• Jum'at, 01 Mei 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



‎‎Foto bersama Talk Show bertajuk "Transformasi Guru dan Tenaga Pendidik Samarinda", Jumat (21/11/2025).(Foto: Abi/KutaiRaya)


‎SAMARINDA, (KutaiRaya.com) : Memperingati Hari Guru Nasional (HGN) Tahun 2025, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Samarinda menggelar Talk Show bertajuk "Transformasi Guru dan Tenaga Pendidik Samarinda" di helat di Gelanggang Olahraga (GOR) Segiri, Jalan Kesuma Bangsa, Jumat (21/11/2025) Siang.

‎Kegiatan tersebut dihadiri Walikota Samarinda Andi Harun, Direktur Pendidikan Profesi Guru (PPG) Dirjen PAUD Dikdasmen Ferry Maulana Putra, DPRD Samarinda, TWAP, Dewan Pendidikan, Komnasdik, Bapperida Litbang, BKKPSDM, Bapperda, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Samarinda, BGTK Kaltim, camat se Kota Samarinda, IGI, pejabat Disdikbud Samarinda, serta ribuan guru mulai dari TK, SD, dan SMP se Kota Samarinda.

‎Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Samarinda, Asli Nuryadin menjelaskan, Hari Guru Nasional bukan sekadar menjadi seremoni tahunan, melainkan mendorong perubahan konkret dalam peningkatan kualitas dan profesionalisme guru Samarinda.

‎Asli mengungkapkan, program Pendidikan Profesi Guru (PPG) merupakan upaya penting untuk meningkatkan daya saing tenaga pendidik, sekaligus menjadi syarat untuk memperoleh sertifikasi pengajar di sekolah.

‎"Kegiatan ini adalah rangkaian peringatan Hari Guru Nasional. Kami berharap, para guru semakin bersemangat menjalankan tugasnya serta bersedia mengikuti PPG untuk memperoleh sertifikasi," ujarnya.

‎Dalam pemaparannya, Asli mengungkapkan, data yang cukup signifikan terkait kondisi tenaga pendidik di Samarinda. Dari total 4.479 guru yang berstatus ASN/PPPK, baru 2.770 guru yang menerima Tunjangan Profesi Guru (TPG), sehingga masih terdapat 1.709 guru yang belum tersertifikasi. Pada kategori non-ASN/PPPK, hanya 417 dari 3.143 guru yang menerima TPG, sementara 2.726 guru belum menerima.

‎Kadisdikbud itu juga menyoroti tingginya kebutuhan guru negeri yang masih kurang 382 personel baik di tingkat TK, SD, maupun SMP, sehingga transformasi GTK menurutnya bukan hanya menyangkut kompetensi tetapi juga pemerataan sumber daya pendidik.

‎Dalam kesempatan yang sama, Direktur Pendidikan Profesi Guru (PPG) Dirjen GTK Kemendikdasmen Ferry Maulana Putra, juga memaparkan komitmen pemerintah pusat untuk memperluas dan memudahkan akses program PPG bagi guru yang telah memenuhi kriteria.

‎Ia menekankan, seluruh pembiayaan PPG ditanggung negara, sehingga tidak ada alasan administratif maupun finansial bagi guru untuk menunda peningkatan kompetensi kemampuan profesionalnya dalam mengajar.

‎"PPG ini gratis, dibayarin pemerintah, tidak ada yang bayar. Kalau ada yang sudah senior tapi belum ikut, tolong dibantu dan jangan sampai tertinggal," ucapnya kepada seluruh guru yang hadir.

‎Dalam agenda tersebut, ia juga menyebutkan beberapa program prioritas yang sedang dilakukan berdasarkan kolaborasi Pemerintah dengan masyarakat tentang redistribusi Guru ASN pada Sekolah Swasta, Pasca terbitnya PERMENDIKDASMEN /2025.

‎Program Prioritas KEMENDIKDASMEN yang berkaitan dengan guru ialah, peningkatan kualifilasi, kompentesi, dan kesejahteraan guru, peningkatan kualifikasi S1/D4, pelatihan kompetensi guru serta peningkatan kesejahteraan  melalui sertifikasi.

‎Program Prioritas Ditjen GTKPG terdiri dari Program Pendidikan Kepemimpinan Kepemimpinan Sekolah, Pemetaan GTK (ASN PPPK), Pengelolaan Kinerja, Afirmasi Kualifikasi S1/D4, Pendidikan Profesi Guru (PPG), Program PKG Bimbingan dan Konseling, Program PKG Bahasa Inggris, Program PKG Literasi, Karir GTK dan GPK Inklusif (Anak Kesulitan Belajar).

‎Ferry juga mengingatkan, bahwa sertifikasi pendidik akan menjadi elemen penting dalam rekrutmen guru di masa mendatang, sehingga guru yang tidak mengikuti PPG berpotensi tertinggal dalam sistem karier.

‎Ia pun mengungkapkan, untuk seleksi administrasi untuk PPG masih dibuka hingga akhir tahun dan menginformasikan bahwa hingga saat ini terdapat 2.440 guru yang sudah melakukan lapor diri di LPTK. Ia menilai, peningkatan kompetensi, kualifikasi akademik, dan kesejahteraan merupakan prioritas nasional yang tidak dapat ditawar dalam upaya mewujudkan tenaga pendidik profesional dan berdaya saing.

‎Di sisi lain, Walikota Samarinda Andi Harun menuturkan, keberhasilan transformasi pendidikan daerah bertumpu pada kesiapan guru untuk bertransformasi sejalan dengan perkembangan sosial, teknologi, dan karakter peserta didik generasi digital.

‎Ia menjelaskan, perubahan kurikulum dan sarana pendidikan tidak akan menghasilkan peningkatan kualitas pembelajaran apabila tenaga pendidiknya tidak ikut berubah dalam cara berpikir, cara mengajar, dan cara beradaptasi dengan teknologi.

‎"Guru dan tenaga kependidikan adalah aktor paling menentukan perubahan sistem pendidikan. Guru harus meninggalkan fixed mindset dan beralih ke pola pikir bertumbuh," tegasnya.

‎Orang nomor satu Samarinda itu menegaskan, kemampuan literasi teknologi bukanlah pilihan sekunder, melainkan menjadi syarat dasar untuk memastikan pembelajaran bagi pelajar generasi digital yang menuntut proses belajar cepat, interaktif, kreatif, dan menyenangkan dapat dicapai.

‎Transformasi GTK, menurut Walikota, identik dengan transformasi kualitas pendidikan Kota Samarinda, sehingga tanpa perubahan di tingkat pendidik, tujuan peningkatan mutu pendidikan mustahil terwujud.

‎"Jadi sebenarnya kalau kita bicara secara singkat tema ini setidak-tidaknya GTK itu butuh tiga transformasi. Pertama adalah transformasi pola pikir. Yang kedua, transformasi metode dan teknologi. Dan yang ketiga, transformasi kolaborasi dan budaya," pungkasnya. (*Abi)



Pasang Iklan
Top