
Kepala Dispora Kukar, Aji Ali Husni, Rabu (7/10/2026).(Foto: Achmad Nizar/KutaiRaya.com)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Isu pembatasan usia maksimal 30 tahun bagi atlet yang berlaga di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kalimantan Timur (Kaltim) menjadi perhatian bagi masing-masing daerah.
Hal ini juga dirasakan oleh Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), pasalnya sejumlah cabang olahraga telah mempersiapkan atlet berdasarkan hasil Babak Kualifikasi (BK) Porprov yang sebelumnya tidak menerapkan batasan usia tersebut.
Kepala Dispora Kukar, Aji Ali Husni mengatakan, persoalan batas usia tersebut masih dalam pembahasan.
Pihaknya menerima informasi dari provinsi mengenai ketentuan usia maksimal 30 tahun, tetapi masih berharap hasil BK Porprov menjadi acuan untuk menentukan atlet yang berhak tampil pada ajang olahraga tingkat provinsi tersebut.
"Ini masih didiskusikan. Memang dari provinsi hari ini menyampaikan bahwa batasnya maksimal 30 tahun. Namun, teman-teman di kabupaten berkoordinasi dengan pengurus provinsi karena menurut informasi yang kami dengar, sebelumnya pernah ada kesepakatan berbeda untuk Porprov mendatang," kata Aji Ali Husni, Rabu (7/10/2026).
Menurutnya, BK Porprov sebelumnya dilaksanakan tanpa pembatasan usia 30 tahun.
Karena itu, sejumlah cabang olahraga telah memilih atlet berdasarkan hasil kualifikasi tersebut dan melanjutkan persiapan untuk menghadapi Porprov.
Kondisi ini membuat kemungkinan perubahan aturan menjadi perhatian tersendiri bagi daerah.
Apalagi, persiapan atlet dan pelatih sudah berjalan, sedangkan waktu menuju pertandingan semakin dekat.
Ia menilai, jika ketentuan batas usia diberlakukan setelah proses kualifikasi selesai, hal tersebut berpotensi memengaruhi kesiapan atlet di sejumlah cabang olahraga.
"Harapan kami, apa yang sudah dilakukan melalui BK dan hasil yang diperoleh itu menjadi acuan untuk mereka ikut di Porprov. Sejauh ini seluruh cabor mengacu kepada hasil BK Porprov," ujarnya.
Ia mencontohkan cabang olahraga gateball yang banyak diikuti atlet berusia di atas 30 tahun.
Sebagian besar atletnya merupakan Pegawai Negeri Sipil (PNS), sehingga penerapan batas usia berpotensi berdampak pada komposisi tim yang telah dipersiapkan.
Menurutnya, persoalan ini tidak hanya dirasakan Kukar.
Ia juga mendengar adanya keluhan dari sejumlah kabupaten dan kota lain terkait informasi pembatasan usia tersebut.
Ia berharap pemerintah provinsi bersama pihak terkait segera menyampaikan keputusan resmi agar seluruh daerah memiliki kepastian dalam mempersiapkan atlet.
"Kami berharap keputusan ini diambil secara bijak. Kalau memang sudah menjadi keputusan, segera sampaikan kepada kami di kabupaten dan kota, sehingga apapun hasilnya bisa kami persiapkan untuk mengikuti aturan tersebut," tuturnya.
Sementara itu, cabor Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (GABSI) Kukar, yang saat ini mayoritas atletnya di atas U-30 justru memiliki pendapat yang berbeda.
Koordinator Bidang Prestasi GABSI Kukar, Junair Baihaki mengatakan, pembahasan mengenai komposisi atlet berdasarkan usia juga telah dilakukan dalam rapat kerja yang diikuti pengurus GABSI dari 10 kabupaten dan kota di Kaltim.
Dalam pembahasan tersebut, ada kesepakatan mengenai keterwakilan atlet berusia di bawah 30 tahun sebanyak 40 persen.
Ketentuan ini menjadi bagian dari pembahasan komposisi atlet bridge untuk Porprov.
Namun, ia menyebut Kukar justru menargetkan komposisi atlet muda yang lebih besar.
Dari tim yang dipersiapkan, Kukar menargetkan sekitar 60 persen atlet berusia di bawah 30 tahun.
"Kalau untuk Kukar sendiri, kalau minimal 40 persen atlet U-30, kami justru menargetkan 60 persen yang dikirim adalah atlet di bawah usia 30 tahun," ujarnya.
Ia menegaskan, bagi cabang olahraga Bridge Kukar, komposisi tersebut bukan menjadi kendala.
Sebaliknya, kesempatan tampil di Porprov menjadi ruang bagi atlet muda untuk memperoleh pengalaman dan meningkatkan kemampuan melalui pertandingan tingkat provinsi.
Ia menyambut baik kesempatan bagi atlet muda untuk tampil dalam ajang tersebut.
Menurutnya, atlet membutuhkan lebih banyak pengalaman bertanding agar dapat berkembang dan bersaing pada level yang lebih tinggi.
"Untuk cabang bridge Kukar, itu tidak menjadi kendala. Malah kami bersyukur karena atlet-atlet muda bisa tampil dan punya jam terbang di event tertinggi olahraga provinsi. Mereka haus akan event dan pertandingan," ucapnya. (*Zar)