
Kepala Bidang (Kabid) Lalu Lintas Arus Jalan (LLAJ) Dishub Samarinda, Boy Leonardo Sianipar.(Foto : Abi/KutaiRaya)
SAMARINDA, (KutaiRaya.com) : Pemerintah Kota Samarinda melalui Dinas Perhubungan (Dishub) menilai kehadiran transportasi umum, menjadi kebutuhan mendesak di tengah ketidakseimbangan antara jumlah kendaraan dan kapasitas jalan.
Dishub Samarinda menilai, jumlah kendaraan di Kota Samarinda sudah mengalami overload, dan tidak lagi sebanding dengan kapasitas jalan, bahkan dalam satu rumah bisa memiliki lebih banyak kendaraan dibanding jumlah penghuninya. Kondisi ini dinilai menjadi penyebab utama kepadatan lalu lintas, sekaligus memperkuat urgensi menghadirkan transportasi umum, sebagai solusi untuk mengurangi beban kendaraan di jalan.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Samarinda, melalui Kepala Bidang (Kabid) Lalu Lintas Arus Jalan (LLAJ) Dishub Samarinda, Boy Leonardo Sianipar mengatakan, kondisi lalu lintas saat ini sudah tidak ideal.
“Jumlah kendaraan di Samarinda saat ini sudah tidak sebanding dengan kapasitas jalan. Bahkan dalam satu rumah bisa ada dua orang, tapi kendaraannya empat sampai lima unit, didominasi roda dua,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi dasar kuat bagi pemerintah untuk menghadirkan sistem transportasi umum, sebagai solusi jangka panjang.
“Kalau satu bus bisa mengangkut 40 orang, berarti kita bisa mengurangi 40 kendaraan di jalan. Itu solusi paling logis untuk mengurai kepadatan,” jelasnya.
Namun demikian, ia mengakui realisasi transportasi umum di Samarinda tidak bisa dilakukan dalam waktu dekat, mengingat kebutuhan anggaran yang sangat besar.
“Investasinya bisa mencapai triliunan rupiah. Jadi pelaksanaannya tidak bisa instan, kemungkinan akan dilakukan bertahap dan direncanakan mulai tahun depan,” katanya.
Dishub saat ini juga masih menunggu dukungan anggaran dari pemerintah pusat, untuk pembangunan infrastruktur pendukung transportasi umum tersebut.
Selain itu, konsep model transportasi yang akan digunakan juga masih dalam tahap kajian, termasuk jenis kendaraan hingga sistem operasionalnya.
“Kita belum bisa memastikan apakah nanti berbasis bus besar, kendaraan kecil, atau bahkan bus listrik. Semua itu perlu kajian mendalam, termasuk kesiapan infrastruktur pendukungnya,” ungkapnya.
Ia menambahkan, sejumlah halte yang saat ini tersebar di Kota Samarinda merupakan bagian dari rencana lama yang belum berjalan optimal.
“Halte yang ada sekarang itu sebenarnya bagian dari program sebelumnya, tapi karena tidak berjalan maksimal, akhirnya hanya jadi fasilitas yang tidak terpakai secara optimal,” jelasnya.
Kedepan, Dishub memastikan pembangunan transportasi umum akan dirancang lebih matang agar benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
“Kalau nanti dijalankan, pasti akan dibangun lebih proper. Jangan sampai investasinya besar tapi masyarakat tidak mau menggunakan,” tegasnya.
Boy juga menekankan bahwa, keberhasilan transportasi umum, sangat bergantung pada perubahan perilaku masyarakat.
“Kalau masyarakat merasa transportasi umum lebih menguntungkan, pasti akan beralih. Itu hukum ekonomi,” tutupnya. (*Abi)