
Hj. Zaidar seorang perempuan dengan umur 70 tahun yang membelakangi lokasi kebakaran, Selasa (6/10/2026).(Foto: Achmad Nizar/KutaiRaya.com)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Siang itu, kawasan Danau Aji, Jalan Alimudin, Kelurahan Melayu, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), masih terlihat tenang.
Aktivitas warga berjalan seperti biasa. Tak ada yang menyangka, beberapa jam kemudian suasana berubah menjadi kepanikan setelah kobaran api melahap puluhan rumah, Senin (5/10/2026) sore.
Teriakan warga bersahutan. Warga berusaha menyelamatkan diri dan membantu memadamkan api dengan berbagai cara.
Namun, kobaran api makin membesar dan hembusan angin membuat si jago merah dengan cepat merembet dari satu bangunan ke bangunan lainnya.
Dalam waktu sekitar 2 jam, kawasan permukiman padat penduduk itu berubah menjadi penuh kepanikan.
Rumah-rumah yang sebelumnya menjadi tempat warga beristirahat dan berkumpul, kini menyisakan puing-puing reruntuhan karena hangus terbakar.
Di antara sisa-sisa bangunan, warga masih terlihat membersihkan puing dan mencari barang yang mungkin masih bisa diselamatkan.
Sebagian warga lainnya memilih bertahan di posko pengungsian, sementara keluarga korban mulai mencari tempat tinggal sementara.
Bagi warga RT 33, kejadian tersebut menjadi kepanikan yang sulit dilupakan.
Ketua RT 33, Supriadi (70), menjadi salah seorang warga yang menyaksikan langsung bagaimana api mulai membesar dari belakang rumahnya.
"Saya tahunya sudah ada api menyala di belakang rumah. Begitu orang teriak-teriak, saya keluar rumah. Ternyata sudah mengepul persis di belakang rumah saya," tutur Supriadi kepada KutaiRaya.com, Selasa (6/10/2026).
Ia pertama kali melihat api sekitar pukul 16.30 WITA.
Api diketahui berasal dari sebuah rumah sewaan di belakang permukiman yang saat itu dalam keadaan kosong.
Dia mengaku tidak mengetahui pasti penyebab awal kebakaran.
Dalam kondisi panik, pikirannya hanya tertuju pada satu hal, yaitu menyelamatkan diri dan mengamankan barang-barang yang dianggap paling penting.
Surat-surat berharga, sertifikat, serta dokumen pribadi menjadi barang pertama yang ia selamatkan.
Sedangkan barang lainnya terpaksa ditinggalkan karena api semakin cepat membesar.
"Yang saya amankan dulu surat-surat, seperti sertifikat dan data pribadi. Yang lain tidak sempat," ucapnya.
Dia menyaksikan langsung, api berkobar sangat cepat.
Ia memperkirakan sekitar 10 hingga 20 menit setelah melihat api, petugas pemadam kebakaran mulai tiba di lokasi.
Kemudian petugas berjibaku melakukan pemadaman.
Namun, kondisi permukiman yang padat membuat penanganan kebakaran tidak mudah.
Hingga sekitar pukul 20.00 WITA, puluhan rumah di kawasan tersebut telah hangus terbakar dan menyisakan puing-puing.
Sebagai Ketua RT, ia menyebut ada sekitar 73 kepala keluarga dengan jumlah warga diperkirakan mencapai 150 jiwa.
Mayoritas bangunan di kawasan tersebut merupakan rumah kontrakan.
"Di belakang kontrakan, di depan juga kontrakan. Sebelah sana juga ada beberapa kontrakan yang terdampak," katanya.
Supriadi sendiri menjadi salah satu korban. Rumah yang selama ini ditempatinya bersama sang istri ikut hangus terbakar.
Untuk sementara, ia bersama istrinya tinggal di rumah anak mereka di kawasan Jalan Belida.
Kehilangan tempat tinggal tentu bukan hal mudah.
Namun, Supriadi berusaha menerima musibah tersebut dan berharap pemerintah dapat membantu warga yang terdampak untuk kembali menjalani kehidupan.
"Namanya musibah, sudah terjadi. Kita pasrah saja. Harapannya kalau bisa dibantu pemerintah. Walaupun tidak 100 persen, kami sangat berharap ada bantuan," ujarnya.
Kisah serupa juga dialami seorang perempuan yang tinggal bersama suaminya, Hj. Zaidar (70).
Sore itu, ia baru saja selesai memasak ketika mendengar teriakan anak-anak dari arah belakang rumah.
Kemudian dia melihat api sudah membubung tinggi di sekitar pepohonan dekat rumahnya.
Dalam hitungan waktu, ketenangan di rumah berubah menjadi kepanikan.
Suaminya berusaha menyelamatkan berkas-berkas penting dan memasukkannya ke dalam mobil.
Sedangkan Zaidar hanya sempat mengambil satu barang yang sangat berarti baginya, Al-Quran.
"Saya sudah tidak ingat apa-apa. Cuma ambil Al-Quran, dan baca Yasin, itu saja," katanya.
Ketika api semakin mendekat, dengan perasaan sedih, ia harus segera meninggalkan rumah.
Bahkan ia sempat dibantu warga untuk keluar karena kondisi di sekitar rumah semakin panas.
Sebagian besar barang miliknya tidak sempat diselamatkan.
Namun beruntungnya, beberapa dokumen penting, termasuk ijazah, masih berhasil diamankan.
Kini, dirinya untuk sementara tinggal bersama anaknya.
Di tengah kehilangan yang dialaminya, ia memilih untuk tetap kuat dan menerima kejadian tersebut sebagai musibah.
"Semua datangnya dari Allah, kembali kepada Allah," ujarnya.
Di balik musibah itu, ia juga tidak melupakan kepedulian warga dan pemerintah daerah.
Ia melihat banyak orang datang membawa makanan, tenaga, serta bantuan untuk membantu para korban.
Baginya, kepedulian tersebut menjadi penguat di tengah kondisi yang tidak mudah.
"Kami berterima kasih sekali kepada yang sudah menyumbangkan makanan, tenaga, dan membantu kami," tuturnya.
Kini, di antara puing-puing yang tersisa, warga Danau Aji perlahan mulai menata kembali kehidupan mereka.
Rumah mungkin telah hilang, barang-barang berharga tak semuanya bisa diselamatkan.
Namun, kepedulian warga yang datang membantu membuat harapan untuk bangkit tetap menyala.
Bagi Supriadi dan Zaidar, kehilangan itu memang tidak mudah.
Tetapi dari tengah puing-puing tersebut, mereka mencoba bangkit untuk menjalani kehidupan dengan apa yang masih tersisa. (*Zar)