• Senin, 19 Oktober 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud secara simbolis menyalurkan CPPD, di Aula Rumah Jabatan Wali Kota Balikpapan, pada hari Senin (5/10/2026).(Foto: Sulastri/KutaiRaya.com)


BALIKPAPAN, (KutaiRaya.com): Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan memperkuat penanganan stunting dengan mengarahkan Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD) sebagai instrumen intervensi gizi sejak masa kehamilan.

Langkah tersebut dilakukan setelah data Dinas Kesehatan Kota Balikpapan tahun 2025 mencatat sebanyak 1.483 anak teridentifikasi mengalami stunting. Selain itu, kasus ibu hamil dengan Kekurangan Energi Kronis (KEK) masih menjadi perhatian karena berisiko melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah yang dapat meningkatkan risiko stunting.

Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud mengatakan, penyaluran CPPD tahun 2026 tidak hanya ditujukan untuk menjaga ketahanan pangan, tetapi juga disinergikan dengan program percepatan penurunan stunting.

“Sasaran utama dari penyaluran CPPD kali ini adalah ibu hamil dengan kondisi Kekurangan Energi Kronis (KEK),” jelas Rahmad pada saat Penyaluran CPPD di Aula Rumah Jabatan Wali Kota Balikpapan, pada hari Senin (5/10/2026).

Menurutnya, pemenuhan gizi harus dilakukan sedini mungkin, bahkan sejak anak masih berada dalam kandungan. Karena itu, bantuan pangan diarahkan untuk mendukung kebutuhan gizi ibu hamil sehingga pertumbuhan janin dapat berlangsung optimal.

Dalam program tersebut, bantuan diberikan dalam bentuk beras CPPD dan ayam beku. Pemkot berharap bantuan tersebut dapat membantu memenuhi kebutuhan gizi ibu hamil sekaligus mendukung pencegahan stunting sejak periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

“Investasi kesehatan dan pemenuhan gizi harus dimulai sejak dini, bahkan sejak anak masih berada di dalam kandungan,” ujarnya.

Rahmad meminta seluruh organisasi perangkat daerah dan instansi terkait memastikan bantuan benar-benar diterima oleh kelompok sasaran.

“Evaluasi berkala harus tetap dilakukan agar intervensi yang kita berikan benar-benar memberikan dampak positif terhadap penurunan angka stunting di Balikpapan,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan ibu hamil penerima bantuan agar memanfaatkan pangan tersebut untuk pemenuhan gizi, menjaga kesehatan serta rutin memeriksakan kehamilan ke fasilitas kesehatan.

Rahmad menilai penanganan stunting tidak dapat dibebankan kepada satu instansi. Intervensi membutuhkan keterlibatan pemerintah, tenaga kesehatan, keluarga dan masyarakat.

“Penanganan stunting membutuhkan kerja sama kolektif dan komitmen bersama dari seluruh pemangku kepentingan. Mari kita tingkatkan sinergi dan perkuat koordinasi,” pungkasnya.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Balikpapan Sri Wahjuningsih menjelaskan, program CPPD 2026 menyasar dua kelompok utama, yakni anak bawah dua tahun (baduta) dengan gizi kurang dan ibu hamil KEK.

Total terdapat 521 penerima cadangan pangan (PCP) yang terdiri dari 109 baduta gizi kurang dan 412 ibu hamil KEK. Mereka tersebar di 27 Puskesmas dan 30 kelurahan di Kota Balikpapan.

Untuk bantuan beras, total alokasi mencapai 28.843,39 kilogram. Sementara bantuan ayam beku dialokasikan sebanyak 212 ekor dengan bobot rata-rata 1,8 kilogram per ekor.

“Penyaluran CPPD diprioritaskan secara khusus bagi Baduta Gizi Kurang dan Ibu Hamil KEK guna mengoptimalkan pemenuhan gizi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan,” jelas Yuyun sapaan akrab Sri Wahjuningsih.

Penentuan wilayah penerima juga dilakukan berdasarkan Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan atau Food Security and Vulnerability Atlas (FSVA) Kota Balikpapan. Pendekatan tersebut digunakan untuk memastikan intervensi diarahkan ke wilayah yang membutuhkan.

Penyaluran beras dilakukan secara bertahap. Tahap pertama pada 3 Agustus 2026 mencapai 10.420 kilogram untuk 521 penerima. Jumlah yang sama kembali disalurkan pada tahap kedua, 9 September 2026.

Adapun tahap ketiga berlangsung pada 5 dan 6 Oktober 2026 dengan sisa alokasi sebanyak 8.003,39 kilogram.

Pada 5 Oktober 2026, sebanyak 1.840 kilogram beras diserahkan secara simbolis kepada 100 ibu hamil KEK di Rumah Jabatan Wali Kota Balikpapan. Penyerahan tersebut juga disertai bantuan tambahan 100 ekor ayam beku dari Bidang Kehewanan dan Peternakan DKP3.

Selanjutnya, sisa bantuan beras sebanyak 6.163,39 kilogram disalurkan pada 6 Oktober 2026 ke 30 kelurahan.

Sementara untuk ayam beku, seluruh alokasi 212 ekor telah disalurkan pada 3 Agustus 2026 melalui 27 Puskesmas. Bantuan tersebut diberikan kepada 109 baduta gizi kurang dan 103 ibu hamil KEK.

Yuyun mengatakan, pada penyaluran tahap ketiga, sebagian bantuan juga diarahkan kepada wilayah yang masuk kategori rawan pangan berdasarkan FSVA.

Di antaranya Kelurahan Karang Joang, Baru Ulu, Teritip dan Kariangau. Dari sisa alokasi tersebut, sebanyak 7.750 kilogram beras diperuntukkan bagi 412 ibu hamil KEK dan 253,39 kilogram untuk 25 baduta di wilayah tertentu.

Menurut Yuyun, pendekatan tersebut dilakukan agar program cadangan pangan tidak hanya bersifat bantuan sosial, tetapi memiliki sasaran intervensi yang terukur berdasarkan kondisi penerima dan wilayah.

Untuk menjaga kualitas serta akuntabilitas bantuan, pengadaan komoditas dilakukan melalui mekanisme e-purchasing bekerja sama dengan Perum BULOG. Setiap komoditas diperiksa secara visual dan melalui uji sampling penimbangan di gudang penyedia sebelum didistribusikan.

Beras diserahkan melalui kantor kelurahan, sedangkan ayam beku didistribusikan melalui Puskesmas dan kader kesehatan. Penerima juga wajib menunjukkan KTP asli atau Kartu Keluarga serta menjalani verifikasi dokumentasi foto dengan teknologi geotagging. (Las)



Pasang Iklan
Top