• Kamis, 02 April 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Bimtek Pertanian Berbasis Spasial.(Foto: Dok. Distanak Kukar)


TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kutai Kartanegara (Kukar) terus mendorong penguatan sistem data pertanian berbasis spasial guna mendukung perencanaan pembangunan yang lebih presisi dan terukur.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Distanak Kukar, Muhammad Rifani mengatakan, pihaknya saat ini tengah melaksanakan kegiatan pembaruan (updating) data pertanian berbasis spasial melalui bimbingan teknis (bimtek) kepada para penyuluh pertanian lapangan.

“Selama beberapa hari ini kami melaksanakan bimbingan teknis penggunaan aplikasi pemetaan sederhana. Tujuannya untuk membangun basis data pertanian yang lebih presisi, tidak hanya berupa angka, tetapi juga berbasis lokasi,” ujar Rifani, Rabu (1/4/2026).

Ia menjelaskan, selama ini data pertanian umumnya hanya disajikan dalam bentuk angka, seperti luas lahan sawah di suatu wilayah.

Melalui pendekatan spasial, data tersebut kini dapat dilengkapi dengan titik lokasi yang jelas di peta.

“Misalnya luas sawah di Kecamatan Tenggarong mencapai 1.300 hektare, itu tidak hanya angka, tetapi juga bisa ditunjukkan lokasinya secara detail. Ini yang kita dorong agar data lebih akurat dan mudah digunakan dalam perencanaan,” tuturnya.

Bimtek tersebut dilaksanakan secara maraton di sejumlah kecamatan, baik secara tatap muka maupun daring bagi wilayah yang jauh.

Antusiasme para penyuluh dinilai cukup tinggi karena aplikasi yang digunakan tergolong mudah dipahami.

Dalam pelatihan tersebut, para peserta dibekali kemampuan menggunakan aplikasi pemetaan, seperti Google Earth, yang dinilai efektif untuk mendukung penyusunan data spasial di lapangan.

Rifani menambahkan, ke depan seluruh usulan dari kelompok tani diwajibkan berbasis spasial agar lebih cepat direspons oleh pemerintah, baik di tingkat kabupaten, provinsi, maupun pusat.

“Usulan yang berbasis spasial akan lebih mudah ditindaklanjuti. Contohnya, jika ada usulan normalisasi saluran irigasi, maka titik lokasi dan panjang saluran sudah tergambar jelas dalam peta, sehingga memudahkan proses verifikasi dan perencanaan,” tuturnya.

Menurutnya, data spasial juga memungkinkan perencanaan yang lebih rinci, seperti panjang saluran irigasi yang akan dibangun atau diperbaiki, tanpa harus selalu melakukan pendampingan langsung di lapangan.

Menariknya, kegiatan bimtek ini dilaksanakan secara mandiri tanpa menggunakan anggaran khusus.

Bahkan, Rifani turun langsung sebagai pelatih bagi para penyuluh.

“Ini kegiatan non-budgeter, kami lakukan secara mandiri. Saya sendiri yang melatih agar teman-teman bisa memahami penggunaan aplikasi ini. Biayanya minim, tapi manfaatnya besar untuk pembangunan pertanian di Kukar,” ucapnya.

Ia menargetkan seluruh penyuluh pertanian di Kukar sudah mampu menggunakan aplikasi pemetaan tersebut pada April 2026.

Selain itu, Distanak Kukar juga mulai mengintegrasikan berbagai data lain, seperti alat dan mesin pertanian (alsintan) ke dalam sistem berbasis spasial, lengkap dengan titik koordinat dan informasi kelompok tani.

“Ke depan, saat presentasi kita tidak perlu lagi membawa banyak dokumen. Cukup dengan laptop, semua data bisa ditampilkan melalui peta, lengkap dengan atributnya,” tambah Rifani.

Sementara itu Camat Tenggarong, Syukur Eko Budi Santoso, menyambut baik langkah yang dilakukan Distanak Kukar dalam meningkatkan kualitas data pertanian di wilayahnya.

Ia menilai pemanfaatan teknologi berbasis spasial akan sangat membantu pemerintah kecamatan dalam menyusun program pembangunan yang lebih tepat sasaran.

“Kami sangat mendukung inovasi ini, karena akan mempermudah dalam pengambilan kebijakan berbasis data yang akurat dan faktual di lapangan,” ujarnya. (Dri)



Pasang Iklan
Top