
Ilustrasi kebun pisang.(Foto: Ist/Yudi/KutaiRaya.com)
SAMARINDA, (KutaiRaya.com) : Sektor hortikultura Kalimantan Timur (Kaltim) menghadapi persoalan serius menyusul merosotnya produksi pisang akibat serangan penyakit tanaman. Dua penyakit yang menjadi ancaman utama adalah Fusarium dan layu bakteri, yang berdampak terhadap produktivitas perkebunan pisang di sejumlah wilayah.
Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Kaltim mencatat produksi pisang sepanjang 2025 mencapai sekitar 129 ribu ton. Namun, jumlah tersebut dilaporkan mengalami penurunan hingga sekitar 60 persen.
Kepala Bidang Produksi Hortikultura Dinas PTPH Kaltim, Kosasih mengungkapkan, kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah mengingat pisang selama ini termasuk komoditas unggulan yang diharapkan mampu menopang sektor hortikultura sekaligus perekonomian masyarakat.
"Produksi pisang kita pada 2025 mencapai sekitar 129 ribu ton. Namun, saat ini mengalami penurunan cukup tajam, yakni sekitar 60 persen," ujarnya, Jumat (9/10/26).
Menurutnya, penyebaran penyakit Fusarium menjadi salah satu penyebab utama merosotnya hasil panen. Serangan tersebut terutama ditemukan pada tanaman pisang varietas gerecek yang selama ini dibudidayakan petani.
Persoalan penyakit tanaman ini dinilai menjadi hambatan besar bagi pemerintah dalam mendorong peningkatan produksi pertanian. Pasalnya, upaya meningkatkan produktivitas belum sepenuhnya berjalan optimal ketika ancaman organisme pengganggu tanaman (OPT) masih terus terjadi.
"Kita terus didorong untuk meningkatkan produksi dan produktivitas hortikultura. Namun, persoalan yang selama ini membayangi adalah serangan penyakit pisang, terutama Fusarium dan layu bakteri," jelasnya.
Ia mengingatkan, apabila persoalan tersebut tidak segera ditangani, berbagai program pengembangan komoditas pisang yang telah direncanakan berpotensi tidak memberikan hasil maksimal.
Terlebih, pisang sebelumnya diproyeksikan menjadi salah satu komoditas pertanian yang memiliki peluang besar agar dikembangkan sebagai penggerak ekonomi daerah.
"Jangan sampai program maupun kegiatan yang sudah kita bangun justru hilang begitu saja karena kurangnya perhatian terhadap ancaman penyakit pada tanaman pisang," tegasnya.
Menghadapi kondisi tersebut, DPTPH Kaltim telah menjalankan sejumlah langkah penanganan. Upaya itu mencakup pengendalian OPT, peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM), penguatan produksi, serta penyediaan sarana dan prasarana pendukung pertanian.
Salah satu langkah yang telah direalisasikan adalah pembangunan infrastruktur double way atau jalur pengendalian penyakit di kawasan pertanaman pisang wilayah Golo dengan panjang mencapai 562 meter.
"Berbagai langkah penanganan sudah kita lakukan. Salah satunya melalui pembangunan double way di kawasan tanaman pisang dengan panjang kurang lebih 562 meter," terangnya.
Meski berbagai upaya telah ditempuh, Kosasih tidak menampik bahwa pengembangan komoditas pisang di Kaltim masih menghadapi tantangan. Penanganan penyakit tanaman membutuhkan langkah berkelanjutan agar produksi dapat kembali meningkat.
Karena itu, ia menilai keterlibatan petani dan pelaku usaha menjadi faktor penting dalam mendukung keberhasilan program pengembangan pertanian, khususnya dalam mengantisipasi penyebaran penyakit yang berpotensi menimbulkan kerugian produksi.
Menurutnya, pembangunan sektor pertanian tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah. Kolaborasi dengan seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan budidaya dan usaha pertanian perlu terus diperkuat.
"Sasaran pembangunan pertanian bukan hanya pemerintah, tetapi juga para pelaku utama dan pelaku usaha. Mereka adalah petani, termasuk petani pisang, hortikultura, tanaman pangan, peternakan hingga perkebunan," pungkasnya. (*Yud)