan angka kecil. Kita sudah menanam anggaran cukup besar, hampir Rp 300 miliar. Maka ke depan harus kita pastikan jembatan ini bisa dimanfaatkan oleh masyarakat,” tuturnya.
Menurutnya, salah satu solusi yang sedang didorong DPRD Kukar adalah penerapan skema proyek tahun jamak (multi years), agar penganggaran dapat dilakukan secara berkelanjutan hingga proyek tersebut rampung.
“Kami mendorong agar proyek ini bisa menjadi multi years. Karena kalau hanya mengandalkan anggaran 2026 sekitar Rp 13 miliar, tentu tidak akan cukup untuk menyelesaikan pembangunan,” ujarnya.
Yani juga menyoroti kondisi keuangan daerah yang tengah mengalami defisit, sehingga diperlukan dukungan pendanaan dari pemerintah provinsi maupun pusat.
“Kita harapkan ada support dari APBD Provinsi maupun APBN. Ini adalah tanggung jawab bersama, bagaimana pembangunan infrastruktur bisa benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” tambahnya.
Sementara itu Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kukar, Linda Juniarti, menjelaskan berdasarkan perencanaan tahun 2023, kebutuhan anggaran untuk pembangunan bentang tengah jembatan diperkirakan mencapai Rp 460 miliar hingga Rp 480 miliar, di luar biaya pengawasan dan administrasi.
“Untuk bentang tengah sampai saat ini memang belum dikerjakan. Yang sedang berjalan adalah pembangunan jalan pendekat,” ujarnya.
Ia menyebutkan, total kebutuhan anggaran proyek Jembatan Sebulu secara keseluruhan, termasuk jalan pendekat, mencapai hampir Rp 900 miliar.
Jalan tersebut terdiri dari beberapa segmen dengan panjang bervariasi, mulai ratusan meter hingga sekitar 1,5 kilometer.
Menurut Linda, salah satu kendala utama belum dimulainya pembangunan bentang tengah adalah belum terpenuhinya persyaratan dari Komisi Keselamatan Jembatan dan Terowongan Jalan (KKJTJ) di bawah Balai Jembatan Kementerian PUPR.
“KKJTJ mensyaratkan adanya hasil pengeboran tanah hingga kedalaman sekitar 60 meter di titik pilar jembatan. Ini membutuhkan peralatan khusus yang tidak semua penyedia miliki,” ujarnya.
Ia menambahkan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Balai Jembatan sejak Desember 2025.
Dan, kegiatan pengeboran tanah tersebut telah dianggarkan pada tahun 2026.
Hasilnya nanti akan menjadi dasar persetujuan desain layak fungsi.
Dari sisi progres, Linda mengatakan, realisasi anggaran pada 2024 mencapai sekitar Rp 160 miliar dan tahun 2025 sebesar Rp 143 miliar.
Secara keseluruhan, tahap awal pembangunan telah menyerap sekitar Rp 200 miliar.
“Masih ada sekitar 300 meter jalan pendekat yang belum dibangun karena terkendala pembebasan lahan. Selain itu, ada 4 bentang yang belum terpasang girder,” ucapnya.
Untuk tahun anggaran 2026, pembangunan hanya difokuskan pada satu bentang dengan alokasi sekitar Rp 8,6 miliar.
Anggaran ini mencakup pemasangan girder, pengecoran lantai, trotoar, railing, serta pengeboran tanah di sisi sungai.
“Kami berupaya agar setiap tahun tetap ada progres, meskipun dengan keterbatasan anggaran,” ucapnya. (Dri)