
Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Ismed Kusasih. Senin (12/10/2026).(Foto: Abi/KutaiRaya.com)
SAMARINDA, (KutaiRaya.com): Jumlah kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kota Samarinda mencapai 12.819 kasus sepanjang September 2026.
Meskipun mengalami peningkatan dibandingkan bulan sebelumnya, Dinas Kesehatan (Dinkes) Samarinda menyebutkan kondisi tersebut masih terkendali.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Ismed Kusasih menjelaskan, peningkatan kasus ISPA pada September berada di kisaran 20 persen dibandingkan Agustus.
Kendati demikian, perkembangan tersebut belum diikuti lonjakan signifikan pasien dengan gangguan pernapasan berat yang membutuhkan perawatan di rumah sakit.
“Kalau kasusnya meningkat, dibandingkan bulan sebelumnya memang ada kenaikan sekitar 20 persen. Namun, kondisi ini masih sangat terkendali,” ujar Ismed, Senin (12/10/2026).
Berdasarkan catatan Dinkes Samarinda, kasus ISPA pada Juli 2026 mencapai 8.610 kasus.
Jumlah ini meningkat menjadi 10.681 kasus pada Agustus, sebelum kembali bertambah menjadi 12.819 kasus pada September.
Sementara itu, pada periode 1–8 Oktober 2026, tercatat sebanyak 3.092 kasus.
Perkembangan data tersebut menjadi perhatian Dinkes untuk memantau situasi kesehatan masyarakat, khususnya di tengah kondisi kualitas udara yang dapat memengaruhi kesehatan saluran pernapasan.
Dinkes Samarinda terus memantau perkembangan kasus melalui fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk puskesmas dan rumah sakit.
Pemantauan dilakukan untuk mengetahui tingkat keparahan penyakit, sekaligus memastikan masyarakat memperoleh penanganan yang sesuai.
Ismed mengemukakan, berdasarkan laporan yang diterima, belum terlihat peningkatan signifikan pada kasus ISPA berat yang memerlukan perawatan di rumah sakit.
“Dari data RSUD Inche Abdoel Moeis, kasus ISPA yang dirawat tidak menunjukkan peningkatan signifikan. Artinya, sebagian besar kasus masih bisa ditangani di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama,” tuturnya.
Selain memantau RSUD Inche Abdoel Moeis, Dinkes juga mengawasi perkembangan kasus di 14 rumah sakit lainnya.
Langkah ini dilakukan untuk memperoleh gambaran yang lebih menyeluruh mengenai kondisi pasien ISPA di Samarinda.
Di tengah peningkatan kasus ISPA, masyarakat diminta menjaga kesehatan dan mengurangi paparan polusi udara.
Penggunaan masker saat beraktivitas di luar ruangan menjadi salah satu langkah pencegahan, terutama ketika kondisi udara sedang memburuk.
Kelompok rentan, seperti bayi, balita, anak-anak, dan ibu hamil, juga diimbau membatasi aktivitas di luar rumah apabila kualitas udara tidak sehat.
Dinkes turut berkoordinasi dengan pihak sekolah mengenai penyesuaian kegiatan belajar, termasuk penerapan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) secara parsial berdasarkan kondisi kualitas udara di wilayah masing-masing.
Ismed menjelaskan, kondisi udara di Samarinda tidak selalu sama pada setiap kecamatan.
Karena itu, penyesuaian kegiatan belajar dilakukan dengan mempertimbangkan situasi di lapangan.
“Dalam beberapa hari terakhir, hanya dua kecamatan yang menerapkan PJJ,” ucapnya.
Dinkes mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan gejala gangguan pernapasan, terlebih jika keluhan semakin berat.
Pemantauan melalui fasilitas kesehatan akan terus dilakukan untuk mengantisipasi perkembangan kasus, sekaligus menjaga agar pelayanan kesehatan tetap optimal. (Abi)