
Wakil Wali Kota Balikpapan, Bagus Susetyo, pada pembukaan Audisi/Casting Film Dayak Kolosal serta Expo Budaya dan Workshop Seni Pertunjukan BSCC/Dome Balikpapan, Selasa (12/10/2026).(Foto: Sulastri/KutaiRaya.com)
BALIKPAPAN, (KutaiRaya.com): Kota Balikpapan menjadi kota pertama dalam rangkaian pencarian bakat untuk produksi Film Dayak Kolosal. Kegiatan yang berlangsung pada 12–16 Oktober 2026 ini tidak hanya membuka kesempatan bagi talenta lokal untuk terjun ke industri perfilman, tetapi juga menghadirkan pameran UMKM dan kerajinan tradisional sebagai upaya memperkuat ekonomi berbasis budaya.
Mengusung tema Rawat Budaya, Ekonomi Rakyat Kuat, kegiatan tersebut mendapat apresiasi dari Wakil Wali Kota Balikpapan, Bagus Susetyo.
Menurutnya, pengembangan budaya perlu berjalan beriringan dengan pemberdayaan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
“Atas nama Pemerintah Kota Balikpapan, kami memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas inisiatif tim produksi Film Dayak. Tema ini sangat relevan dengan visi pembangunan daerah saat ini,” ujarnya, pada pembukaan Audisi/Casting Film Dayak Kolosal serta Expo Budaya dan Workshop Seni Pertunjukan BSCC/Dome Balikpapan, Selasa (12/10/2026).
Bagus menilai budaya tidak sekadar menjadi warisan masa lalu, tetapi juga merupakan modal budaya atau cultural capital yang dapat menggerakkan ekonomi kreatif masyarakat.
Karena itu, kegiatan kebudayaan diharapkan tidak berhenti pada seremoni. Lebih dari itu, kegiatan tersebut perlu memberikan dampak nyata bagi pelaku UMKM agar mampu meningkatkan kualitas produk, memperluas pasar, dan berkembang menjadi wirausaha mandiri.
Menurutnya, kerajinan tradisional, wastra, dan kuliner khas daerah perlu mendapat ruang promosi yang lebih luas, seiring berkembangnya Kalimantan sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru.
“Ini langkah konkret untuk menaikkan kelas produk lokal sekaligus menggabungkan seni pertunjukan dengan ekonomi kerakyatan,” katanya.
Bagus juga menyambut positif rencana produksi Film Dayak Kolosal yang dinilai dapat menjadi sarana untuk mendokumentasikan kekayaan tradisi, kearifan lokal, serta sejarah masyarakat Dayak.
Melalui film tersebut, identitas budaya Kalimantan diharapkan semakin dikenal, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Industri perfilman, lanjutnya, juga dapat membuka peluang bagi generasi muda Kalimantan, khususnya Balikpapan dan daerah lainnya, untuk mengembangkan bakat serta menunjukkan kemampuan di bidang seni peran.
Ia berharap peserta audisi yang terpilih nantinya dapat berkiprah di industri perfilman nasional dan membawa nama baik Balikpapan serta Kalimantan Timur.
Bagus turut menyampaikan harapan agar Balikpapan ke depan memiliki museum budaya yang dapat menjadi ruang pelestarian nilai-nilai tradisi dan sejarah. Upaya tersebut dinilai penting untuk menjaga keberadaan situs serta peninggalan budaya di Balikpapan dan Kalimantan Timur.
Ia juga menyoroti kehadiran peserta dari berbagai daerah yang menunjukkan bahwa budaya Dayak memiliki daya tarik untuk mempertemukan masyarakat lintas wilayah.
Bagus berharap sinergi antara lembaga adat, pelaku industri kreatif, UMKM, dan pemerintah, termasuk Kementerian Kebudayaan RI, dapat terus diperkuat agar pelestarian budaya Nusantara berjalan berkelanjutan.
Sementara itu, Ketua Panitia, Agus Samat, mengatakan Balikpapan menjadi kota pertama dalam rangkaian open casting atau audisi terbuka untuk Film Dayak Kolosal.
Setelah pelaksanaan di Balikpapan, tim produksi berencana melanjutkan pencarian calon aktor dan aktris ke sejumlah daerah lain, di antaranya Tarakan dan Kalimantan Barat, serta wilayah pendukung lainnya.
Agus mengaku terharu melihat antusiasme masyarakat, tokoh adat, paguyuban, dan dukungan Pemerintah Kota Balikpapan terhadap kegiatan tersebut.
Ia juga menyampaikan apresiasi atas kehadiran aktor senior Indonesia, Piet Pagau. Keterlibatan sosok berpengalaman di dunia perfilman itu, menurutnya, menjadi bagian dari keseriusan tim produksi dalam mempersiapkan film tersebut.
Agus berharap Film Dayak Kolosal tidak hanya dinikmati masyarakat Indonesia, tetapi juga mampu menjangkau penonton internasional.
“Kita ingin menunjukkan kepada dunia keindahan, kedalaman, dan kemegahan budaya Dayak. Semoga melalui karya ini, kebudayaan dan sejarah suku Dayak terus lestari dan menjadi kebanggaan bangsa Indonesia,” ujarnya.
Melalui rangkaian audisi dan pameran UMKM tersebut, panitia berharap pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan pengembangan industri kreatif serta peningkatan peluang ekonomi bagi masyarakat. (Las)