• Senin, 19 Oktober 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Kepiting kaltim yang di ekspor ke luar negeri.(Foto: Yudi/KutaiRaya.com)


SAMARINDA, (KutaiRaya.com) : Komoditas kepiting hidup asal Kalimantan Timur (Kaltim) terus menunjukkan daya saing di pasar ekspor. Sepanjang September 2026, hasil perikanan dari kawasan pesisir tersebut berhasil mencatatkan nilai perdagangan internasional sebesar Rp13,44 miliar dengan total pengiriman mencapai 85,86 ton.

Capaian itu menempatkan kepiting hidup sebagai salah satu komoditas andalan sektor perikanan Kaltim, sekaligus menjadi penyumbang nilai ekspor terbesar kedua setelah udang windu beku.

Kepala Bidang Perikanan Budidaya dan Penguatan Daya Saing Produk Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kaltim, Irma Listiawati, mengungkapkan, tingginya minat pembeli luar negeri menjadi faktor penting yang menopang perdagangan kepiting hidup dari daerah tersebut.

Menurutnya, permintaan terhadap kepiting yang berasal dari perairan pesisir Kaltim relatif terjaga, sehingga komoditas ini memiliki peluang besar untuk terus dikembangkan.

"Minat pasar luar negeri terhadap kepiting hidup dari wilayah pesisir Kalimantan Timur masih sangat besar, dengan tingkat permintaan yang cenderung stabil," ujarnya, Senin (19/10/26).

Ia menjelaskan, terdapat tiga negara yang selama ini menjadi tujuan utama pengiriman kepiting hidup dari Kaltim, yakni China, Malaysia, dan Singapura.

Ketiga negara tersebut menjadi pasar internasional yang secara konsisten menyerap hasil tangkapan maupun produksi kepiting dari wilayah pesisir Kaltim.

Berdasarkan data Balai Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan (BP2MHKP) Balikpapan, total ekspor produk perikanan Kaltim selama September 2026 mencapai 360,32 ton dengan nilai transaksi sebesar Rp65,39 miliar.

Dari keseluruhan nilai tersebut, udang windu beku masih mendominasi dengan kontribusi mencapai Rp35,14 miliar. Sementara itu, kepiting hidup berada di urutan berikutnya dengan nilai Rp13,44 miliar.

Selain kedua komoditas tersebut, sejumlah produk perikanan lainnya juga memberikan kontribusi terhadap perdagangan ekspor daerah.

Udang pink beku, misalnya, mencatatkan nilai ekspor sebesar Rp10,40 miliar, disusul udang putih beku senilai Rp2 miliar.

Sementara pada komoditas ikan, bawal segar menghasilkan nilai ekspor Rp1,55 miliar dan kerapu segar sebesar Rp1,04 miliar.

Beragamnya produk perikanan yang berhasil menembus pasar internasional tersebut menunjukkan potensi sumber daya kelautan Kaltim dalam mendukung aktivitas perdagangan luar negeri.

Meski demikian, ia mengingatkan keberlanjutan ekspor sangat bergantung pada kemampuan pelaku usaha dalam mempertahankan kualitas produk.

Standar mutu, kebersihan, dan penanganan hasil perikanan menjadi aspek penting yang harus diperhatikan agar produk asal Kaltim tetap dipercaya konsumen internasional.

Karena itu, DKP Kaltim terus berupaya memperkuat daya saing produk perikanan sekaligus membuka peluang pemasaran yang lebih luas ke berbagai negara.

Langkah tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan nilai ekspor daerah, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi nelayan, pembudidaya, serta masyarakat yang menggantungkan penghidupan pada sektor perikanan pesisir.

Dengan permintaan pasar yang masih terjaga, kepiting hidup dinilai memiliki prospek untuk terus menjadi salah satu komoditas unggulan ekspor perikanan Kalimantan Timur. (*Yud)



Pasang Iklan
Top