
Patung dari Tradisi Ogoh-Ogoh.(Foto: Dok. Peradah Kerta Buana)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com) : Tradisi Ogoh-Ogoh, tradisi ini menjadi ciri khas budaya Bali yang menghadirkan pawai patung raksasa yang digotong keliling desa dengan penuh semangat dan makna, uniknya tradisi ini terdapat di Kabupaten Kukar, tepatnya di Desa Kerta Buana Kecamatan Tenggarong Seberang.
Ogoh-Ogoh bukan sekedar tontonan, tetapi juga bagian dari warisan budaya yang sarat nilai spiritual. Tradisi ini rutin dilaksanakan setiap tahun menjelang Hari Raya Nyepi dan selalu menjadi magnet bagi masyarakat, baik dari dalam desa maupun luar daerah.
Anak muda hingga tokoh masyarakat ikut ambil bagian dalam persiapan, mulai dari pembuatan patung hingga pelaksanaan pawai. Patung Ogoh-Ogoh yang diarak biasanya berukuran besar dan memiliki bentuk yang unik serta penuh simbol.
Dewan Pimpinan Provinsi Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (Peradah) Kaltim, An i Kadek Bayu Santika, menjelaskan makna dari tradisi tersebut.
"Kalau untuk Ogoh-Ogoh ini sebenarnya salah satu karya seni, bisa patung besar yang menggambarkan budaya dari Bali itu sendiri. Terutama Ogoh-Ogoh ini selalu muncul menjelang perayaan Hari Raya Nyepi, yang dilaksanakan satu tahun sekali," ujarnya pada Kutairaya.com, Selasa (17/3/2026).
Ia menerangkan, tradisi ini merupakan bagian penting dari adat Bali.
"Betul, ini termasuk salah satu tradisi adat Bali yang memang menjadi bagian menjelang Hari Raya Nyepi, untuk pelaksanaan pengarakan Ogoh-Ogoh tersebut," tambahnya.
Desa Kerta Buana sendiri dikenal sebagai desa transmigrasi yang sudah dihuni sejak tahun 1980an. Keberagaman menjadi ciri khas desa ini, dengan sekitar 25 suku yang hidup berdampingan.
"Mayoritas memang suku Bali, kemudian ada Lombok, Jawa, serta suku asli Kalimantan seperti Dayak dan Kutai. Untuk agama juga lengkap, dari Hindu, Islam, Protestan, Katolik hingga Buddha ada di sini," jelasnya.
Tradisi Ogoh-Ogoh di desa ini sudah berlangsung sejak awal tahun 2000an dan terus dilestarikan hingga sekarang. Meski dalam beberapa tahun terakhir pelaksanaannya berdekatan dengan bulan Ramadhan, antusias masyarakat tetap tinggi.
"Walaupun kadang bertepatan dengan bulan puasa, tetap ramai. Bahkan dulu sebelum pandemi, pengunjung datang dari luar daerah seperti Bontang dan Balikpapan," katanya.
Tak hanya menjadi hiburan, kegiatan ini juga memperkuat identitas Desa Kerta Buana sebagai kampung Bali sekaligus desa toleransi.
Namun di balik meriahnya acara, ia berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah.
"Kami berharap kedepan ada dukungan yang lebih nyata dari pemerintah, sebelumnya, kegiatan ini telah masuk dalam kalender tahunan, namun dari kami belum mendapatkan informasi mengenai hal tersebut, jadi harapannya ada dukungan secara nyata," pungkasnya. (*Zar)