• Rabu, 01 April 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Lapangan Skatepark yang berada di Taman Pujasera.(Foto: Achmad Nizar/Kutairaya)


TENGGARONG, (KutaiRaya.com) : Setelah sekian lama merasa terabaikan, komunitas olahraga ekstrem seperti skateboard, BMX, dan sepatu roda di Tenggarong akhirnya bisa sedikit bernapas lega. Suara mereka yang selama ini tidak terdengar, kini mulai didengar oleh pemerintah.

Sebelumnya, para rider harus berlatih di area Jembatan Repo-Repo. Namun sejak pembangunan Pulau Kumala, kondisi tempat tersebut semakin memprihatinkan dan tidak lagi layak digunakan.

Berbagai upaya telah dilakukan komunitas, mulai dari pengajuan proposal hingga audiensi, demi mendapatkan fasilitas yang layak. Hingga akhirnya, Pemkab Kukar memutuskan membangun lapangan skateboard di kawasan Taman Pujasera.

Namun, harapan itu belum sepenuhnya terwujud. Fasilitas yang dibangun justru menuai kritik karena dinilai tidak memenuhi standar nasional.

Pada Senin, 30 Maret 2026, pemerintah dan para rider akhirnya duduk bersama dalam sebuah diskusi terbuka. Pertemuan ini menjadi titik terang untukmembahas kekurangan fasilitas yang ada sekaligus mencari solusi terbaik ke depan.

Salah satu rider dari komunitas BMX, Derry atau yang akrab disapa Gemon, mengungkapkan rasa syukurnya.

"Ya Alhamdulillah pemerintah sudah perhatikan kami. Sebelumnya kami nggak pernah diperhatikan, apalagi soal event-event," ujarnya pada Kutairaya.com, Senin (30/3/2026).

Meski begitu, ia menegaskan selama ini para atlet lebih banyak berjuang sendiri.

"Saya sendiri sering ikut kejuaraan nasional, tapi bukan dari pemerintah. Dari sponsor pribadi. Saya sudah keliling Indonesia, dan bulan depan juga mau berangkat lagi," katanya.

Ia berharap, pembangunan skatepark kedepannya benar-benar mengacu pada standar yang lebih tinggi.

"Harapannya sih semoga yang dibangun nanti bisa standar nasional, supaya kita bisa bersaing dengan atlet-atlet dari Jawa dan Sumatera," ucapnya.

Ia juga memberikan kritik teknis terhadap fasilitas yang sudah ada.

"Kalau dibikin lagi, jangan sampai rider tidak dilibatkan. Contohnya yang sekarang, harusnya melengkung ke atas, tapi malah kayak tembok, jadi nggak bisa dimainkan. Bahkan yang disebut bowl itu sebenarnya bukan bowl, tapi quarter. Kalau bowl itu bentuknya bulat kayak kolam renang," ungkapnya.

Menurutnya, kesalahan desain seperti ini justru membuat anggaran terbuang percuma.

"Ini jadi buang-buang dana. Bahkan yang sudah pro pun susah main di situ," tambahnya.

Ia juga menyoroti kondisi komunitas yang sebenarnya cukup besar, namun kurang berkembang karena fasilitas yang tidak memadai.

"Komunitas itu banyak, cuma banyak yang nggak tahu skatepark ini dibangun. Terus jadi lesu karena nggak standar," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kukar Wiyono, mengaku masih adanya kekurangan dalam pembangunan fasilitas tersebut.

"Memang masih ada yang belum sesuai standar nasional. Tapi tadi kita sudah diskusi dengan teman-teman komunitas," ujarnya.

Ia memastikan untuk kedepannya akan ada evaluasi lebih mendalam dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk ahli.

"Kita akan coba carikan anggaran untuk mendatangkan ahli, supaya bisa mengevaluasi yang sudah ada ini. Jangan sampai kita perbaiki tapi ternyata masih belum sesuai," tuturnya.

Menurutnya, langkah ini penting agar tidak terjadi bongkar-pasang berulang yang justru merugikan.

"Kalau salah terus diperbaiki tanpa dasar yang jelas, nanti jadi masalah lagi,"katanya.

Selain itu, pemerintah juga berencana melakukan studi banding ke beberapa daerah yang sudah memiliki fasilitas skatepark berstandar baik, seperti PPU, Balikpapan, hingga kota-kota besar seperti Bali dan Jakarta. (*Zar)



Pasang Iklan
Top