
Kabid Pemberdayaan dan Pengembangan Koperasi Diskop-UKM Kukar, Endri Rosandi.(Foto: Andri Wahyudi/Kutairaya)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Pembangunan gerai Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus berproses.
Dari total 237 unit yang direncanakan, saat ini sekitar 80 lebih gerai telah memasuki tahap pembangunan dengan progres yang bervariasi.
Kabid Pemberdayaan dan Pengembangan Koperasi Diskop-UKM Kukar, Endri Rosandi, menjelaskan pembangunan Kopdes Merah Putih merupakan kerja sama Kementerian Koperasi dengan PT Agrinas.
Perusahaan tersebut mendapat penugasan melalui nota kesepahaman (MoU) untuk membangun gerai koperasi di seluruh Indonesia.
“Untuk Kukar ada 237 unit yang direncanakan. Saat ini progresnya sudah 80-an unit. Ada yang 20 persen, 40 persen, bahkan sudah 90 sampai 95 persen seperti di Desa Panca Jaya, Muara Kaman,” kata Endri, Rabu (11/2/2026).
Ia mengatakan, desain bangunan tahap pertama sudah ditetapkan secara nasional, termasuk model atap.
Terkait wacana penggunaan genteng dalam program “gentengisasi” sesuai arahan presiden, Endri mengaku pihaknya belum menerima petunjuk resmi.
“Sejauh ini belum ada arahan resmi ke daerah. Untuk pembangunan fisik sepenuhnya menjadi tanggung jawab PT Agrinas. Kalau ke depan ada perubahan kebijakan, tentu akan ada petunjuk lanjutan,” ujarnya.
Menurut Endri, pemerintah daerah pada prinsipnya mendukung program tersebut, termasuk jika nantinya mendorong penggunaan bahan baku lokal, seperti genteng.
Namun, hal itu juga perlu didukung kesiapan industri di daerah.
“Bahan baku mungkin ada, tapi industrinya yang perlu dipikirkan. Nanti bisa melibatkan dinas terkait seperti perindustrian,” tambahnya.
Ia juga mengakui tantangan pembangunan di Kukar berbeda dengan daerah di Pulau Jawa.
Luas wilayah dan kondisi geografis menjadi pertimbangan penting.
Di sejumlah kecamatan, seperti Muara Wis dan Muara Muntai yang didominasi perairan, desain bangunan beton standar dinilai kurang sesuai.
“Kalau di wilayah perairan tentu perlu penyesuaian. Mungkin itu akan masuk tahap kedua, kami masih menunggu petunjuk lebih lanjut agar desainnya bisa menyesuaikan kondisi wilayah,” katanya.
Endri menegaskan, tanggung jawab utama pemerintah daerah saat ini adalah menyiapkan lahan.
Penentuan lokasi menjadi tantangan tersendiri karena harus berada di titik strategis agar mudah diakses masyarakat.
“Gerai ini harus dibangun di lokasi strategis. Jangan sampai lahannya kosong tapi jauh dari permukiman. Itu tidak akan efektif. Karena itu kami terus berkoordinasi dengan kecamatan terkait penyiapan lahan,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Desa Sumber Sari, Sutarno, menyampaikan progres pembangunan gerai Kopdes Merah Putih di desanya telah mencapai sekitar 60 persen.
Ia berharap ada kejelasan kebijakan lanjutan dan dukungan dari pemerintah daerah agar gerai yang dibangun tidak hanya selesai secara fisik, tetapi juga dapat segera beroperasi.
“Kami ingin gerai ini tidak hanya berdiri, tapi benar-benar berjalan dan menghasilkan manfaat bagi masyarakat,” ucapnya. (Dri)