• Rabu, 07 Oktober 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Potret kebakaran hutan (Karhutla) di wilayah Pulau Atas baru-baru ini. Selasa (06/10/2026).(Foto: Abi/KutaiRaya.com)


SAMARINDA, (KutaiRaya.com): Upaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Samarinda menghadapi tantangan semakin berat.

Luas area terbakar kini mencapai 608,18 hektare (Ha), sementara dukungan helikopter water bombing sudah ditarik dari Kalimantan Timur.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda, Suwarso mengatakan, ratusan hektare lahan terbakar tersebut tersebar di sejumlah kecamatan.

Titik kebakaran tercatat berada di Sambutan, Palaran, Lempake, Kecamatan Samarinda Utara, hingga wilayah lainnya.

“Kurang lebih 608,18 hektare itu tersebar se-Kota Samarinda,” ujar Suwarso, Selasa (6/10/2026).

Menurutnya, angka tersebut merupakan akumulasi data sampai sehari sebelumnya.

Luasan kebakaran masih sangat mungkin berubah karena petugas terus melakukan pemadaman di sejumlah lokasi.

Salah satu wilayah yang menjadi perhatian utama adalah Pulau Atas, Kecamatan Sambutan.

Kawasan tersebut kembali mengalami kebakaran dalam beberapa hari terakhir.

Suwarso menyebutkan, sekitar 19 hektare lahan kembali terbakar dalam 3 hari terakhir.

Jika digabungkan dengan catatan sebelumnya sekitar 34 hektare, luas kebakaran di Pulau Atas diperkirakan sudah mencapai 53 hektare.

Meskipun demikian, BPBD sendiri belum menetapkan angka final.

“Tapi ini kan masih melakukan pemadaman terus, belum selesai. Nanti di terakhir baru kita ketahui berapa luasnya,” katanya.

Kondisi lahan menjadi salah satu alasan pemadaman berjalan tidak mudah.

Semak belukar yang mengering akibat kemarau menjadi bahan bakar alami bagi api.

Di beberapa bagian, petugas juga menemukan lapisan gambut serta material batu bara di bawah permukaan tanah.

Kondisi ini membuat api dapat bertahan di bawah permukaan dan kembali muncul, meskipun bagian atas terlihat sudah padam.

Persoalan lain muncul setelah helikopter water bombing yang sebelumnya membantu penanganan karhutla ditarik dari Kaltim.

Suwarso mengemukakan, helikopter tersebut sudah meninggalkan wilayah Kaltim sekitar 4 hari sebelum pernyataannya disampaikan.

Kebijakan itu merupakan keputusan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), setelah mempertimbangkan kondisi karhutla di sejumlah provinsi lain.

“Menurut keputusan dan penilaian dari BNPB, ada yang lebih parah kondisi kebakarannya selain di Kalimantan Timur,” tuturnya.

Kendati demikian, BPBD Samarinda tidak berhenti mengupayakan dukungan udara.

Komunikasi dengan koordinator water bombing masih dilakukan.

BPBD juga mengirimkan dokumentasi visual dari lokasi kebakaran yang sulit ditembus melalui jalur darat.

Data tersebut diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan untuk kembali mengerahkan helikopter ke Kaltim.

“Harapannya tentu bisa kembali membantu, terutama untuk titik-titik api yang tidak bisa kita jangkau dari darat,” kata Suwarso.

Jika kembali dikerahkan, helikopter direncanakan menggunakan Bandara APT Pranoto Samarinda sebagai titik pendaratan.

Untuk sementara, petugas hanya mengandalkan kekuatan personel di lapangan.

Relawan juga dilibatkan untuk masuk ke lokasi yang tidak bisa dijangkau kendaraan.

Keterbatasan akses membuat distribusi air menjadi pekerjaan tersendiri.

Petugas menggunakan water tank dengan pola estafet dari sumber air terdekat.

“Masih bertumpu dengan darat, sesuai kemampuan dibantu dengan relawan yang menjangkau titik-titik api terdalam,” ucap Suwarso.

Ia menjelaskan, air dari sungai harus terlebih dahulu disalurkan ke water tank.

Setelah itu, air kembali dipompa menuju titik api yang berada paling dekat dengan posisi tangki.

“Ada beberapa kegiatan yang akhirnya dibantu dengan water tank, diambil dari sungai yang harus disambung lagi ke water tank, baru disedot untuk menuju titik-titik api terdekat,” katanya.

Kondisi geografis di lokasi kebakaran menjadi tantangan terbesar bagi tim pemadam.

Banyak titik api berada jauh di dalam kawasan sehingga kendaraan pengangkut air tidak dapat mendekat.

Persoalan semakin berat karena tidak semua lokasi memiliki sumber air yang mudah dimanfaatkan.

“Medannya rata-rata di dalam, sulit dijangkau kendaraan yang menyuplai air. Terbatasnya sumber-sumber air yang bisa digunakan,” tutur Suwarso.

Ia menambahkan, sebagian lokasi juga memiliki medan yang curam.

Tanpa dukungan water bombing, titik api yang berada paling jauh menjadi semakin sulit ditangani.

“Medan sangat curam, kemudian belum ada bantuan water bombing, ini juga menjadi kendala kita dalam menjangkau titik api terdalam dan terjauh,” ujarnya.

Di tengah luasnya area yang terbakar, BPBD Samarinda memastikan pengawasan tetap dilakukan setiap hari.

Satgas Penanganan Kekeringan dan Karhutla disiagakan hingga pukul 16.00 WITA.

Setelah kegiatan pemadaman, petugas tetap melakukan pemantauan terhadap lokasi yang dinilai masih memiliki potensi api.

Prioritas diberikan kepada titik yang berpotensi mendekati permukiman warga.

“Kita lakukan pemantauan terus-menerus. Yang kira-kira berdampak besar terhadap pemukiman, itu yang harus kita jagai,” ujarnya.

Dengan luas karhutla yang telah menembus 608,18 hektare, persoalan di Samarinda kini bukan sekadar jumlah titik api.

Akses menuju lokasi, keterbatasan air, medan curam, serta belum adanya dukungan water bombing menjadi kombinasi yang membuat proses pemadaman berlangsung jauh lebih berat. (Abi)



Pasang Iklan
Top