• Senin, 19 Oktober 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan, Djoko Sumardiono saat menyampaikan secara daring.(Foto: Tangkapan Layar/Yudi/KutaiRaya.com)


SAMARINDA, (KutaiRaya.com) : Fenomena El Nino dengan intensitas sangat kuat yang terjadi sepanjang 2026 diperkirakan masih akan memengaruhi kondisi iklim di Kalimantan Timur (Kaltim) hingga tahun depan. Dampaknya tidak hanya memperpanjang musim kemarau, tetapi juga berpotensi membuat periode musim hujan 2026/2027 berlangsung lebih singkat.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat, pemerintah daerah, serta sejumlah sektor terkait agar mulai menyiapkan langkah antisipasi terhadap perubahan pola musim dan potensi bencana hidrometeorologi.

Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan, Djoko Sumardiono, mengungkapkan bahwa kekuatan El Nino tahun ini tergolong sangat tinggi.

Berdasarkan hasil pemantauan pada 3 September 2026, indeks El Nino tercatat menyentuh angka 3,44. Sementara itu, indeks rata-rata bulanan berada pada level 2,77.

Menurutnya, tingginya indeks tersebut menjadi salah satu indikator yang menjelaskan mengapa musim kemarau di sejumlah wilayah Kaltim berlangsung lebih lama dibandingkan kondisi normal.

“Pengaruh El Nino saat ini sudah cukup terasa, salah satunya melalui musim kemarau yang lebih panjang di Kalimantan Timur. Namun, kondisi tersebut tidak berarti fenomena El Nino akan segera berakhir,” ujar Djoko dalam pemaparan prakiraan musim hujan 2026/2027 secara virtual, Senin (12/10/2026).

Ia menjelaskan, berdasarkan hasil prediksi dari 17 lembaga internasional yang melakukan pemantauan iklim, El Nino diperkirakan masih bertahan hingga 2027.

Fenomena tersebut diproyeksikan berangsur melemah dan kembali menuju kondisi normal pada pertengahan tahun depan, yakni sekitar Mei hingga Juli 2027.

Situasi ini turut memengaruhi prakiraan musim hujan 2026/2027 di Kaltim. BMKG memperkirakan durasi musim hujan akan lebih pendek, meskipun sifat hujan secara umum masih berada pada kategori normal.

Djoko menilai, kondisi tersebut harus menjadi perhatian serius, khususnya bagi sektor pertanian yang sangat bergantung pada ketersediaan air dan ketepatan waktu tanam.

Para petani diharapkan tidak hanya berpatokan pada kebiasaan musim sebelumnya, tetapi mulai mempertimbangkan informasi iklim terbaru untuk menentukan komoditas dan jadwal penanaman.

“Apabila musim hujan diperkirakan berlangsung hanya tiga hingga empat bulan, tentu jenis tanaman yang akan dibudidayakan perlu disesuaikan. Informasi mengenai awal musim hujan menjadi penting agar perencanaan pertanian bisa dilakukan dengan lebih tepat,” jelasnya.

Selain berdampak pada aktivitas pertanian, perubahan pola musim juga menuntut peningkatan kesiapsiagaan terhadap ancaman bencana hidrometeorologi.

BMKG meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama instansi terkait memperkuat koordinasi, menyiapkan langkah mitigasi, serta meningkatkan penyampaian informasi peringatan dini kepada masyarakat.

Ia menyebutkan, sejumlah ancaman yang perlu diantisipasi meliputi banjir, tanah longsor, hingga banjir rob yang berpotensi terjadi di kawasan pesisir.

Sementara itu, hujan dengan intensitas tinggi juga dapat meningkatkan risiko banjir bandang, terutama pada wilayah yang memiliki karakteristik geografis rentan.

Tidak hanya itu, masa peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan berpotensi disertai peningkatan kejadian angin kencang.

Menurutnya, kondisi tersebut berkaitan dengan perubahan sirkulasi atmosfer secara regional, termasuk pergeseran pola pergerakan massa udara dari Monsun Australia menuju Monsun Asia.

Perubahan tersebut turut menentukan dinamika cuaca serta waktu masuknya musim hujan di berbagai daerah.

Djoko mengungkapkan, sebagian wilayah Kaltim diperkirakan mengalami keterlambatan awal musim hujan. Karena itu, seluruh pihak diminta tidak mengabaikan informasi prakiraan iklim yang diterbitkan BMKG.

Ia menekankan pentingnya pemanfaatan data cuaca dan iklim sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun kebijakan, terutama pada sektor yang rentan terhadap perubahan musim.

“Prakiraan BMKG mengenai awal musim hujan maupun kemarau sebaiknya dijadikan salah satu acuan dalam menyusun rencana dan menentukan langkah di berbagai sektor. Dengan begitu, potensi dampak perubahan musim dapat diantisipasi lebih awal,” pungkasnya. (*Yud)



Pasang Iklan
Top