• Kamis, 15 Oktober 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Antrean SPBU Pesut waktu siang, Kamis (15/10/2026).(Foto: Achmad Nizar/KutaiRaya.com)


TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Antrean kendaraan untuk mendapatkan BBM jenis Pertalite di SPBU Jalan Pesut, Kecamatan Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar), semakin panjang hingga mengular ke badan jalan.

Kondisi ini diduga dipicu selisih harga Pertamax dan Pertalite yang semakin lebar, sementara pasokan Pertalite di SPBU tersebut masih terbatas.

Pengawas SPBU Jalan Pesut, Andhika Triantama Saputra mengatakan, antrean mulai semakin tidak normal sejak harga BBM nonsubsidi mengalami kenaikan.

Selisih harga yang mencapai sekitar Rp 6.000 per liter membuat sejumlah pengendara yang sebelumnya menggunakan Pertamax beralih membeli Pertalite.

"Dulu saat selisih harganya masih sekitar Rp 2.000 sampai Rp 3.000 per liter, pengguna kendaraan masih banyak yang mau membeli Pertamax. Sekarang selisihnya sudah jauh, sehingga banyak yang memilih Pertalite," ujar Andhika kepada KutaiRaya.com, Kamis (15/10/2026).

Menurutnya, peralihan tersebut terlihat dari jenis kendaraan yang kini ikut mengantre untuk mendapatkan Pertalite.

Sejumlah mobil yang sebelumnya menggunakan BBM nonsubsidi juga mulai terlihat mengisi BBM bersubsidi.

Ia menilai perubahan pilihan konsumen tersebut ikut meningkatkan jumlah kendaraan yang mengantre.

Sementara itu, pasokan Pertalite yang diterima SPBU Jalan Pesut belum mengalami penambahan dan masih sekitar 16 kiloliter (KL) per hari.

"Kuota kami masih 16 KL per hari. Biasanya dibagi menjadi dua pengiriman, masing-masing sekitar 8 KL untuk pagi dan siang. Sementara pengguna Pertalite semakin banyak, jadi antreannya ikut bertambah," ujarnya.

Ia menyebutkan, waktu kedatangan mobil tangki tidak selalu sama.

Pengiriman kadang-kadang tiba pukul 07.00 atau 08.00 WITA, tetapi pada hari tertentu baru datang sekitar pukul 09.00 hingga 10.00 WITA, bergantung pada jadwal pengiriman dari depot.

Akibatnya, kendaraan seringkali sudah mengantre sejak subuh, bahkan sebelum mobil tangki tiba.

Ketika proses pembongkaran BBM berlangsung, pelayanan pengisian harus dihentikan sementara untuk memastikan keamanan area SPBU.

"Setelah selesai, pelayanan baru dibuka lagi. Jadi, antrean yang sudah panjang harus menunggu sampai pengisian bisa dilanjutkan," ujarnya.

Ia berharap pasokan Pertalite dapat ditambah untuk mengimbangi tingginya permintaan masyarakat.

Menurutnya, penambahan pasokan hingga sekitar 24 KL per hari dapat menjadi salah satu upaya untuk membantu mengurangi antrean.

"Sebab, dengan kuota 16 KL sekarang, permintaan masyarakat cukup tinggi," katanya.

Selain persoalan pasokan dan harga, antrean panjang juga berdampak terhadap arus lalu lintas di sekitar SPBU.

Kendaraan yang mengantre terkadang memenuhi badan jalan sehingga mengganggu pengguna jalan lainnya.

Ia mengemukakan, untuk sementara pihak SPBU mengatur antrean secara mandiri.

Hingga saat ini, belum ada koordinasi langsung dengan Dinas Perhubungan (Dishub) terkait pengaturan lalu lintas di sekitar lokasi.

Ia menuturkan, sebelumnya sempat ada rencana pertemuan dengan pengelola SPBU se Tenggarong untuk membahas persoalan antrean.

Namun, agenda tersebut ditunda sehingga belum ada tindak lanjut di lapangan.

Di tengah kondisi tersebut, pihak SPBU juga menerima keluhan dari masyarakat.

Sebagian pengendara mengeluhkan lamanya waktu menunggu, sedangkan lainnya mempertanyakan ketentuan pembelian BBM menggunakan jeriken.

Ia berharap persoalan antrean panjang dapat segera ditangani melalui penyesuaian pasokan dan koordinasi dengan instansi terkait.

Sehingga pelayanan BBM dapat berjalan lebih lancar tanpa terus mengganggu arus lalu lintas di kawasan Jalan Pesut.

Sementara itu, salah satu warga yang ikut mengantre di SPBU Jalan Pesut, Hendra mengatakan, selisih harga BBM menjadi salah satu pertimbangannya dalam memilih jenis bahan bakar.

Ia berharap pasokan Pertalite dapat ditambah agar antrean tidak terlalu panjang dan waktu menunggu pengisian bisa lebih singkat.

"Sekarang selisih harga Pertamax dan Pertalite cukup jauh, jadi tentu kami mempertimbangkan pengeluaran. Tapi kalau antreannya panjang seperti ini, kami juga harus meluangkan waktu lebih lama. Harapannya, pasokan bisa ditambah supaya antrean lebih cepat terurai," ucapnya. (*Zar)



Pasang Iklan
Top