
Anggota Sanggar Tari Flobamora.(Foto: Dok. Flobamora)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com) : Keberagaman budaya menjadi kekayaan tersendiri di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Salah satu upaya pelestarian budaya daerah terus dilakukan oleh masyarakat, salah satunya melalui Sanggar Tari Flobamora yang aktif memperkenalkan seni tari khas Nusa Tenggara Timur (NTT).
Koordinator Sanggar Tari Flobamora, Angelus P. Prawiro menceritakan, awal berdirinya sanggar ini bermula dari ketidaksengajaan. Pada tahun 2023, sekitar bulan Agustus, terdapat kegiatan pentas seni yang diselenggarakan oleh pemerintah.
Banyak anak-anak yang ingin menampilkan bakat seni mereka, termasuk pihaknya yang mayoritas berasal dari Flores, NTT.
"Waktu itu ada pentas seni, kami juga ingin tampil. Karena kebanyakan dari kami orang Flores NTT, akhirnya kami sepakat membawa nama Sanggar Tari Flobamora," ujar Angelus pada Kutairaya.com, Kamis (5/2/2026).
Selain sebagai wadah minat dan bakat anak-anak, Sanggar Tari Flobamora dibentuk dengan tujuan untuk melestarikan kebudayaan daerah NTT, khususnya seni tari, agar tetap dikenal oleh generasi muda yang tumbuh di Kukar.
Nama Flobamora sendiri memiliki makna sendiri, ia menjelaskan, Flobamora merupakan singkatan dari gugusan kepulauan di NTT, yaitu Flores, Sumba, Timor, dan Alor. Nama tersebut dipilih sebagai simbol bahwa sanggar ini mewakili kekayaan budaya NTT.
Dalam setiap penampilannya, Sanggar Tari Flobamora membawakan berbagai jenis tarian tradisional dari NTT. Tarian-tarian tersebut sering dikolaborasikan, contohnya seperti Flores dan Sumba.
"Seni tradisionalnya tetap ada, tapi kami juga kombinasikan dengan sentuhan modern supaya lebih menarik," jelasnya.
Saat ini, Sanggar Tari Flobamora memiliki 8 orang anggota dan berlokasi di Kecamatan Samboja Barat. Dalam perjalanannya, sanggar ini menghadapi berbagai tantangan, terutama soal pendanaan,
"Tantangan paling utama itu dana. Selain itu, karena setiap anggota punya karakter dan ide masing-masing, kadang terjadi perbedaan pendapat saat latihan," imbuhnya.
Mengenai dukungan dari pemerintah setempat, hingga kini belum ada bantuan secara langsung. Dukungan yang diterima masih sebatas apresiasi dari lingkungan sekitar seperti RT.
Meski begitu, ia berharap kepada pemerintah daerah agar lebih memperhatikan sanggar-sanggar seni yang ada di Kukar, khususnya yang membawa dan melestarikan budaya daerah lain.
"Di Kukar ini kan banyak suku. Banyak anak-anak yang lahir dan besar di sini, tapi mereka tetap ingin menunjukkan budaya dari kampung halamannya. Harapannya pemerintah bisa membantu lewat komunikasi dan dukungan dana," pungkasnya. (*zar)